Detail Article
Calcitriol Menurunkan Derajat Proteinuria pada Penyakit Ginjal Kronik (PGK)
dr. Esther Kristiningrum
Des 01
Share this article
efc0c0191456459192a4f877f514516c.jpg
Updated 01/Des/2020 .

Vitamin D menunjukkan efek pleitrotrofik, termasuk regulasi kardiovaskuler dan fungsi ginjal, dan seperti telah diketahui, ginjal merupakan organ yang penting untuk metabolisme vitamin D, yang melibatkan sintesis 1,25-(OH)2 D. Namun, dibandingkan dengan populasi sehat, pasien PGK sering mempunyai kadar 1,25-dihydroxy vitamin D [(1,25-(OH)2D] dan 25-hydroxy vitamin D [25-(OH)D] serum yang lebih rendah.

Panduan dari The 2003 Kidney Disease Quality Initiative merekomendasikan suplementasi vitamin D pada pasien dengan kadar 25-(OH)D <30 ng/mL. Status 25-(OH)D plasma telah terbukti menjadi prediktor yang independen dari progresivitas PGK dan mortalitas. Manfaat proteksi kardiovaskuler dan ginjal dapat diperoleh jika pasien PGK diberikan terapi vitamin D sebagai tambahan terhadap terapi yang sudah ada. Sebelumnya, beberapa studi acak dengan kontrol telah menunjukkan bahwa pemberian vitamin D aktif (calcitriol atau paricalcitol) dapat menurunkan derajat proteinuria pada pasien dengan penyakit ginjal proteinurik. 


Suatu studi yang lebih baru juga telah dilakukan untuk meneliti efek vitamin D aktif dosis rendah (calcitriol 0,25 mcg, 3 kali seminggu) pada ekskresi protein urin (proteniuria) pada pasien PGK. Studi ini dilakukan selama 24 minggu dengan label terbuka dan dengan kontrol non-plasebo pada 60 pasien PGK (laju filtrasi glomerulus terestimasi rata-rata >15 mL/menit) yang mendapat ARB atau ACEI dengan dosis stabil. Pasien secara acak dibagi menjadi kelompok vitamin D yang mendapat calcitriol oral 0,25 mcg 3 kali seminggu dengan ACEI atau ARB dan kelompok kontrol yang hanya mendapat ACEI saja atau ARB saja. Parameter utama studi ini adalah perubahan rasio protein/kreatinin urin (uPCR). 


Hasilnya menunjukkan bahwa uPCR basal rata-rata sebanding antara kedua kelompok (1,84±0,83 g/g vs 2,02±0,97 g/g, kontrol vs vitamin D; p=0,46). Setelah 24 minggu terapi, uPCR secara bermakna lebih rendah dibanding nilai basal pada kelompok vitamin D (1,35±0,64 g/g; p<0,05) tetapi tidak pada kelompok kontrol. Nilai uPCR menurun secara bermakna setelah 8, 16, dan 24 minggu (p<0,05 vs basal) pada kelompok vitamin D. Nilai uPCR secara bermakna lebih rendah pada kelompok vitamin D dibanding kelompok kontrol setelah 8, 16, dan 24 minggu (p<0,05). Korelasi positif ditemukan antara penurunan uPCR setelah 24 minggu dengan kadar 25-(OH)D basal pada kelompok vitamin D (r=0,738, p<0,001).


Dari hasil studi ini disimpulkan bahwa pemberian vitamin D aktif (calcitriol) dosis rendah dapat menurunkan proteinuria pada pasien PGK dengan kadar 25-(OH)D serum yang rendah.



Silakan baca juga: Prove D3-1000, untuk meningkatkan kadar 25(OH)D dalam darah pada pasien dengan kekurangan vitamin D 

Image: Ilustrasi (sumber: https://www.bsn.go.id/)

Referensi:

1. Wu CC, Liao MT, Hsiao PJ, Lu CL, Hsu YJ, Lu KC, et al. Antiproteinuria effect of calcitriol in patients with chronic kidney disease and vitamin D deficiency: A randomized controlled study. J Ren Nutr. 2019. pii: S1051-2276(19)30322-X. doi: 10.1053/j.jrn.2019.09.001. 

2. Filipov JJ, Zlatkov BK, Dimitrov EP. Vitamin D and renal disease [Internet]. 2017 [cited 2019 Dec 16]. Available from: https://www.intechopen.com/books/a-critical-evaluation-of-vitamin-d-clinical-overview/vitamin-d-and-renal-disease


Share this article
Related Articles
Manfaat Zinc pada Kondisi Pre-Diabetes, Memperbaiki Parameter Glikemik dan Lemak
dr. Esther Kristiningrum | 10 Nov 2021
Omega-3 pada Pasien DM, Menurunkan Gula Darah Puasa dan Resistensi Insulin
dr. Martinova Sari Panggabean | 25 Okt 2021
Suplementasi Omega-3 Meningkatkan Kadar Adiponektin, yang Berperan pada DM dan Penyakit Kardiovaskular
dr. Martinova Sari Panggabean | 18 Okt 2021
Konsumsi Alpukat Setiap Hari dapat Kurangi Lemak Perut, Benarkah?
dr. Jane Cherub | 15 Okt 2021
Konsumsi vitamin B12 selama 12 bulan, Apa Manfaatnya pada Pasien dengan Neuropati Diabetik?
dr. Johan Indra Lukito | 13 Okt 2021
Injeksi Intradermal Toksin Botulinum A pada Neuropatik DM Sangat Nyeri, Bagaimana Efektivitasnya?
dr. Lupita Wijaya | 03 Agt 2021
Metformin dan Kejadian Fibrilasi Atrial Pasien Diabetes Mellitus
Dr. Martinova Sari Panggabean. | 15 Jun 2021
Metformin Dikaitkan dengan Tingkat Rawat Inap, Mortalitas, dan Derajat COVID-19 yang Lebih Rendah, Benarkah?
dr. Johan Indra Lukito | 24 Mei 2021
Peran Metformin dalam Mencegah dan Menghambat Progresivitas Degenerasi Makula Terkait Usia
dr. Martinova Sari Panggabean | 06 Mei 2021
Insulin Glargine Biosimilar Ezelin, Bagaimana Efikasi, Imunogenisitas, dan Keamanannya?
dr. Johan Indra Lukito | 13 Apr 2021