Detail Article
Sindrom Trombositopenia setelah Vaksin COVID-19, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Della Sulamita
Sep 23
Share this article
f4013e336e665ba6104ede7cf2b42c26.jpg
Updated 28/Sep/2021 .

Para peneliti dari berbagai negara di dunia, berkolaborasi untuk mengembangkan vaksin COVID-19 yang berpotensi dapat mengontrol dan mencegah infeksi SARS-CoV-2. Sejak 20 April 2021, setidaknya sudah ada 13 jenis vaksin COVID-19 yang memiliki lisensi penuh atau izin penggunaan darurat dari negara atau wilayah tertentu. 

Dengan adanya program vaksin COVID-19, muncul isu yang berkembang mengenai efek samping vaksin. Salah satunya adalah isu vaksin COVID-19 yang dikaitkan dengan kejadian trombosis dan trombositopenia yang dinamakan thrombosis with thrombocytopenia syndrome (TTS). TTS dikenal juga sebagai vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia dan vaccine-induced prothrombotic immune thrombocytopenia. Beberapa kasus dilaporkan berkaitan dengan kejadian trombotik yang tidak biasa. Pada April 2021, dilaporkan 169 kasus CVST (cerebral vein sinus thrombosis) dan 53 kasus trombosis vena splanika setelah vaksin ChAdOx1 nCoV-19, diperkirakan insidens sebesar 5 per satu juta penduduk dan 1,6 per satu juta penduduk. Per 12 April 2021, Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) melaporkan 6 kasus CVST setelah pemberian 6,86 juta dosis Ad26.COV2.S, dan dilaporkan insidens sebesar 0,87 kasus per satu juta penduduk.

 

Studi review oleh dr. Lai dan kawan-kawan, ingin mengevaluasi kejadian thrombosis with thrombocytopenia syndrome yang berhubungan dengan vaksin COVID-19. Kebanyakan kasus terjadi pada wanita berusia <55 tahun. Gejala dirasakan dalam 2 minggu setelah vaksin COVID-19, dan hanya 3 kasus TTS yang terjadi setelah 2 minggu pemberian vaksin COVID-19. Perdarahan serebral merupakan komplikasi yang dapat terjadi, dengan gejala utama nyeri kepala. Gejala lainnya berupa letargi, mual, demam, mengigil, mialgia, dispnea, nyeri punggung, memar, hemiparesis, afasia, gangguan penglihatan, nyeri abdomen, perubahan kesadaran, dan kaki bengkak. Didapatkan hasil laboratorium yang abnormal seperti trombositopenia, peningkatan level D-dimer, pemanjangan prothrombin time (PT) dan penurunan fibrinogen. Onset gejala dirasakan 4 hingga 19 hari sejak vaksin. Case fatality rate TTS sebesar 39%.

 

Mekanisme TTS masih belum diketahui dengan jelas, namun TTS diduga di mediasi oleh platelet-activating antibodies yang melawan platelet factor 4 (PF4), mekanisme ini hampir sama dengan mekanisme autoimun heparin-induced thrombocytopenia. Pada 6 kasus dengan CVST setelah vaksin Ad26.COV2.S, tatalaksana yang diberikan berupa antikoagulan non-heparin, transfusi platelet, dan intravena immunoglobulin (IVIG). Penggunaan antikoagulan non-heparin seperti fondaparinux dan argatroban masih terbatas. Namun, fondaparinux atau argatroban dapat diberikan jika trombosit lebih dari 50 x 109/L dan tidak ada perdarahan serius. IVIG dapat diberikan 0,5 – 1 g/kg/hari selama 2 hari. Internasional Society on Thrombosis and Hemostasis juga merekomendasikan early plasma exchange.

 

Tenaga kesehatan harus memberikan edukasi kepada pasien penerima vaksin, jika menemukan gejala seperti sesak napas, nyeri dada, pembengkakan kaki, nyeri perut persisten, nyeri kepala berat, pandangan buram, atau gejala neurologi lainnya dalam jangka waktu 4-20 hari setelah vaksin harus segera melaporkan ke fasilitas kesehatan. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan CT, MRI, pengukuran PT, aPTT, level fibrinogen, dan D-dimer pada pasien tersebut.

 

Kesimpulan studi ini adalah pandemi COVID-19 menyebabkan dampak yang sangat luas, dibutuhkan pengembangan vaksin COVID-19 yang cepat. Meskipun didapatkan laporan kejadian TTS, namun uji klinis menunjukkan efektivitas dan keamanan vaksin COVID-19. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya harus tetap mewaspadai kejadian TTS pada kelompok masyarakat yang mendapatkan vaksin, terutama dalam dalam 2 minggu setelah pemberian vaksin dosis pertama. Dokter diharapkan mengetahui gejala, pemeriksaan dan tatalaksana dalam kasus TTS.

 

 

Gambar: Ilustrasi (Photo by Artem Podrez from Pexels)

Referensi:

Lai CC, Ko WC, Chen CJ, Chen PY, Huang YC, Lee PI, et al. COVID-19 vaccines and thrombosis with thrombocytopenia syndrome. Expert Rev Vaccines. 2021 Aug 3;20(8):1027–35. 

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Piperacillin/tazobactam untuk Anak dengan Demam Neutropenia
dr Johan Indra Lukito | 11 Mar 2019