Detail Article
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya
Feb 23
Share this article
ff7960a4c8da1cda1fe165a4511b7c4f.jpg
Updated 23/Feb/2022 .

Pasien diabetes tipe 1 ataupun tipe 2 memiliki masalah dalam memperbaiki profil glikemik. Sebanyak 37-45% pasien diabetes tipe 1 dan 2 dengan HbA1C 7,5-9%, tidak mencapai target terapi HbA1C, meskipun sudah menjalani intervensi farmakologi dan gaya hidup.


Insulin pre-mixed (campuran), insulin NPH/neutral protamine Hagedorn (kerja menengah), dan insulin prandial (kerja pendek) tidak memiliki efek kontrol glukosa darah jangka panjang, sehingga frekuensi injeksi >1 kali/hari dan seringkali kadar HbA1C masih tinggi dengan efek samping hipoglikemia berulang dan memberat (terutama di malam hari). Hal ini membuat pasien kurang patuh menjalani pengobatan. Insulin glargine merupakan insulin basal analog, kerja panjang, serta pemberiannya cukup 1x injeksi/hari di waktu yang sama dan sudah diakui memiliki efek glikemik kontrol yang baik (termasuk kadar HbA1C) dengan risiko hipoglikemia yang lebih rendah daripada insulin kerja pendek ataupun menengah.


Studi oleh Dzida G, et al, yang dilakukan dengan metode multisenter, prospektif, dan observasional, pada 1.087 pasien DM (321 pasien DM tipe 1 dan 766 pasien DM tipe 2) usia >18 tahun dengan HbA1C >8% dan tidak terkontrol oleh insulin NPH (rentang dosis harian 22-26 IU). Semua pasien diberikan intervensi berupa penggantian injeksi insulin NPH ke glargine secara subkutan, pemberian 1x/hari, dengan rentang dosis harian insulin glargine, yakni 19 – 24 IU. Obat oral diabetes (untuk DM tipe 2) dan insulin prandial (untuk DM tipe 1 dan 2) tetap diberikan. Pilihan obat oral diabetes yang diberikan berupa metformin, golongan sulfonilurea, alpha glucosidase inhibitors, DPP-IV inhibitors, dan glitazones.


Intervensi ini dilakukan selama 52 minggu. Kunjungan 1 merupakan skrining awal dan pemberian dosis pertama insulin glargine. Follow-up dilakukan di minggu ke-4 (kunjungan 2) dan minggu ke-52 (kunjungan 3), dengan evaluasi kadar glukosa puasa, kadar HbA1C, dan insiden hipoglikemia, baik hipoglikemia diurnal (pagi-siang hari) maupun nokturnal (malam hari). 


Hasilnya menunjukkan bahwa tampak perbaikan glukosa darah puasa dan HbA1C yang lebih baik sejak minggu ke-4 (kunjungan 2) dan minggu ke-52 (kunjungan 3), dengan total perbaikan sebesar >31 mg/dL dan 1%.

Jika dibandingkan insulin NPH (baseline), insulin glargine memiliki efek samping hipoglikemia jauh lebih rendah secara signifikan, selama intervensi (kunjungan 2 dan 3), nilai p<0,001.


Pada studi ini, dapat disimpulkan bahwa pemberian pemberian injeksi insulin glargine selama 52 minggu, rentang dosis harian 19 – 24 IU, pada 1.087 pasien DM (tipe 1 dan 2) usia >18 tahun, dengan HbA1C >8% dan tidak terkontrol oleh insulin NPH; memberikan perbaikan glukosa darah puasa dan HbA1C yang lebih baik sebesar >31 mg/dL dan 1%, dengan efek samping hipoglikemia lebih rendah secara signifikan.



Gambar: Ilustrasi (Foto oleh Nataliya Vaitkevich dari Pexels)

Referensi:

Dzida G, Szczepanik T. A prospective evaluation of the effectiveness and safety of insulin glargine 100 U/mL (Gla-100) in adults with diabetes mellitus in poland. The LARE observational study. Clinical Diabetology. 2021;10(2):169-79.

Share this article
Related Articles
Metformin dan Perubahan Gaya Hidup Bermanfaat untuk Anak dengan Obesitas dan Resistensi Insulin
dr. Lyon | 20 Jul 2022
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022