Detail Article
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya
Mar 11
Share this article
img-yoghurt.jpeg
Updated 22/May/2020 .

NAFLD (non-alcoholic fatty liver disease) merupakan suatu kondisi perlemakan hati yang memiliki ciri khas seperti kadar lemak dalam sel hati tinggi, resistensi insulin, aktivasi sistem imun dan inflamasi yang berlebihan, dan disertai dengan stres oksidatif. 

NAFLD (non-alcoholic fatty liver disease) merupakan suatu kondisi perlemakan hati yang memiliki ciri khas seperti kadar lemak dalam sel hati tinggi, resistensi insulin, aktivasi sistem imun dan inflamasi yang berlebihan, dan disertai dengan stres oksidatif. NAFLD menjadi penting untuk diterapi dikarenakan posibilitas dari progresi NAFLD ke arah NASH, sirosis, dan keganasan hati dalam periode 10 tahun cukup besar, yaitu 12-40%, 15-25%, dan 7%.

 

Adapun golongan anti-diabetik terbaru, yakni golongan DPP-IV, membantu menurunkan stres oksidatif. Sitagliptin termasuk dalam golongan ini yang bekerja meregulasi sistem imun, menginaktivasi hormon GLP-1 (stres oksidatif diturunkan), dan menurunkan akumulasi lemak. Diketahui bahwa ketidakseimbangan mikroflora usus berhubungan erat dengan obesitas, diabetes, sindrom metabolik, dan NAFLD, melalui proses produksi energi berlebihan, gangguan metabolisme, sinyal pro-inflamasi, sehingga berakhir pada efek hepatotoksisitas akibat produksi etanol dan amonia dari bakteri patogen. Probiotik atau mikroflora normal usus berperan dalam menyeimbangkan mikroflora usus disertai peranan lain yang meliputi regulasi sistem imun, memperbaiki permeabilitas saluran cerna, menekan proses inflamasi. Namun, apabila probiotik dikombinasi dengan prebiotik menjadi sinbiotik, telah terbukti secara klinis, dapat mengoptimalkan kerja probiotik karena pada umumnya prebiotik sulit dicerna usus manusia.

 

Sayari S, et al, melakukan studi acak, tersamar ganda dan terkontrol, pemberian sitagliptin pada 138 pasien dengan NAFLD, yang dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok I (68 pasien) mendapat sitagliptin dengan dosis 50 mg/hari; dan kelompok II (70 pasien) mendapat sitagliptin 50 mg/hari dan sinbiotik 1 kapsul/hari (109 CFU Lactobacillus, Bifidobacterium, Streptococcus thermophilus, dan FOS). Intervensi dilakukan selama 16 minggu dan kemudian diperiksa kadar glukosa puasa, enzim SGOT, kadar kolesterol, dan LDL.

Hasil studi tersebut didapatkan pemberian kombinasi sitagliptin 50 mg/hari dan sinbiotik 1 kapsul/hari selama 16 minggu; memperbaiki glukosa darah puasa, enzim hati SGOT (penanda inflamasi hati), kadar kolesterol, dan LDL secara bermakna dengan nilai P masing-masing yakni <0,001, 0,018, 0,029, dan <0,001. 

 

Image : Ilustrasi

Referensi:

Sayari S, Neishaboori H, Jameshorani M. Combined effects of synbiotic and sitagliptin versus sitagliptin alone in patients with non-alcoholic fatty liver disease. Clinical and Molecular Hepatology 2018;24:331-8.

Share this article
Related Articles
Metformin dapat Menurunkan Penyakit Kardiovaskuler pada Pasien Prediabetes, Benarkah?
Admin | 14 Nov 2018
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Manfaat Pemberian Nutrisi Enteral pada Pasien Diabetes
Admin | 23 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplemen Asam Amino Glutamin dapat Memperbaiki Gejala Sakit Pencernaan IBS, Benarkah?
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019