Detail Article
Kombinasi Metformin dan Simvastatin pada Terapi PCOS, Efektifkah?
dr. Della Sulamita
Sep 17
Share this article
a6d575f7d9f1a6d27b8dbbdf572b28da.jpg
Updated 22/Sep/2021 .

Polycystic ovary syndrome (PCOS) adalah penyakit endokrin yang paling sering terjadi pada wanita usia subur. PCOS dikarakteristikkan dengan adanya disfungsi ovulasi yang terjadi secara kronis, hiperandrogen, dan menyerang 3,84% hingga 10,11% wanita usia subur di dunia. PCOS sering terjadi bersamaan dengan meningkatnya risiko obesitas abdominal, resistensi insulin, kelainan metabolik, dan penyakit kardiovaskular. 


Metformin, salah satu pilihan terapi utama dalam pengobatan PCOS, berpartisipasi dalam metabolisme hati, otot, dan jaringan adiposa, serta efektif menurunkan gejala resistensi insulin dan ekspresi androgen yang berlebihan. Efek samping yang sering terjadi adalah keluhan intestinal seperti mual, perut terasa penuh, diare, flatus, dan anoreksia. Pada beberapa dekade terakhir, wanita dengan diabetes gestasional, PCOS, dan obesitas mendapatkan terapi metformin. Pemberian statin juga dilakukan pada terapi PCOS akhir-akhir ini. Statin dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular, menurunkan level androgen, memperbaiki kadar lemak dalam darah dan fungsi endotel. Kombinasi metformin dan simvastatin dinilai bermanfaat dalam terapi PCOS.

 

Studi meta-analisis dan sistematik review (PRISMA) oleh dr. Yanbo dan kolega mengevaluasi efek dan keamanan kombinasi metformin dan simvastatin dalam terapi PCOS. Dilakukan pencarian studi hingga November 2020. Studi melibatkan 9 RCT dengan 746 subjek yang dibagi menjadi 2 kelompok. Sebanyak 374 subjek mendapatkan terapi metformin dan simvasatin, dan 372 subjek hanya mendapatkan metformin. Dosis metformin bervariasi antara 500-850 mg/pemberian, dan simvastatin 20 mg/hari. Durasi pemberian 2 bulan hingga 6 bulan. Parameter yang dinilai adalah kolesterol total (TC), trigliserida (TG), low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), testosterone (T), luteinizing hormone, follicle stimulating hormone (FSH), prolaktin, gula darah puasa (FBS), insulin puasa (FIN), dan indeks sensitivitas insulin. 

 

Hasilnya:

· Kombinasi metformin dan simvastatin memberikan efek lebih baik dalam menurunkan total cholesterol, triglycerides, low density lipoprotein, testosteron, fasting insulin, dibandingkan metformin tunggal pada pasien dengan PCOS.

· Tidak didapatkan perbedaan yang signifikan pada parameter high density lipoprotein, luteinizing hormone, follicle stimulating hormone, prolactin, fasting blood sugar, dan insulin sensitivity index antara kelompok kombinasi dan kelompok tunggal. (p>,05)

 

Kesimpulan studi ini adalah kombinasi metformin dan simvastatin memberikan efek yang lebih baik pada parameter hormon seks, kadar lemak dalam darah, dan kadar gula dalam darah jika dibandingkan dengan pemberian metformin tunggal.

 


Gambar: Ilustrasi (www.pexels.com)

Referensi:

 Liu Y, Shao Y, Xie J, Chen L, Zhu G. The efficacy and safety of metformin combined with simvastatin in the treatment of polycystic ovary syndrome. Medicine (Baltimore). 2021 Aug 6;100(31):e26622. 

Share this article
Related Articles
Metformin dapat Menurunkan Penyakit Kardiovaskuler pada Pasien Prediabetes, Benarkah?
Admin | 14 Nov 2018
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Manfaat Metformin pada PCOS Obese dan Non-obese
Admin | 06 Jan 2019
Suplementasi Vitamin D prenatal, Mengurangi Risiko Asma Anak
nugroho nitiyoso | 10 Jan 2019
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019