Detail Article
Profil Keamanan Fondaparinux Lebih Baik Dibandingkan UFH sebagai Antikoagulan Pasca-tindakan PCI
dr. Lyon Clement
Sep 12
Share this article
0f6436303f12e83050f8a86d0aa1452f.jpg
Updated 16/Sep/2022 .

Pada penyintas henti jantung di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac arrest/OHCA) karena infark miokard akut (IMA) yang lazimnya dilakukan tindakan revaskularisasi miokardium dengan bantuan sirkulasi secara mekanik, penggunaan antikoagulan pasca-tindakan PCI umumnya diberikan, baik dengan unfractioned heparin (UFH) atau fondaparinuxDari penelitian, fondaparinux memiliki profil keamanan yang superior dibandingkan UFH dengan kejadian perdarahan lebih rendah pada pasien IMA yang sempat mengalami henti jantung di luar rumah sakit yang menjalani tindakan PCI.

Penelitian retrospektif dilakukan untuk membandingkan efektivitas jangka pendek UFH dibandingkan fondaparinux pada penyintas OHCA karena infark miokard.

 

Kriteria inklusi penelitian antara lain:

· Semua pasien pasca-IMA penyintas OHCA yang berhasil menjalani pemasangan stent (percutaneous coronary intervention/PCI)

· Datang ke RS dalam kondisi hidup atau sedang dilakukan resusitasi jantung paru (RJP)

Sementara itu, kriteria eksklusinya antara lain:

· Pasien yang mendapatkan terapi medis saja atau menjalani PCI namun tidak berhasil.

· Pasien yang dipindahkan ke unit layanan kesehatan lain.

· CrCl ≤20 mL/menit

· Menerima atau diindikasikan untuk menerima terapi antikoagulan oral atau low molecular weight heparin (LMWH) selama dirawat di RS.

· Riwayat heparin-induced thrombocytopenia (HIT).

· Pasien yang dipulangkan dengan terapi antitrombotik tunggal.

 

Semua pasien diberikan terapi awal berupa bolus heparin 5.000 U dan terapi dual antiplatelet dengan aspirin (dosis muat 250-500 mg diikuti 100 mg/hari) dan clopidogrel (dosis muat 600 mg dilanjutkan 75 mg/hari) atau ticagrelor (dosis muat 180 mg diikuti 2 x 90 mg) sebelum atau saat PCI. Bolus heparin diberikan selama PCI untuk mempertahankan clotting time (CT) pada 250-300 detik. Pasca-tindakan PCI, pasien diberikan salah satu terapi berikut berdasarkan pertimbangan dokter:

· UFH IV kontinu dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan pasien dan dititrasi untuk mempertahankan partial thromboplastin time (PTT) pada 50-70 detik.

· Fondaparinux 1 x 2,5 mg SC

 

Keluaran primer yang dievaluasi adalah kejadian net adverse cardiovascular events (NACEs), gabungan kejadian perdarahan dan major adverse cardiovascular events (MACEs), termasuk mortalitas karena semua sebab, stroke, transient ischemic attack (TIA), re-infark, dan revaskularisasi yang tidak terencana. Keluaran sekunder yang dievaluasi adalah kejadian MACE saja. Perdarahan diklasifikasikan berdasarkan kriteria Bleeding Academic Research Consortium (BARC). Perdarahan mayor didefinisikan sebagai BARC ≥ 3. Keluaran primer dan sekunder dinilai selama periode follow-up hingga 1 bulan.

 

Hasilnya, dari 3.256 subjek dengan IMA, 94 subjek dengan IMA yang berhasil menjalani PCI yang mengalami OHCA. Di antara pasien dengan OHCA tersebut, 41 subjek (43,6%) diobati dengan UFH dan 53 subjek (56,4%) diobati dengan fondaparinux pasca-PCI. Di akhir periode follow up selama 1 bulan (35±6 hari), insiden NACEs secara keseluruhan adalah 47,9% (UFH vs. fondaparinux = 65,9% vs. 35,8%; p=0,007). Dari 46 kejadian yang termasuk dalam NACEs, 26 kejadian (57,8%) merupakan komplikasi terkait perdarahan yang terjadi selama rawat inap. Analisis data lebih lanjut pada populasi unmatched dan populasi matched menunjukkan bahwa perdarahan lebih jarang terjadi pada subjek yang mendapatkan fondaparinux dibandingkan UFH (populasi unmatched; n=46; UFH vs. fondaparinux = 51,5% vs. 17,0%; p =0,01) (populasi matched; n=28; UFH vs. fondaparinux = 32,1% vs. 7,1%; p=0,04). 

 

Tidak terdapat perbedaan kejadian kematian, stroke atau TIA, dan re-infark antara subjek yang mendapatkan UFH dibandingkan fondaparinux. Perdarahan mayor terjadi pada 8 subjek (19,5%) pada populasi unmatched dan pada 5 subjek (17,9%) pada populasi matched, seluruhnya pada subjek yang mendapatkan UFH. Tidak terdapat perbedaan kejadian MACEs antara subjek yang mendapatkan UFH dibandingkan fondaparinux.


Simpulan:

Fondaparinux memiliki profil keamanan yang superior dibandingkan UFH dengan kejadian perdarahan lebih rendah tanpa meningkatkan kejadian tromboemboli setelah 1 bulan pada pasien IMA yang sempat mengalami henti jantung di luar rumah sakit yang menjalani tindakan PCI.

 


Gambar: Ilustrasi (Freepik)

Referensi:

De Luca L, Uguccioni M, Natale E, Pugliese M, Terranova A, Biffani E, et al. Effectiveness of fondaparinux vs unfractionated heparin following percutaneous coronary intervention in survivors of out-of-hospital cardiac arrest due to acute myocardial infarction. Eur J Clin Pharm. 2021;77: 1563-7


Share this article
Related Articles
Pemanis Buatan, Adakah Korelasinya Dengan Penyakit Kardiovaskuler?
dr. Kupiya | 20 Sep 2022
Suplementasi Vitamin D Bermanfaat pada Pasien Hipertensi Esensial
dr. Esther Kristiningrum | 02 Sep 2022
Efek Kardioprotektif Kombinasi Propofol–Dexmedetomidine pada Operasi Jantung Terbuka
dr. Laurencia Ardi | 05 Agt 2022
Kombinasi Terapi Vasopressin, Steroid, Epinephrine pada Henti Jantung, Ini Manfaatnya
dr. Laurencia Ardi | 01 Agt 2022
L-carnitine untuk Anemia pada Penderita Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis, Ini Studi Meta-analisisnya
dr. Lyon Clement | 29 Jul 2022
Vitamin C Memperbaiki Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri Jantung
dr. Esther Kristiningrum | 15 Jul 2022
Potensi Citicoline sebagai Terapi Neuroprotektif yang Menjanjikan pada Anak Pasca-henti Jantung
dr. Allen | 04 Jul 2022
Efikasi dan Keamanan Asam Traneksamat pada Operasi Non-jantung
dr. Hastuti Erdianti | 23 Jun 2022
Fondaparinux Sebagai Profilaksis VTE Pascaoperasi Tulang Belakang Lumbal
dr. Martinova Sari Panggabean | 19 Mei 2022
Campuran Obat Antihipertensi dan NSAID Meningkatkan Risiko Terjadinya Gagal Ginjal Akut
dr. Kupiya | 17 Mei 2022