Detail Article
Suplementasi Asam Amino Ketoanalog dengan Pembatasan Asupan Protein, Apa Manfaatnya pada Pasien PGK?
dr. Laurencia Ardi
Aug 12
Share this article
f1c5ee3f87540e13df0eca620d28c7f6.JPG
Updated 25/Aug/2020 .

Prevalensi penyakit ginjal kronik (PGK) dan komplikasinya terus meningkat baik pada negara maju maupun negara berkembang. Progesivitas dari PGK menyebabkan terjadinya PGK terminal sehingga membutuhkan terapi pengganti ginjal. Strategi utama terapi PGK adalah fokus pada penyakit yang mendasarinya, mengontrol tekanan darah, menurunkan proteinuria melalui penghambatan sistem renin-angiotensin-aldosteron atau memperlambat kerusakan ginjal lebih lanjut.



Strategi pengaturan nutrisi telah dipertimbangkan menjadi salah satu pilihan terapi yang efektif untuk mencegah progesivitas PGK. Berdasarkan penelitian disebutkan bahwa pembatasan asupan protein mungkin dapat memperbaiki albuminuria melalui penurunan tekanan intraglomeruler, memperlambat kecepatan penurunan fungsi ginjal, dan terapi pengganti ginjal. Pembatasan asupan protein pada PGK seperti asupan rendah protein yang konvensional (LPD 0,6-0,8 g/kgBB/hari) dan asupan sangat rendah protein (VLPD 0,3-0,4 g/kgBB/hari) ditambah dengan suplementasi asam amino ketoanalog dapat memberikan manfaat. Asam amino ketoanalog dapat mencegah produksi residu asam amino berupan nitrogen yang berlebihan, pembatasan asupan nitrogen, penurunan pembentukan urea endogen, serta gangguan metabolisme uremia.


Berikut suatu penelitian meta-analisis yang bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas dan keamanan dari pembatasan asupan protein dengan suplementasi asam amino ketoanalog yang dibandingkan dengan diet reguler atau asupan rendah protein pada pasien PGK. Desain dan metodenya adalah dengan mengumpulkan penelitian RCT dari database PubMed, Scopus, Cochrane dari Januari 1960 sampai dengan Mei 2018. Penelitian yang memenuhi kriteria sebanyak 17 penelitian RCT dengan subjek sebanyak 1459.


Hasilnya menunjukkan pembatasan asupan protein dengan suplementasi asam amino ketoanalog secara bermakna dapat mempertahankan laju filtrasi glomerulus (LFG) dan menurunkan proteinuria, fosfat serum, kadar hormon paratiroid (PTH), tekanan darah dan kolesterol serum. Berdasarkan analisis subgroup ditemukan bahwa asupan sangat rendah protein dengan suplementasi asam amino ketoanalog lebih superior dibandingkan dengan asupan rendah protein terhadap memperlambat penurunan LFG. Hanya asupan sangat rendah protein dengan suplementasi asam amino ketoanalog yang secara bermakna dapat memperbaiki PTH serum, tekanan darah, dan fosfat serum.


Silakan baca juga: NOCID, untuk membantu memenuhi kebutuhan asam amino pada kondisi asupan protein yang harus dibatasi 

Image : Ilustrasi

Referensi:

Chewcharat A, Takkavatakarn K, Wongrattanagorn S, Panrong K, Kittiskulnam  P, Eiam-Ong S, et al. The effects of restricted protein diet supplemented with ketoanalogue on renal function, blood pressure, nutritional status, and chronic kidney disease-mineral and bone disorder in chronic kidney disease patients: A systematic review and meta-analysis. J Ren Nutr 2020;30(3):189-99.


Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Grand Kalbe Academia 2019 "Cardio Cerebro Vascular"
Dokter Kalbemed | 22 Jan 2019
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
PUFA Omega-3 Memperbaiki Denyut Jantung Pasien Dialisis Kronik
Dokter Kalbemed | 30 Jan 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplemen Asam Amino Glutamin dapat Memperbaiki Gejala Sakit Pencernaan IBS, Benarkah?
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019