Detail Article
Hasil Luaran Ginjal pada Long COVID-19, Bagaimana?
dr. Laurencia Ardi
Sep 14
Share this article
38cd00fa4ddffa092d9903b16df9b172.jpg
Updated 20/Sep/2021 .

COVID-19 dikaitkan dengan morbiditas dan mortalitas jangka pendek (akut). Bukti menunjukkan bahwa selain dari kondisi penyakit akut, orang yang sembuh dari COVID-19 dapat mengalami gejala sisa pasca-akut, atau long COVID-19, yang dapat melibatkan manifestasi sistem organ ekstrapulmoner paru yang luas termasuk ginjal. Namun, belum ada penilaian yang mendalam dalam hal kondisi ginjal pasca-akut infeksi COVID-19.


Studi kohort dilakukan pada 1.726.683 veteran AS yang dari 01 Maret 2020 hingga 15 Maret 2021, termasuk 89.216 orang yang sembuh dari COVID-19 selama 30 hari dan 1.637.467 kontrol yang tidak terinfeksi. Dilakukan pemeriksaan risiko acute kidney injury (AKI), penurunan estimated glomerular filtration rate/eGFR, end stage kidney disease/ESKD, dan major adverse kidney events/MAKE. MAKE didefinisikan sebagai penurunan eGFR 50%, ESKD, atau semua penyebab kematian menggunakan regresi kelangsungan hidup dengan probabilitas terbalik, disesuaikan dengan karakteristik demografi dan kesehatan serta kovariat dimensi tinggi yang dipilih secara algoritmik termasuk diagnosis, pengobatan, dan tes laboratorium.

 

Hasilnya, orang yang sembuh dari COVID-19 selama 30 hari menunjukkan risiko AKI yang lebih tinggi, penurunan eGFR 30%, penurunan eGFR 40%, penurunan eGFR 50%, terjadinya ESKD dan MAKE. Peningkatan risiko hasil ginjal pasca-akut dinilai sesuai dengan tingkat keparahan infeksi akut (apakah pasien tidak dirawat di rumah sakit, dirawat di rumah sakit, atau menjalani perawatan intensif). Dibandingkan dengan kontrol yang tidak terinfeksi, orang yang sembuh dari COVID-19 selama 30 hari menunjukkan penurunan eGFR berlebih sebesar -3,26 (-3,58, -2,94), -5,20 (-6,24, -4,16), dan -7,69 (-8,27, -7,12) mL /min/1.73m2/tahun di non-rawat inap, rawat inap, dan mereka yang menjalani perawatan intensif selama fase akut infeksi COVID-19.

 

Simpulan:

Para penyintas COVID-19 menunjukkan peningkatan risiko luaran kondisi ginjal pada fase pasca-akut penyakit. Oleh karena itu, pada perawatan COVID-19 pasca-akut perlu mencakup perhatian pada penyakit ginjal.

 

 

Gambar: Ilustrasi (www.pexels.com)

Referensi:

Shehabi Y, Neto AS, Howe BD, Bellomo R, Arabi YM, Bailey M, et al. Early sedation with dexmedetomidine in ventilated critically ill patients and heterogeneity of treatment efect in the SPICE III randomised controlled trial. Intensive Care Med. 2021;47:455–66. 


Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
PUFA Omega-3 Memperbaiki Denyut Jantung Pasien Dialisis Kronik
Dokter Kalbemed | 30 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019