Detail Article
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya
Mar 30
Share this article
e2330559849fa0703cfa7770e48ae9a5.jpg
Updated 29/Mar/2022 .

Pada manajemen terapi diabetes melitus tipe 2, metformin masih menjadi obat antidiabetik oral pertama yang diberikan dalam terapi awal DM, di mana seringkali dikombinasikan dengan obat antidiabetik lainnya ketika target glikemik belum tercapai. SGLT-2 inhibitor dan DPP-4 inhibitors direkomendasikan sebagai terapi lini kedua yang dikombinasikan dengan metformin. Sedangkan, sulfonilurea menjadi pilihan alternatif.

Dapagliflozin adalah salah satu obat antidiabetik oral golongan SGLT-2 inhibitor yang mampu menurunkan glukosa plasma puasa, HbA1C, berat badan, dan tekanan darah sistolik. Di sisi lain, saxagliptin, obat golongan DPP-4 inhibitor, mampu menurunkan HbA1C, tanpa menaikkan berat badan dan risiko hipoglikemianya lebih rendah dari sulfonilurea. Beberapa studi menunjukkan bahwa kombinasi dapagliflozin dan saxagliptin memberikan manfaat pada kardiovaskular dan ginjal pasien DM tipe 2 yang tidak terkontrol dengan metformin dosis maksimal. Kemudian, karena 70% pasien DM tipe 2 memiliki NAFLD (perlemakan hati) yang berkorelasi kuat dengan peningkatan resistensi insulin, maka diharapkan dalam terapi DM, kadar lemak juga dapat diturunkan guna menekan progresivitas dari penyakit DM tersebut.


Studi oleh Frias JP, et al, yang dilakukan dengan metode fase 3b, global, multisenter, acak, tersamar ganda, pada 443 pasien DM tipe 2 usia >18 tahun dengan HbA1C 7,5-10,5%, IMT 20-45 (normal-obesitas derajat 2) dan tidak terkontrol oleh >1.500 mg/hari metformin. Kelompok 1 (n: 227) diberikan obat antidiabetik oral tambahan berupa dapagliflozin 10 mg (1x/hari) dan saxagliptin 5 mg (1x/hari). Kelompok 2 (n: 216) diberikan obat antidiabetik oral tambahan berupa glimepiride 1 mg (dititrasi per 3 minggu hingga mencapai 6 mg) 1x/hari. Intervensi ini berlangsung selama 52 minggu yang diperpanjang hingga 156 minggu. Follow-up yang dilakukan berupa proporsi pasien yang mencapai target HbA1C, kebutuhan terapi intensifikasi, berat badan total, densitas lemak hati, volume lemak visceral dan subkutan, serta efek samping hipoglikemia.


Hasil studinya:

  • Proporsi pasien yang mengalami penurunan HbA1C ke target 7% pada minggu ke-156, lebih banyak secara signifikan pada kelompok 1 (21,4%) daripada kelompok 2 (11,7%)
  • Terdapat penurunan risiko terapi intensifikasi secara signifikan, sebesar 48% pada kelompok 2, di minggu ke-156
  • Terdapat penurunan berat badan total yang signifikan pada kelompok 2, sejak minggu ke-52 hingga 156
  • Terdapat penurunan densitas lemak hati yang lebih signifikan pada kelompok 2, sejak minggu ke-52 hingga 122
  • Terdapat penurunan volume lemak viseral yang signifikan pada kelompok 2, sejak minggu ke-52 hingga 122
  • Terdapat penurunan volume lemak subkutan yang signifikan pada kelompok 2, sejak minggu ke-52 hingga 122


Pada studi ini, disimpulkan bahwa pemberian obat oral antidiabetik tambahan berupa dapagliflozin 10 mg (1x/hari) dan saxagliptin 5 mg (1x/hari) selama 52 minggu yang diperpanjang hingga 156 minggu, pada 227 pasien DM tipe 2 usia >18 tahun, yang tidak terkontrol dengan >1.500 mg/hari metformin, dengan HbA1C 7,5-10,5% dan IMT 20-45 (normal-obesitas derajat 2); menurunkan HbA1C ke target 7% dengan proporsi pasien lebih tinggi, kebutuhan terapi intensifikasi lebih rendah, serta penurunan berat badan, densitas lemak hati, volume lemak viseral dan subkutan lebih besar, secara signifikan



Gambar: Ilustrasi (Foto oleh Racool_studio - www.freepik.com)

Referensi:

Frias JP, Maaske J, Suchower L, Johansson L, Hockings PD, Iqbal N et al. Long-term effects of dapagliflozin plus saxagliptin versus glimepiride on a background of metformin in patients with type 2 diabetes: Results of a 104-week extension to a 52-week randomized, phase 3 study and liver fat MRI substudy. Diabetes Obes Metab. 2022;24:61-71. 


Share this article
Related Articles
Metformin dan Perubahan Gaya Hidup Bermanfaat untuk Anak dengan Obesitas dan Resistensi Insulin
dr. Lyon | 20 Jul 2022
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022