Detail Article
Kombinasi Acetyl-L-Carnitine, ALA, dan CoQ10 Berpotensi Mencegah Hepatotoksisitas Disebabkan Obat Antituberkulosis.
dr. Lyon Clement
Agt 08
Share this article
7c4e560304e515db33420402c6ffb1ec.jpg
Updated 08/Agt/2022 .

Penelitian terkini menunjukkan bahwa stres oksidatif dan disfungsi mitokondria dapat berhubungan dengan kerusakan hati yang disebabkan oleh obat (drug-induced liver injury/DILI). Maka, terapi yang menjadikan stres oksidatif dan disfungsi mitokondria sebagai target dapat menjadi pendekatan terapi yang mutakhir untuk mencegah DILI yang berkaitan dengan terapi obat antituberculosis (OAT). 

Uji klinis tersamar ganda kombinasi suplemen mitokondria dan antioksidan, termasuk acetyl-L-carnitine (ALCAR), alpha-lipoic acid (ALA), dan Coenzyme Q10 (CoQ10) berpotensi mampu mencegah terjadinya DILI akibat terapi OAT, hal ini dari kesimpulan studi tersebut yang dilakukan oleh Reza Hakimizad, dari Students Research Committee, School of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, Isfahan University of Medical Sciences, Isfahan, Iran dan kolega yang telah dipublikasikan dalam Iranian Journal of Pharmaceutical Research tahun 2021


Sejumlah 100 subjek dengan TB diikutsertakan dalam penelitian ini. Subjek-subjek tersebut dialokasikan secara acak ke dalam kelompok uji atau plasebo (perbandingan 1:1). Kedua kelompok mendapatkan pengobatan OAT dengan regimen standar mencakup isoniazid (5 mg/kg), rifampin (10 mg/kg), ethambutol (15 mg/kg), dan pyrazinamide (25 mg/kg) berdasarkan regimen standar WHO. Sebagai tambahan, kelompok uji dan plasebo masing-masing mendapatkan tambahan terapi berikut: Kelompok uji: kapsul CoQ10 (200 mg) + ALA (250 mg) + ALCAR (250 mg) dua kali sehari selama 2 minggu; Kelompok plasebo: kapsul plasebo 2 kali sehari selama 2 minggu. Pengobatan tambahan tersebut dimulai secara bersamaan dengan OAT. 


Dari hasil tersebut menunjukkan tidak terdapat perbedaan kadar alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), bilirubin total (TBil), dan alkali fosfatase (ALP) pada baseline antara kedua kelompok. Namun, rerata kadar AST dan ALT lebih tinggi secara signifikan pada kelompok plasebo daripada kelompok uji setelah 2 minggu terapi (p=0,003). Kejadian DILI pada kelompok uji (n=3, 6,8%) secara signifikan lebih sedikit dibandingkan kelompok plasebo (n=11, 25,6%; p=0,017). Selama periode studi, tidak terjadi efek samping yang bermakna pada kelompok uji.



Gambar: Ilustrasi (sumber: https://kebijakankesehatanindonesia.net/)

Referensi: Hakimizad R, Soltani R, Khorvash F, Marjani M, Dastan F. The effect of acetyl-L-carnitine, Alpha-lipoic acid, and coenzyme q10 combination in preventing anti-tuberculosis drug-induced hepatotoxicity: a randomized, double-blind, placebo-controlled clinical trial. IJPR. 2021; 20: 431-40.

Share this article
Related Articles
Infeksi Serius pada Paruh Baya Berhubungan dengan Alzheimer dan Penyakit Parkinson Lebih Awal
dr. Kupiya | 23 Sep 2022
Lebih dari 50% Penyakit Menular Diperparah oleh Perubahan Iklim
dr. Kupiya | 13 Sep 2022
Manfaat Tecovirimat pada Monkeypox
dr Kupiya | 09 Agt 2022
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
Virus Cacar Monyet, Inang dan Jalur Penularannya. Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Zoonosis Patogen
dr. Kupiya | 25 Mei 2022
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
Pemberian Levofloxacin Menurunkan Risiko Kematian pada Pneumonia yang Disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia
dr. Lyon Clement | 05 Mei 2022
24 Fakta Seputar Tuberkulosis yang Perlu Diketahui
dr. Johan Indra Lukito | 24 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Dolutegravir, Obat HIV Lini Pertama/Kedua untuk Anak-anak
dr. Yohanes Jonathan | 17 Feb 2022