Detail Article
L-carnitine untuk Anemia pada Penderita Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis, Ini Studi Meta-analisisnya
dr. Lyon Clement
Jul 29
Share this article
9ae7b2e01cc53b53b6319bb891b4f153.jpg
Updated 01/Agt/2022 .

L-carnitine adalah senyawa turunan asam amino yang ada di hampir semua spesies hewan. Fungsi utama L-carnitine dalam organisme adalah untuk mengangkut asam lemak rantai panjang ke dalam matriks mitokondria untuk β-oksidasi dan siklus asam trikarboksilat untuk menghasilkan ATP untuk menghasilkan energi. Namun, pada pasien gagal ginjal kronis, terutama yang menjalani hemodialisis, mengalami defisiensi L-carnitine karena asupan yang berkurang atau bersihan yang meningkat selama dialisis, sehingga menimbulkan beberapa gejala seperti anemia, hipotensi berkaitan dengan dialisis, kerusakan otot jantung, dan malnutrisi.


Beberapa RCT (randomized controlled trial) menunjukkan bahwa suplementasi L-carnitine dapat meningkatkan kelangsungan hidup sel darah merah, yang mengarah pada penurunan dosis ESA (erythropoiesis stimulating agent) yang diperlukan dan meningkatkan respons ESA. Namun, penelitian lain menunjukkan hasil yang bertentangan. Oleh karena itu, meta-analisis dilakukan untuk mengumpulkan data dosis ESA dan erythropoietin responsiveness index (ERI) untuk mengevaluasi efikasi L-carnitine dalam pengobatan anemia pada pasien hemodialisis.


Kriteria inklusi penelitian yang dimasukkan dalam meta-analisis adalah:

1. Subjek berusia ≥18 tahun

2. RCT dengan desain paralel dan crossover yang membandingkan suplementasi L-carnitine dibandingkan plasebo atau tanpa pengobatan.

3. Diagnosis gagal ginjal stadium akhir/end-stage renal disease (ESRD) yang telah menjalani hemodialisis selama minimal 12 minggu.

4. Subjek menjalani hemodialisis rutin dengan durasi tiap sesi selama 4 jam, 2 atau 3 kali seminggu.

 

Uji klinis yang melakukan suplementasi L-carnitine secara per oral ataupun intravena dalam 6 bulan terakhir dan yang melakukan suplementasi L-carnitine selama kurang dari 1 bulan dieksklusi dari penelitian ini. Keluaran primer yang dinilai dalam penelitian ini adalah ERI. ERI dihitung dengan rumus sebagai berikut: ERI = dosis ESA per minggu (IU)/berat badan (kg)/kadar hemoglobin (mg/dL). Keluaran sekunder yang dinilai antara lain dosis ESA yang diperlukan, hemoglobin, hematokrit, kadar L-carnitine bebas dalam serum, dan efek samping suplementasi L-carnitine.


Hasilnya, sejumlah 18 uji klinis yang memenuhi syarat melibatkan 1.090 subjek diikutsertakan dalam meta-analisis ini. Tujuh uji klinis dengan 533 subjek melaporkan data perbandingan ERI antara kelompok L- carnitine dan kelompok kontrol. Durasi terapi L-carnitine lebih dari 6 bulan. Dibandingkan kelompok kontrol, penurunan ERI yang signifikan diamati pada kelompok L-carnitine (MD: 2,72, 95% CI −3,20 to −2,24; p < 0,00001).

Sembilan uji klinis dengan 456 subjek melaporkan dosis ESA yang diperlukan. Dibandingkan kelompok kontrol, pemberian dosis ESA yang diperlukan menurun secara signifikan pada kelompok L-carnitine selama periode penelitian (MD: −1,70; 95% CI −2,04 to −1,36; p < 0,00001).


Tidak terdapat perbedaan signifikan yang diamati pada hemoglobin dan hematokrit antara kelompok L-carnitine dibandingkan kelompok kontrol. Sebelas uji klinis dengan 715 subjek melaporkan kadar L-carnitine bebas dalam serum antara 2 kelompok. Dibandingkan kelompok kontrol, konsentrasi L-carnitine bebas dalam plasma meningkat secara signifikan pada kelompok L-carnitine setelah suplementasi L-carnitine (MD = 140,53 μmol/L, 95% CI 102,22–238,05; p < 0,00001). Uji klinis yang diikutsertakan dalam meta-analisis ini tidak melaporkan efek samping.

 

Kesimpulan

L-carnitine secara signifikan meningkatkan konsentrasi L-carnitine serum, meningkatkan respon terhadap ESA, menurunkan kebutuhan dosis ESA, serta menjaga kadar hemoglobin dan hematokrit pada pasien yang menjalani hemodialisis.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Freepik)

Referensi:

Zhu Y, Xue C, Ou J, Xie Z, Deng J. Effect of L-carnitine supplementation on renal anemia in patients on hemodialysis: A meta-analysis. Int Urol Nephrol. 2021; 53: 2149- 58.


Share this article
Related Articles
Efek Kardioprotektif Kombinasi Propofol–Dexmedetomidine pada Operasi Jantung Terbuka
dr. Laurencia Ardi | 05 Agt 2022
Kombinasi Terapi Vasopressin, Steroid, Epinephrine pada Henti Jantung, Ini Manfaatnya
dr. Laurencia Ardi | 01 Agt 2022
Vitamin C Memperbaiki Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri Jantung
dr. Esther Kristiningrum | 15 Jul 2022
Potensi Citicoline sebagai Terapi Neuroprotektif yang Menjanjikan pada Anak Pasca-henti Jantung
dr. Allen | 04 Jul 2022
Efikasi dan Keamanan Asam Traneksamat pada Operasi Non-jantung
dr. Hastuti Erdianti | 23 Jun 2022
Fondaparinux Sebagai Profilaksis VTE Pascaoperasi Tulang Belakang Lumbal
dr. Martinova Sari Panggabean | 19 Mei 2022
Campuran Obat Antihipertensi dan NSAID Meningkatkan Risiko Terjadinya Gagal Ginjal Akut
dr. Kupiya | 17 Mei 2022
Antioksidan, Strategi Baru Pencegahan Hipertensi Melalui Terapi Pemrograman
dr. Martinova Sari Panggabean | 28 Apr 2022
ARB vs ACEI, Efektivitas Sebanding dengan Risiko Efek Samping Lebih Rendah
dr. Lyon Clement | 14 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022