Detail Article
Mekobalamin sebagai Penghambat yang Potensial dan Kuat dalam Replikasi Virus COVID-19, Benarkah?
dr. Lupita Wijaya
Agt 26
Share this article
2380b5074f90fd414c4021797cd8a1f3.jpg
Updated 25/Agt/2021 .

Lanjut usia (lansia) dan pasien diabetes melitus, yang terinfeksi COVID-19, lebih sering membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, dan berpotensi lebih tinggi mengalami kematian. Hal ini berkaitan erat dengan badai sitokin dan vaskulitis sistemik yang menyebabkan berbagai kejadian klinis mayor, sebagai varian dari komplikasi COVID-19, meliputi pneumonia atipikal, gagal napas, trombosis, gagal ginjal, penyakit serebrovaskuler, dan gagal multi organ.

Selain usia tua dan penyakit komorbid, penyebab lainnya yang meningkatkan komplikasi COVID-19 pada dewasa dan lansia adalah marker-marker imun yang abnormal, meliputi tingginya rasio CD4+ : CD8+, kadar sitokin pro-inflamatorik (misal: TNF-α), kadar D-dimer, dan kadar IFN-γ; dengan rendahnya jumlah sel T CD8+, dan jumlah limfosit.1

Sekitar 22% pasien diabetes melitus di dunia, terkonfirmasi defisiensi vitamin B12. Metformin, obat utama pada terapi diabetes, memiliki bukti kuat yang konsisten mengenai hubungannya dengan defisiensi B12, karena obat ini menghalangi penyerapan vitamin B12 di intestinal yang melibatkan kalsium. Studi pilot menunjukkan bahwa pada 56 pasien lansia dengan diabetes melitus, 43% di antaranya mengalami defisiensi B12 dan 75% nya memiliki hiperhomosisteinemia.1

Studi di Jepang menunjukkan bahwa 11 pasien defisiensi B12 (terutama lansia dan pasien diabetes) mengalami secara signifikan, peningkatan rasio CD4+:CD8+(p<0,05), penurunan fungsi sel NK (p<0,01) dan jumlah sel T CD8+ (p<0,01), serta limfopenia (p<0,01). Penurunan marker imun ini terperbaiki secara signifikan setelah 2 minggu pemberian mekobalamin 500 mcg/hari. Subjek sehat (kontrol dalam studi ini) juga memiliki profil imun (peningkatan sel limfosit termasuk T CD8+) lebih baik setelah pemberian B12 (p<0,05).1


Vitamin B12 adalah kofaktor utama dalam mengontrol kadar homosistein. Tanpa B12, asam folat dan vitamin B6 tidak dapat bekerja mengontrol homosistein. Homosistein tinggi adalah konsekuensi dari defisiensi B12 dan memicu peningkatan sel-sel pro-inflamatorik (IL-6, IL-8, TNF-α), kadar IFN-γ, dan kadar D-dimer melalui peningkatan trombosis, serta kerusakan paru meningkat. 1


Dalam peranan imunitas, vitamin B12 memiliki fungsi penting pada imunitas seluler (meningkatkan fungsi sel NK/natural killer) dan humoral (meningkatkan jumlah sel limfosit, termasuk sel T CD8+), serta menekan homosistein dan kadar sitokin pro-inflamatorik, terutamaTNF-α.1

Pada replikasi virus COVID-19, mekobalamin, vitamin B12 aktif yang masuk ranking ke-4 oleh FDA, sebagai obat yang aman dan berpotensial untuk menjadi bagian dari terapi COVID-19, dengan kemampuannya sebagai penghambat Mpro/ main polypeptide protease of Sars-Cov-2. Afinitas mekobalamin 1,99 kali lebih kuat dari kurkumin dan hydroxychloroquine, meskipun bersaing dengan ranking ke-2, yakni ribavirin, dengan afinitas 2,01 kali. Mekobalamin juga menghambat aktivitas nsp12 / non-structural protein 12 (pengontrol aktivitas RNA-dependent-RNA polymerase (RdRP) yang bertanggungjawab pada replikasi genom virus COVID). Kedua aksi mekobalamin ini ditujukan untuk menghambat terjadinya komplikasi multi organ dari COVID-19.1,2


Pada studi ini, disimpulkan bahwa pemberian mekobalamin 500 mcg/hari selama 2 minggu, secara signifikan memperbaiki profil imun pada pasien defisiensi vitamin B12 dan subjek sehat, dengan kadar homosistein yang terkontrol. Hasil ini dibutuhkan untuk meminimalisasi komplikasi COVID-19 pada dewasa dan lansia. Mekobalamin adalah satu-satunya vitamin yang mendapat posisi ke-4 oleh FDA, sebagai obat yang aman dan berpotensi, dikarenakan memiliki aksi sebagai penghambat yang lebih kuat pada Mpro (enzim utama dalam replikasi virus) dan nsp12 (pengontrol utama replikasi genom virus) dalam replikasi virus COVID-19.1,2



Gambar: Ilustrasi (www.pexels.com

Referensi:

1.  Wee AKH. COVID-19’s toll on the elderly and those with diabetes mellitus – is vitamin B12 deficiency an accomplice? Medical Hypotheses. 2021;146:110374.

2. Narayanan N, Nair DT. Vitamin B12 may inhibit RNA-dependent-RNA polymerase activity of nsp12 from the SARS-CoV-2 virus. Preprints. 2020. 

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Adakah Manfaat Lebih Dari “Fix Dose Combination” Pregabalin-Mecobalamin?
Admin | 25 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019