Detail Article

Vitamin D untuk Jaga Daya Tahan Tubuh

Dokter Kalbemed
Mar 31
Share this article
img-vitamin-D.jpeg
Updated 22/Mei/2020 .

Akhir-akhir ini banyak yang membahas manfaat berjemur untuk menjaga daya tahan tubuh. Berjemur dapat meningkatkan produksi vitamin D di kulit, namun belum banyak yang tahu bahwa vitamin D juga berperan dalam menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit.

Akhir-akhir ini banyak yang membahas manfaat berjemur untuk menjaga daya tahan tubuh. Berjemur dapat meningkatkan produksi vitamin D di kulit, namun belum banyak yang tahu bahwa vitamin D juga berperan dalam menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah sakit. Berdasarkan penelitian pada tahun 2019 yang melibatkan 10.933 orang dari berbagai usia (0-95 tahun) di 15 negara, pemberian suplemen vitamin D mampu menurunkan risiko infeksi saluran napas akut seperti batuk, pilek, flu, atau infeksi paru.

 

Meskipun tinggal di negara tropis, ternyata banyak orang di Indonesia yang mengalami kekurangan vitamin D, mulai dari anak-anak, ibu hamil, orang dewasa, hingga lanjut usia. Berdasarkan penelitian di tahun 2018, sebanyak 61,25% ibu hamil mengalami kekurangan vitamin D dan lebih dari 85% tidak mendapat vitamin D yang cukup. Sedangkan 44% anak berusia 6 bulan sampai 12 tahun, baik di perkotaan maupun pedesaan, mengalami kekurangan vitamin D. Pada wanita dewasa sehat berusia 18-40 tahun, 63%-nya juga mengalami kekurangan vitamin D. Lebih banyak lagi pada orang lanjut usia, di mana 78,2%-nya kekurangan vitamin D. Selain itu, lebih dari 90% pekerja di dalam ruangan, seperti karyawan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya, juga mengalami kekurangan vitamin D.

 

Kekurangan vitamin D dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai kondisi penyakit, di antaranya osteoporosis, gangguan metabolik seperti sindrom metabolik dan diabetes, penyakit kardiovaskular, depresi dan gangguan fungsi kognitif, meningkatkan risiko terjadinya keganasan, serta gangguan imun seperti sklerosis multipel. Sayangnya tidak banyak yang mengetahui bahwa tubuhnya kekurangan vitamin D, karena gejala kekurangan vitamin D tidak spesifik, seperti nyeri atau kekakuan tulang, nyeri atau kelemahan otot, atau rambut rontok. Satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa seseorang kekurangan vitamin D adalah melalui pemeriksaan laboratorium.

 

Berikut adalah kriteria kadar vitamin D di dalam darah:

- Defisiensi (kekurangan vitamin D): <20 ng/mL

- Insufisiensi (ketidakcukupan vitamin D): 20 - <30 ng/mL

- Sufisiensi (vitamin D cukup atau normal): 30 - <100 ng/mL

- Toksik (vitamin D terlalu tinggi): ≥100 ng/mL

 

Salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan vitamin D adalah dengan konsumsi suplemen vitamin D, yang dosisnya disesuaikan dengan kondisi tiap individu.

 

Silakan baca juga: Prove D3, Vitamin D3 (cholecalciferol) 1000 IU (25 mcg) untuk meningkatkan kadar 25(OH)D dalam darah

 

Image: Photo by Leah Kelley from Pexels

Referensi:

1. Martineau AR, Jolliffe DA, Greenberg L, Aloia JF, Bergman P, Dubnov-Raz G,  et al. Vitamin D supplementation to prevent acute respiratory infections: Individual participant data meta-analysis. Health Technol Assess. 2019;23(2):1-44

2. Aji AS, Desmawati D, Yerizel E, Lipoeto NI. The association between lifestyle and maternal vitamin D during pregnancy in West Sumatra, Indonesia. Asia Pac J Clin Nutr. 2018;27(6):1286-93. doi: 10.6133/apjcn.201811_27(6).0016

3. Sandjaja S, Budiman B, Harahap H, Ernawati F, Soekatri M, Widodo Y, et al. Food consumption and nutritional and biochemical status of 0•5-12-year-old Indonesian children: the SEANUTS study. British Journal of Nutrition 2013;110,11–20

4. Yang Z, Laillou A, Smith G, Schofield D, Moench-Pfanner R. A review of vitamin D fortification: implications for nutrition programming in Southeast Asia. Food and Nutrition Bulletin 2013;34(2):81-9

5. Hidayat R, Setiati S, Soewondo P. The association between vitamin D deficiency and type 2 diabetes mellitus in elderly patients. Acta Med Indones. 2010;42(3):123-9

6. Sowah D, Fan X, Dennett L, Hagtvedt R, Straube S. Vitamin D levels and deficiency with different occupations: A systematic review. BMC Public Health 2017;17:519

Share this article
Related Articles
Related Products
029ea1318568fe134801c4aa8a7bd60b.jpg
d312c5f2eaf4e114f8be7b492c705cb8.jpg
04f01f30b0a4f49c40e77ca6d6ef7b77.jpg
f7a08ca651e80e18ec2d78f8c0339385.jpg
34ee00b27c1229549b200d4f5154b54a.jpg
f8542d12c739ca676e2027f605a3d22b.jpg
feb9aa37ff77891d758c3c7fd6c4f553.jpg
9eef6d0bdbebd2370dc2261b628cf673.jpg
904fa48e7a72a2bd2060d442710a32b9.jpg
814c002d276c3a8b0c19260596fa063a.jpg