Peningkatan tekanan darah sering terjadi pada fase awal perdarahan intraserebral dan berhubungan dengan prognosis yang buruk. Meskipun pedoman AHA/ASA tahun 2022 merekomendasikan penurunan tekanan darah sistolik secara intensif hingga <140 mmHg, manfaat dan risiko jangka panjangnya masih menjadi kontroversi. Meta-analisis ini membandingkan terapi antihipertensi intensif (target <140 mmHg) dengan terapi konvensional (target <160 mmHg) pada pasien dengan perdarahan intraserebral, dengan analisis tambahan berdasarkan volume hematoma dan regimen obat antihipertensi. Penelusuran sistematis pada basis data Embase, PubMed, Cochrane Library, dan Web of Science hingga 31 Maret 2024 mengidentifikasi 12 uji klinis teracak terkontrol atau studi kohort yang melibatkan 9.271 pasien yang mendapatkan terapi dalam waktu 6 jam sejak onset. Terapi intensif secara signifikan menurunkan perluasan hematoma dalam 24 jam, tetapi meningkatkan risiko insufisiensi ginjal, sementara secara keseluruhan tidak ditemukan perbedaan bermakna terhadap kemandirian fungsional maupun mortalitas pada 90 hari. Analisis subkelompok menunjukkan peningkatan kemandirian fungsional dan penurunan perdarahan ulang pada pasien dengan volume hematoma >15 mL tanpa gangguan fungsi ginjal. Network meta-analysis menunjukkan bahwa labetalol memiliki risiko mortalitas paling rendah di antara agen antihipertensi yang dievaluasi. Secara keseluruhan, penurunan tekanan darah secara intensif mungkin lebih bermanfaat pada hematoma berukuran besar, sementara labetalol tampak menjadi pilihan antihipertensi yang paling menguntungkan.
Perdarahan intraserebral sering disertai hipertensi pada tahap awal, dan peningkatan tekanan darah juga diketahui berhubungan dengan prognosis yang buruk. Oleh karena itu, pedoman klinis AHA/ASA tahun 2022 merekomendasikan penurunan tekanan darah sistolik hingga kurang dari 140 mmHg pada fase awal perdarahan intraserebral sebagai terapi standar. Namun, luaran jangka panjang terkait kejadian tidak diinginkan, mortalitas, dan disabilitas akibat terapi antihipertensi intensif tersebut masih menjadi kontroversi, terutama pada kasus dengan volume perdarahan yang berbeda. Oleh karena itu, meta-analisis ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan keamanan terapi antihipertensi intensif dengan target tekanan darah sistolik <140 mmHg dan strategi konvensional dengan target tekanan darah sistolik <160 mmHg setelah perdarahan intraserebral, khususnya pada pasien dengan volume hematoma serebral yang berbeda. Selain itu, dilakukan network meta-analysis terhadap berbagai obat antihipertensi yang umum digunakan untuk menganalisis probabilitas mortalitas masing-masing regimen pada terapi antihipertensi intensif maupun konvensional pada pasien dengan perdarahan intraserebral.
Penelusuran literatur dilakukan menggunakan kata kunci “cerebral hemorrhage”, “hypertension”, dan “antihypertensive treatment” pada basis data Embase, PubMed, Cochrane Library, dan Web of Science tanpa batasan waktu maupun bahasa hingga 31 Maret 2024. Jenis penelitian yang disertakan meliputi studi kohort atau uji klinik acak terkontrol (RCT). Kriteria inklusi penelitian adalah sebagai berikut: (1) desain penelitian berupa studi kohort atau uji klinik acak terkontrol; (2) subjek penelitian adalah pasien dengan perdarahan intraserebral yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan pencitraan; (3) pasien berusia dewasa >18 tahun; dan (4) pasien mengalami peningkatan tekanan darah sistolik (>2 kali pengukuran sebesar 150–220 mmHg) serta menerima terapi dalam waktu 6 jam sejak onset perdarahan intraserebral.
Indikator efektivitas meliputi kemandirian fungsional dalam 90 hari berdasarkan modified Rankin scale (mRS), mortalitas dalam 90 hari, perluasan hematoma dalam 24 jam (peningkatan hematoma >33% atau >12,5 mL dalam 24 jam), serta perburukan neurologis dalam 24 jam, yaitu penurunan skor Glasgow Coma Scale (GCS) ≥2 poin atau peningkatan skor National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS) ≥4 poin dalam 24 jam. Indikator keamanan meliputi insufisiensi ginjal dalam 90 hari, gagal ginjal, kejadian koroner akut, perdarahan ulang serebral, hipotensi, infark serebral, dan mortalitas.
