Detail Article
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum
Mar 22
Share this article
238b8725afa8bd29ad8b09f62d351422.jpg
Updated 22/Mar/2022 .

Stres oksidatif berperan penting dalam patogenesis dan komplikasi diabetes. Studi menemukan kaitan antara diabetes dan peningkatan stres oksidatif. Hiperglikemia kronik dapat meningkatkan efek berbahaya dari stres oksidatif yang dapat menyebabkan kelainan protein dan lemak sel akibat glikooksidasi dan peroksidasi. 


Peningkatan radikal bebas dan penurunan pertahanan antioksidan berperan penting dalam patogenesis dan mempercepat terjadinya komplikasi klinis diabetes. Oleh karena itu, suplemen antioksidan diajukan sebagai terapi perseptif untuk diabetes. Selain itu, suplemen antioksidan telah menunjukkan dapat mencegah progresivitas dan terjadinya komplikasi diabetes.

 

Vitamin C merupakan antioksidan larut air yang poten mencegah peningkatan produksi radikal bebas yang diinduksi oleh kerusakan oksidatif lemak dan lipoprotein pada berbagai kompartemen sel, sedangkan vitamin E merupakan antioksidan larut lemak yang juga poten dalam menghambat peroksidasi lemak lipoprotein oleh radikal bebas. Sejumlah penelitian telah menunjukkan penurunan kadar vitamin C dan/atau vitamin E pada pasien diabetes.

 

Suatu penelitian telah dilakukan untuk menilai efek suplementasi vitamin C dan/atau vitamin E terhadap efikasi obat antihiperglikemik oral metformin pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2. Metformin merupakan obat pilihan dari golongan biguanide dan banyak digunakan untuk terapi DM tipe 2 dan merupakan obat yang aman dengan efek samping minimal, yang juga memiliki efek memperbaiki profil lemak, redistribusi lemak, dan menurunkan risiko komplikasi DM tipe 2.

 

Sebanyak 40 pasien DM tipe 2 berusia 40-60 tahun yang mendapat terapi metformin 2 x 500 mg per hari, secara acak dibagi menjadi 4 kelompok yang selama 90 hari mendapat:

· Vitamin C oral 2 x 500 mg per hari

· Vitamin E oral 2 x 400 mg per hari

· Vitamin C oral 2 x 500 mg ditambah vitamin E 2 x 400 mg per hari, atau

· Plasebo oral.

 

Hasilnya menunjukkan bahwa vitamin C dan/atau vitamin E memperbaiki gula darah puasa, HbA1c, profil lemak, insulin, homeostasis model assessment of insulin resistance (HOMA-IR), reduced glutathione (GSH), dan quantitative insulin sensitivity check index (QISCI) dibandingkan dengan plasebo.

 

Hasil penelitian tersebut memberikan bukti tambahan manfaat suplementasi vitamin antioksidan pada DM tipe 2 yang dapat memperbaiki kondisi klinis dan mengurangi atau mencegah patogenesis serta komplikasi diabetes. Selain itu, kontrol glikemik yang buruk dapat berkontribusi terhadap ketidakseimbangan antara antioksidan endogen dan radikal bebas spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan kerusakan yang dimediasi oksidan pada diabetes.


Penelitian ini menunjukkan perubahan yang baik dalam profil metabolik mencakup kontrol glikemik dan profil lemak serta perbaikan kadar kolesterol HDL, kerja insulin, dan pertahanan antioksidan, sehingga dapat menurunkan risiko komplikasi. Karena vitamin C dan vitamin E merupakan mikronutrien eksogen yang tidak dikaitkan dengan toksisitas jika diberikan sesuai dosis yang direkomendasikan, maka strategi baru untuk suplementasi vitamin ini, sebagai tambahan terhadap obat antidiabetik reguler, sebaiknya didiskusikan tidak hanya untuk pencegahan, tetapi sebagai terapi tambahan untuk berbagai komplikasi klinis diabetes.

 


Gambar: Ilustrasi (Foto oleh Polina Tankilevitch dari Pexels)

Referensi:

1. El-Aala AA, Abd El-Ghffara, Ghalib AA, Zughburc MR, Sirdah MM. The effect of vitamin C and/or E supplementations on type 2 diabetic adult males under metformin treatment: A single-blinded randomized controlled clinical trial. Diab Met Syndr: Clin Res Rev 2018;12(4):483-9.

2. Vitamins C and E may reduce risk, complications of diabetes [Internet]. 2000 [cited 2022 March 21]. Available from: https://www.webmd.com/diabetes/news/20001115/vitamins-c-e-may-reduce-risk-complications-of-diabetes


Share this article
Related Articles
Metformin dan Perubahan Gaya Hidup Bermanfaat untuk Anak dengan Obesitas dan Resistensi Insulin
dr. Lyon | 20 Jul 2022
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022