Detail Article
Pasien DM dengan Berat Badan Berlebih Memerlukan Dosis Vitamin C Lebih Besar
Dr. Esther Kristiningrum
Mei 30
Share this article
67bc532baec24ce59a4f257547d0ad56.jpg
Updated 30/Mei/2022 .

Vitamin C merupakan mikronutrien yang esensial dengan efek antioksidan yang poten. Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa kadar vitamin C plasma yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes melitus (DM) tipe 2. Penelitian telah menunjukkan status vitamin C lebih rendah dan prevalensi hipovitaminosis C lebih tinggi pada pasien DM tipe 2 meskipun asupan vitamin C dari makanan sebanding dengan kontrol sehat. 


Studi juga menunjukkan bahwa kadar vitamin C plasma lebih rendah pada orang dengan berat badan berlebih meskipun sebanding dalam asupan vitamin C. Peningkatan inflamasi dan stres oksidatif pada pasien DM dan obesitas dapat menurunkan kadar vitamin C yang tidak tergantung dari asupan makanan. Inflamasi usus dapat mengurangi ambilan vitamin C melalui intestinal vitamin C transporter (SVCT1). Penurunan kadar vitamin C pada orang dengan berat badan berlebih juga bisa disebabkan karena efek dilusi volumetrik. 


Suatu studi retrospektif telah dilakukan untuk mengeksplorasi status vitamin C pada 136 pasien rawat jalan dewasa dengan DM tipe 1 dan 2, dengan fokus pada indeks fungsi ginjal dan kesehatan metabolik, termasuk berat badan. Kategori status vitamin C adalah sebagai berikut: defisiensi jika kadar vitamin C ≤11 mmol/L, hipovitaminosis jika ≤23 mmol/L, inadekuat jika <50 mol/L, adekuat jika ≥50 mmol/L, dan jenuh jika ≥70 mol/L.


Hasilnya menunjukkan bahwa pada kelompok DM tipe 1 (n=73), median kadar vitamin C plasma adalah 33 (18-48) mmol/L, dengan 37% hipovitaminosis C dan 12% defisiensi vitamin C. Pada kelompok DM tipe 2, median kadar vitamin C plasma adalah 15 (7-29) mol/L, dengan 68% hipovitaminosis C dan 38% defisiensi vitamin C. 


Kadar vitamin C yang lebih rendah dikaitkan dengan makroalbuminuria (p=0,03), disfungsi ginjal (p=0,08), dan hipertensi (p=0,0005). Selain itu ditemukan juga kaitan terbalik antara kadar vitamin C plasma dengan berbagai parameter metabolik (p<0,05), khususnya berat badan (p<0,0001), yang lebih tinggi pada pasien hipovitaminosis C (<23 mmol/L; p<0,0001). Bahkan setelah analisis multivariabel, masih ditemukan kaitan dengan berat badan tersebut. 


Disimpulkan bahwa berat badan merupakan prediktor yang bermakna untuk status vitamin C yang rendah pada pasien DM. Hal ini bisa disebabkan karena efek dilusi volumetrik dan/atau peningkatan utilisasi vitamin akibat inflamasi terkait obesitas dan stres oksidatif. Penemuan ini menunjukkan bahwa pasien DM tipe 1 maupun DM tipe 2 dengan berat badan berlebih atau obesitas memerlukan vitamin C dengan dosis yang lebih besar dibanding kebutuhan rata-rata untuk memulihkan status vitamin C.



Gambar: Ilustrasi (sumber: by lifeforstock - www.freepik.com)

Referensi:

1. Carr AC, Spencer E, Heenan H, Lunt H, Vollebregt M, Prickett TCR. Vitamin C status in people with types 1 and 2 diabetes mellitus and varying degrees of renal dysfunction: Relationship to body weight. Antioxidants 2022;11(245).

2. Praveen D, Puvvada RC. Aanandhi V. Association of vitamin C status in diabetes mellitus: prevalence and predictors of vitamin C deficiency. Future Journal of Pharmaceutical Sciences 2020;6(30).


Share this article
Related Articles
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Peran Vitamin untuk Kulit Sehat
dr. Della Sulamita | 24 Jun 2022
Rekomendasi ASCO Terkait Diet dan Olahraga Pasien Kanker
Dr. Dedyanto Henky Saputro, M. Gizi, AIFO-K | 17 Jun 2022
Suplementasi Vitamin C Menurunkan Risiko Gout
dr. Esther Kristiningrum | 15 Jun 2022
Probiotik, Prebiotik, dan Sinbiotik Memperbaiki Profil Metabolik Pasien Penyakit Ginjal Kronik
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 23 Mei 2022
Citicoline Membantu Mencegah Progresivitas Glaukoma
dr. Allen | 18 Mei 2022
Vitamin C pada Pigmentasi Melanin pada Gusi dan Kulit, Ini Efeknya
dr. Della Sulamita | 10 Mei 2022
Pemberian Kombinasi Nutrisi Parenteral-Enteral pada Fase Akut. Bagaimana Hasil Meta-analisisnya?
dr. Laurencia Ardi | 20 Apr 2022
Schisandra chinensis dan Penyakit Kardiovaskuler
dr. Josephine Herwita AB | 19 Apr 2022
Efek "early vs late" Suplementasi Nutrisi Parenteral Pasien Bedah Abdomen
dr. Laurencia Ardi | 11 Apr 2022