Detail Article
Kanker Payudara Metastatik HR (+), HER2 (-) Pasca-menopause, Pilih Terapi Endokrin atau Kemoterapi?
Hastarita Lawrenti
Sep 19
Share this article
img-Pink-Breast-cancer1.jpg
Updated 20/Jul/2020 .


Subtipe kanker payudara metastatik yang sering dijumpai adalah kanker payudara reseptor hormon positif, HER2 negatif, yang ditemukan sekitar 65% dari semua kanker payudara metastatik. Walaupun prognosisnya relatif favourable dibandingkan subtipe kanker payudara metastatik lainnya, outcome kanker payudara metastatik reseptor hormon positif, HER2 negatif masih buruk, dengan median overall survival (OS) 36 bulan.

Subtipe kanker payudara metastatik yang sering dijumpai adalah kanker payudara reseptor hormon positif, HER2 negatif, yang ditemukan sekitar 65% dari semua kanker payudara metastatik. Dalam dekade terakhir, uji klinik telah menunjukkan strategi terapi inovatif dalam praktik klinis yang terdiri dari terapi target kombinasi dengan terapi hormon, untuk kanker payudara metastatik sensitif dan resisten endokrin. Uji klinik pivotal telah menunjukkan efikasi kombinasi ini sebagai terapi lini pertama dan berikutnya pada pasien pasca-menopause dengan kanker payudara metastatik reseptor hormon positif, HER2 negatif dengan perbaikan outcome bermakna. 

 

Dalam guideline onkologi, terapi berbasis endokrin merupakan strategi untuk kanker payudara metastatik reseptor hormon positif, HER2 negatif, kecuali pada kasus viseral yang mengancam nyawa atau krisis viseral. Namun, data real world menunjukkan penggunaan kemoterapi upfront masih sering digunakan bahkan tanpa adanya krisis viseral. Pendekatan terapi ini digunakan mungkin karena kurangnya perbandingan langsung antara regimen terapi hormon dan berbasis kemoterapi untuk kanker payudara metastatik subtipe tersebut. 

 

Peneliti melakukan tinjauan sistematik dan meta-analisis dengan pencarian literatur secara sistematik pada PubMed, Embase, Cochrane Central Register of Clinical Trials, Web of Science, dan archive online dari konferensi onkologi internasional. Peneliti memasukkan uji klinik fase II dan III yang meneliti kemoterapi dengan atau tanpa terapi target dan terapi hormon dengan atau tanpa terapi target sebagai terapi lini pertama atau kedua, atau keduanya pada pasien pasca-menopause dengan kanker payudara metastatik reseptor hormon positif, HER2 negatif.

 

Dari studi meta-analisis tersebut, diperoleh hasil bahwa: 

• Peneliti mengidentifikasi 2.689 hasil publikasi dan 140 studi (n= 50.029 pasien) yang dimasukkan dalam analisis.


• Palbociclib plus letrozole (HR 0,42; 95% CrI 0,25-0,70), ribociclib plus letrozole (HR 0,43; 95% CrI 0,24-0,77), abemaciclib plus anastrozole atau letrozole (HR 0,42; 95% CrI 0,23-0,76), palbociclib plus fulvestrant (HR 0,37; 95% CrI 0,23-0,59), ribociclib plus fulvestrant (HR 0,48; 95% CrI 0,31-0,74), abemaciclib plus fulvestrant (HR 0,44; 95% CrI 0,28-0,70), everolimus plus exemestane (HR 0,42; 95% CrI 0,28-0,67), dan pada pasien dengan mutasi PIK3CA, alpelisib plus fulvestrant (HR 0,39; 95% CrI 0,22-0,66), dan beberapa regimen berbasis kemoterapi, termasuk regimen mengandung anthracycline dan taxane dikaitkan dengan progression free survival (PFS) yang lebih baik dibandingkan anastrozole saja.


• Tidak terdapat regimen kemoterapi atau terapi hormon yang lebih baik secara bermakna dalam hal PFS dibandingkan palbociclib plus letrozole


Paclitaxel plus bevacizumab termasuk regimen yang relevan secara klinis yang lebih baik secara bermakna dalam hal overall response dibandingkan palbociclib plus letrozole (OR 8,95; 95% CrI 1,03-76,92).


• Kombinasi terapi hormon plus terapi target dikaitkan dengan diare, yang sebagian besar terpantau pada abemaciclib plus anastrozole, abemaciclib plus letrozole, abemaciclib plus fulvestrant, dan alpelisib plus fulvestrant; ruam dan fatigue, yang sebagian besar terpantau pada alpelisib plus fulvestrant; stomatitis dan pneumonia, yang sebagian besar terpantau pada everolimus plus exemestane; dan neutropenia dan leukopenia yang terpantau pada ribociclib dan palbociclib plus letrozole atau fulvestrant.


• Peningkatan ALT dan AST derajat 3-5 terpantau pada ribociclib plus letrozole, abemaciclib plus fulvestrant, palbociclib plus fulvestrant, dan everolimus plus exemestane. Hiperglikemia dilaporkan dengan alpelisib plus fulvestrant. 

 

Dari tinjauan sistematik dan meta-analisis ini menunjukkan bahwa penghambat CDK4/6 plus terapi hormon lebih baik dibandingkan terapi hormon standar dalam hal PFS dalam setting terapi lini pertama atau kedua. Selain itu, tidak terdapat regimen kemoterapi dengan atau tanpa terapi target yang lebih baik secara bermakna dalam hal PFS dibandingkan penghambat CDK4/6 plus terapi hormon.

 

Image: Ilustrasi (https://investorintel.com)

Referensi:

1. Giuliano M, Schettini F, Rognoni C, Milani M, Jerusalem G, Bachelot T, et al. Endocrine treatment versus chemotherapy in postmenopausal women with hormone receptor-positive, HER2-negative, metastatic breast cancer: A systematic review and network meta-analysis. Lancet Oncol. 2019 doi: 10.1016/S1470-2045(19)30420-6.

2. Matutino A, Joy AA, Brezden-Masley C, Chia S, Verma S. Hormone receptor-positive, HER2-negative metastatic breast cancer: Redrawing the lines. Curr Oncol. 2018 doi: 10.3747/co.25.4000.

Share this article
Related Articles
Probiotik dan Kemoterapi
Admin | 22 Nov 2018
Yukk Kenali Sindrom Hand Foot, dan Bagaimana Penanganannya?
Hastarita Lawrenti | 30 Jul 2019
Kanker Payudara Metastatik HR (+), HER2 (-) Pasca-menopause, Pilih Terapi Endokrin atau Kemoterapi?
Hastarita Lawrenti | 19 Sep 2019
Sariawan Akibat Radiasi dan Kemoterapi, Bagaimana Mengatasinya?
Hastarita Lawrenti | 14 Oct 2019
Kemoterapi Plus Radioterapi Pasien Karsinoma Nasofaring Metastatik
dr. Hastarita Lawrenti | 24 Aug 2020
Dampak Suplementasi Whey Protein terhadap Status Gizi dan Toksisitas Kemoterapi
dr. Dedyanto Henky Saputra | 18 Sep 2020