Detail Article
Perlemakan Hati Non-Alkoholik Menjadi Faktor Risiko Independent Kanker Payudara Wanita Usia <50 tahun di Indonesia
dr. Fitri Afifah
Sep 28
Share this article
1ee46f437db70cf6ade544a8bde891a1.jpg
Updated 28/Sep/2020 .

Kanker payudara merupakan keganasan dengan prevalensi tinggi di dunia. Di Indonesia, kanker payudara menempati urutan ke-2 setelah kanker serviks rahim dengan prevalensi 0,5 per 1000 berdasarkan data nasional tahun 2013. Data RISKESDAS 2019 menunjukkan kanker dan obesitas menjadi masalah kesehatan mayor di Indonesia. 

Obesitas, seperti yang tampak dengan indeks massa tubuh (BMI) yang tinggi, telah berhubungan dengan peningkatan risiko pada banyak kanker, termasuk payudara. Perlemakan hati non-alkoholik (NAFLD) menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkembang di regio Asia-Pasifik.


Definisi baru NAFLD menurut Asia-Pasific Working Party merujuk penyakit perlemakan hati adalah disebabkan oleh kelebihan gizi dan komplikasinya, termasuk obesitas sentral. Penelitian berbasis rumah sakit di Jakarta menunjukkan bahwa 51% dewasa sehat yang melakukan medical check up memiliki perlemakan hati, di mana sangat berhubungan dengan sindrom metabolik. Perlemakan hati secara signifikan berhubungan dengan obesitas dan dianggap sebagai manifestasi hepatik dari sindroma metabolik. Selanjutnya, prevalensi perlemakan hati yang tinggi (63%) dilaporkan pada pasien-pasien kanker payudara.


Penelitian sebelumnya di Jakarta menemukan bahwa di antara 72 pasien dengan kanker payudara, 68 (94,4%) pasien menunjukkan hasil positif perlemakan hati melalui pemeriksaan ultrasonografi abdomen. Sebuah penelitian pada Desember 2018 di Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais. dengan subjek penelitian 218 pasien kanker payudara dalam kelompok kasus, sedangkan 218 staf wanita rumah sakit tanpa kanker payudara bertindak sebagai kontrol. Pasien dengan riwayat penyakit hati kronik dan bukti adanya metastasis ke hati dieksklusi dari analisis. Diagnosis NAFLD ditegakkan bila perlemakan hati pada pemeriksaan ultrasonografi abdomen didukung oleh rendahnya konsumsi alkohol (<20 g/hari), negatif hepatitis B atau C, dan tidak ada bukti hepatitis autoimun atau penyakit hati lainnya.


Obesitas dan perlemakan hati lebih umum ditemukan pada kelompok kanker dibandingkan kelompok kontrol. Rata-rata BMI secara signifikan lebih tinggi pada kelompok kanker payudara dibandingkan kelompok kontrol (26,8 kg/m2 vs. 25,7 kg/m2; p=0,007). Regresi logistic univariat menunjukkan bahwa BMI dan perlemakan hati adalah faktor risiko untuk terjadinya kanker payudara. Pada studi ini kanker payudara lebih umum terjadi pada kelompok usia yang lebih muda (<50 tahun).


Studi sebelumnya menunjukkan bahwa 94% pasien kanker payudara memiliki perlemakan hati dan perlemakan hati berat secara signifikan berhubungan dengan obesitas, tapi tidak dengan usia atau status menopause, hal ini menunjukkan peran sindrom metabolik pada pasien muda premenopause. Studi ini menunjukkan perlemakan hati dan obesitas bertindak sebagai faktor risiko yang berbeda di kanker payudara pada wanita yang lebih muda.


Asupan karbohidrat berhubungan kuat dengan perkembangan perlemakan hati. Karbohidrat bertindak sebagai zat yang digunakan untuk lipogenesis de novo dan mungkin berkontribusi dalam akumulasi lemak di hati ketika dikonsumsi dalam jumlah banyak, sehingga asupan karbohidrat berlebihan berpotensi memberikan kontribusi pada pathogenesis perlemakan hati dan kanker. Perlemakan hati adalah faktor risiko independen pada kejadian kanker payudara sporadis di Indonesia. Temuan ini memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi mekanisme kanker payudara pada wanita yang terkait dengan patogenesis perlemakan hati non-alkohol.


Silakan baca juga: Hepamax, sebagai hepatoprotektor, mencegah dan memperbaiki kerusakan sel hati dan antioksidan

Image : Ilustrasi

Referensi:

1. Sutandyo N, Kardinah K, Joko D. Non-alcoholic fatty liver as a risk factor for breast cancer among Indonesian pre-menopausal women: A case-control study. eJournal Kedokteran Indonesia. 2020;8:13.

2. Waruna P, Kardinah, Prihartono J, Sutandyo N. Fatty liver and its associated factors among breast cancer patients in Dharmais Cancer Hospital, Jakarta. Indones J Gastroenterol Hepatol Dig Endosc. 2014;15:147–51.

3. Bilici A, Ozguroglu M, Mihmanli I, Turna H, Adaltli I. A case-control study of non-alcoholic fatty liver disease in breast cancer. Med Oncol. 2007;24:367–71.


Share this article
Related Articles
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplementasi Vitamin D Berpotensi Memperbaiki Perlemakan Hati
Esther Kristiningrum | 27 Nov 2019
Perlemakan Hati Non-Alkoholik Menjadi Faktor Risiko Independent Kanker Payudara Wanita Usia <50 tahun di Indonesia
dr. Fitri Afifah | 28 Sep 2020