Detail Article
Alpha Lipoic Acid sebagai Terapi Potensial COVID-19 dalam Mencegah Badai Sitokin
dr. Lupita Wijaya
Sep 10
Share this article
28a52d2def704f92bce3b50b3871e8a8.jpeg
Updated 14/Sep/2021 .

Infeksi COVID-19 disebabkan oleh SARS-CoV-2, tipe virus RNA non-segmen. Virus ini mengandung beberapa protein struktural yang meliputi protein E, M, N, dan S. Protein S merupakan kunci utama yang bertanggungjawab dalam proses invasi virus SARS-CoV-2 ke dalam sel host, melalui ikatan protein S terhadap reseptor-reseptor ACE2. ACE2 diekspresikan tinggi dalam paru, ginjal, jantung, pembuluh darah, dan saluran gastrointestinal.


Ikatan ini memicu terjadinya replikasi virus yang progresif selama tahap invasi virus, yang menyebabkan menurunnya kadar ACE2, sehingga berdampak pada peningkatan kadar angiotensin II yang diperantarai oleh ACE1. Angiotensin II merangsang pembentukan ROS (reactive oxygen species) atau stress oksidatif sel, dengan mengaktivasi NADPH oxidase; dan memicu over-ekspresi sitokin-sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, MCP-1, IFN-γ) melalui stimulasi pada sel T CD4 dan CD8 T untuk mengaktifkan NF-Kb. Tingginya kadar ROS dan sitokin-sitokin pro-inflamasi, mendukung pembentukkan badai sitokin yang berperan dalam progresi COVID-19.1,2



ALA (Alpha Lipoic Acid), sebagai suatu substansi alami yang berasal dari makanan dan juga disintesis dalam tubuh, memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan.1,2 Pemberian ALA setelah replikasi virus awal terjadi, memberikan efek menurunkan reseptor ACE2 pasca-replikasi virus, dan menurunkan peningkatan kadar angiotensin II dengan menghambat ACE1. Dengan demikian, badai sitokin dan kerusakan/komplikasi jaringan sistemik, dapat dicegah atau diminimalisir.1 Dengan efek antioksidan ALA, ALA membantu meningkatkan kadar GSH (reduced glutathione), yang merupakan suatu antioksidan endogen esensial untuk pencegahan kerusakan sel-sel. Defisiensi GSH pada infeksi COVID-19 berhubungan erat dengan kenaikan kadar IL-6, disfungsi imun, dan kenaikan viral load.2


Studi oleh Zhong, et al, menunjukkan bahwa pemberian 1200 mg ALA, sekali sehari selama 7 hari, sebagai terapi tambahan bersama dengan terapi dasar COVID-19, menghasilkan tingkat mortalitas umum yang lebih rendah daripada kelompok plasebo, pada follow-up hari ke-30.2


Dalam studi ini, disimpulkan bahwa ALA memiliki efek potensial terapi untuk meningkatkan fungsi sel-sel imun, mencegah replikasi virus dan badai sitokin pada pasien dengan infeksi COVID-19. Dengan pemberian ALA sebagai terapi adjuvan pada terapi COVID-19, selain mencegah progresi infeksi dan komplikasi/kerusakan sistemik, juga menurunkan tingkat mortalitas umum, menjadi lebih rendah daripada kelompok non-ALA, pada pasien COVID-19.1,2



Gambar: Ilustrasi (Sumber: CDC)

Referensi:

1.   Sayiner S, Sehirli AO, Serakinci N. Alpha lipoic acid as a potential treatment for COVID-19 – A hypothesis. Current Topics in Nutraceutical Research. May 2021;19(2):172-5.

2.   Rochette L, Ghibu S. Mechanics insights of alpha-lipoic acid against cardiovascular diseases during COVID-19 infection. Int. J. Mol. Sci. 2021;22:7979.

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Adakah Manfaat Lebih Dari “Fix Dose Combination” Pregabalin-Mecobalamin?
Admin | 25 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Suplementasi Creatine Nitrate Meningkatkan Performa Latihan
Dokter Kalbemed | 24 Jan 2019
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019