Extended infusion (2–3 jam) meropenem pada neonatus dengan sepsis memberikan efektivitas klinis lebih baik dalam 3 hari dibandingkan infus standar 30 menit, meningkatkan eradikasi bakteri secara signifikan, tidak meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal maupun hati, manfaat lebih nyata pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (VLBW). Secara keseluruhan, EI meropenem dapat dipertimbangkan sebagai strategi optimasi terapi pada neonatal sepsis berat, terutama ketika dicurigai resistensi atau kegagalan terapi awal.
Sepsis neonatal merupakan salah satu penyebab utama kematian neonatal secara global, dengan angka mortalitas dilaporkan berkisar antara 11% – 19%. Terapi lini lanjut pada kasus berat sering menggunakan carbapenem, terutama meropenem, yang memiliki aktivitas bakterisidal bergantung waktu (time-dependent killing).
Dalam konteks resistensi bakteri yang meningkat, farmakokinetik/farmakodinamik (PK/PD) menjadi penting. Salah satu strategi adalah extended infusion (EI) selama 2–3 jam, dibandingkan short-term infusion (STI) selama 0,5 jam, untuk meningkatkan waktu konsentrasi obat MIC (fT > MIC).
Meropenem merupakan antibiotik golongan beta-laktam dengan pola kerja time-dependent killing, sehingga efektivitasnya terutama ditentukan oleh lamanya kadar obat berada di atas MIC (Minimum Inhibitory Concentration), bukan oleh tingginya kadar puncak obat. Parameter ini dikenal sebagai fT > MIC (fraction of time free drug concentration above MIC). Semakin lama konsentrasi meropenem berada di atas MIC dalam satu interval dosis, semakin optimal kemampuan obat dalam menghambat dan membunuh bakteri. Pada infeksi berat seperti sepsis, target waktu ini bahkan perlu lebih tinggi agar tercapai eradikasi bakteri yang efektif. Pemberian melalui extended infusion (2–3 jam) membantu mempertahankan kadar obat lebih lama di atas MIC dibandingkan infus singkat 30 menit, sehingga secara teoritis dan klinis dapat meningkatkan keberhasilan terapi tanpa harus menaikkan dosis.
Namun, bukti klinis berbasis sampel besar pada populasi neonatus masih terbatas. Oleh karena itu, studi ini bertujuan mengevaluasi efektivitas dan keamanan EI dibandingkan STI meropenem pada neonatus dengan sepsis menggunakan data real-world.
Desain studi: kohort retrospektif pada NICU Peking University Third Hospital dengan periode Desember 2011 – 1 April 2021. Subjek total saat skrining 653 neonatus pengguna meropenem, dengan eksklusi 397 pasien, sehingga total sampel akhir 256 neonatus dengan EI 127 pasien, STI 129 pasien. Karakteristik dasar kedua kelompok serupa, tidak ada perbedaan bermakna secara statistik.
Outcome primer: Efektivitas klinis 3 hari dan microbial clearance 3 hari. Outcome sekunder: Perbaikan CRP dan sel darah putih 3 hari dengan analisis faktor keamanan dengan abnormalitas BUN (blood urea nitrogen), kreatinin, dan ALT dalam 3 hari.
Secara karateristik dasarnya tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok EI dan STI dalam usia gestasi, berat badan, maupun parameter klinis awal (p > 0,05).

Pada grup EI menunjukkan peningkatan signifikan pada efektivitas klinis dan microbial clearance dalam 3 hari.
Analisis Multivariat
- Clinical effectiveness 3 hari: OR = 0,34 (95% CI 0,18–0,62), p = 0,001
- Microbial clearance 3 hari: OR = 4,13 (95% CI 1,24–13,78), p = 0,021
Setelah kontrol faktor perancu, EI tetap merupakan faktor independen yang meningkatkan outcome klinis.
Analisis Subkelompok
Very Low Birth Weight (VLBW) – 185 pasien
Clinical effectiveness: EI: 75,6%, STI: 56,6%, p = 0,007
Microbial clearance: EI: 94,2%, STI: 84,8%, p = 0,041
EI tetap menjadi prediktor independen efektivitas klinis (p = 0,008).
EI 2 jam vs 3 jam
Tidak terdapat perbedaan signifikan antara infus 2 jam dan 3 jam dalam:
Clinical effectiveness (p = 0,325), microbial clearance (p > 0,999) -> 2 jam sudah cukup optimal.
Tidak ditemukan perbedaan bermakna antara EI dan STI pada keamanan keduanya.

Semua efek samping ringan dan tidak ada penghentian terapi akibat efek serius.
Kesimpulan:
Extended infusion (2–3 jam) meropenem pada neonatus dengan sepsis memberikan efektivitas klinis lebih baik dalam 3 hari dibandingkan infus standar 30 menit, meningkatkan eradikasi bakteri secara signifikan, tidak meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal maupun hati, manfaat lebih nyata pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (VLBW). Secara keseluruhan, EI meropenem dapat dipertimbangkan sebagai strategi optimasi terapi pada neonatal sepsis berat, terutama ketika dicurigai resistensi atau kegagalan terapi awal.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato elements)
Referensi:
- Mariani M, Scaglione M, Russo C, Rainelli A, Mesini A, Saffioti C, et al. A real-life study of prolonged meropenem infusion in neonates and children admitted to intensive care units: Are three hours long enough? J Clin Med. 2025;14:1488. doi:10.3390/jcm14051488.
- An G, Creech CB, Wu N, Nation RL, Gu K, Nalbant D, et al. Evaluation of empirical dosing regimens for meropenem in intensive care unit patients using population pharmacokinetic modeling and target attainment analysis. Antimicrob Agents Chemother. 2023;67(1):e01312-22. doi:10.1128/aac.01312-22.