Selanjutnya, dilakukan Bayesian network meta-analysis untuk menentukan probabilitas peringkat setiap terapi dalam diagram peringkat di antara seluruh terapi yang dibandingkan. Nilai surface under the cumulative ranking curve (SUCRA) untuk masing-masing terapi digunakan untuk menentukan peringkat terapi, di mana nilai satu menunjukkan bahwa suatu terapi hampir pasti merupakan yang terbaik, sedangkan nilai nol menunjukkan bahwa terapi tersebut hampir pasti merupakan yang terburuk.
Sebanyak 12 uji klinik acak terkontrol atau studi kohort dimasukkan dalam penelitian ini, dengan total 9.271 pasien. Pada luaran kemandirian fungsional dan mortalitas dalam 90 hari, perbandingan antara terapi antihipertensi intensif dan strategi konvensional menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna. Namun, terapi antihipertensi intensif secara signifikan menurunkan kejadian perluasan hematoma dalam 24 jam pada pasien dengan perdarahan intraserebral dibandingkan strategi konvensional (RR = 0,76; 95% CI = 0,67–0,87; p < 0,0001). Dari sisi keamanan, dibandingkan terapi antihipertensi konvensional, terapi antihipertensi intensif berhubungan dengan peningkatan probabilitas terjadinya insufisiensi ginjal dalam 90 hari (RR = 2,31; 95% CI = 1,05–5,05; p = 0,04).
Analisis subkelompok dilakukan untuk memastikan apakah efektivitas dan keamanan terapi antihipertensi bergantung pada volume perdarahan intraserebral. Pada pasien dengan volume hematoma serebral <15 mL, terapi antihipertensi intensif hanya menunjukkan keunggulan dalam menurunkan perluasan hematoma 24 jam (RR = 0,77; 95% CI = 0,67–0,89; p = 0,0003), tetapi tidak meningkatkan kemandirian fungsional 90 hari, mortalitas, maupun perburukan neurologis dalam 24 jam, serta secara signifikan meningkatkan kejadian gagal ginjal dalam 90 hari. Sebaliknya, pada subkelompok dengan volume hematoma serebral >15 mL, terapi antihipertensi intensif menunjukkan keunggulan yang jelas dalam meningkatkan kemandirian fungsional 90 hari (RR = 0,78; 95% CI = 0,65–0,94; p = 0,01) dan menurunkan perdarahan ulang intrakranial (RR = 0,68; 95% CI = 0,49–0,94; p = 0,02), serta tidak menimbulkan efek merugikan terhadap fungsi ginjal.
Selanjutnya, dilakukan Bayesian network meta-analysis untuk menilai risiko mortalitas dari empat regimen obat antihipertensi. Nicardipine memiliki risiko mortalitas yang sebanding dengan labetalol (RR = 1,08; 95% CI = 0,50–2,30), namun berdasarkan peringkat SUCRA, urutan risiko mortalitas dari tertinggi hingga terendah adalah nitroprusside (0,89), nicardipine (0,39), kombinasi nicardipine dengan labetalol (0,38), dan labetalol (0,33). Secara keseluruhan, di antara keempat regimen antihipertensi tersebut, nitroprusside memiliki risiko kematian tertinggi, sedangkan labetalol merupakan regimen dengan hasil terbaik.
Simpulan
Terapi antihipertensi intensif sebaiknya menjadi pilihan utama pada perdarahan intraserebral akut apabila volume perdarahan intraserebral lebih dari 15 mL. Di antara regimen antihipertensi yang diteliti, labetalol tunggal menunjukkan efek terbaik. Oleh karena itu, labetalol direkomendasikan sebagai obat antihipertensi pada pasien dengan perdarahan intraserebral karena dapat secara efektif menurunkan mortalitas pasien.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato elements)
Referensi:
- Greenberg SM, Ziai WC, Cordonnier C, Dowlatshahi D, Francis B, Goldstein JN, et al. 2022 Guideline for the management of patients with spontaneous intracerebral hemorrhage: a guideline from the American Heart Association/American Stroke association. Stroke. 2022;53(7):e282–361. https://doi.org/10.1161/STR.0000000000000407.
- Li C, Li L, Li Z, Shi X, Bao Y. Is the effect of intensive antihypertensive treatment in acute intracerebral hemorrhage dependent on hematoma volume? A traditional meta-analysis of the effect of antihypertensive regimens, a Bayesian network meta-analysis of the mortality of antihypertensive drugs and systematic review. CNS Drugs. 2025;39:443-56. doi: 10.1007/s40263-025-01174-8.