Detail Article
Efektivitas Rocuronium dan Succinylcholine pada Operasi Mikrolaringeal, Manakah yang Lebih Baik?
dr. Laurencia Ardi
Jun 24
Share this article
75ddf21dca0ecb80b27bce6b813236ab.jpg
Updated 29/Jun/2021 .

Operasi mikrolaringeal merupakan prosedur minimal invasif yang sering digunakan pada operasi kepala dan leher, baik untuk diagnosis maupun terapi, pada kelainan laringeal. Operasi mikrolaringeal membutuhkan waktu yang pendek, tetapi membutuhkan onset kedalaman pelumpuh otot yang cepat. 

Kedalaman pelumpuh otot yang baik dibutuhkan oleh dokter bedah dan hal ini juga memicu menurunnya kejadian komplikasi. Jika pasien tidak mendapatkan kedalaman pelumpuh otot yang baik atau pita suara masih terbuka maka dapat memicu terjadinya berbagai macam komplikasi. Oleh karenanya pelumpuh otot sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembedahan dan juga menurunkan terjadinya komplikasi.

 

Suatu penelitian prospektif, acak, bertujuan untuk menilai efek pelumpuh otot terhadap kualitas operasi mikrolaringeal. Metodenya adalah dengan mengumpulkan subjek yang akan menjalani operasi mikrolaringeal. Subjek sebanyak 205 pasien yang terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok rocuronium (n=103) dan kelompok succinylcholine (n=102). Pemberian pelumpuh otot direkam setelah pemberian dan selama operasi. Parameter yang dinilai adalah train of four (TOF) yang menggambarkan kedalaman pelumpuh otot, kondisi intubasi, kebutuhan dosis remifentanil, komplikasi intraoperatif, lamanya operasi, waktu pemulihan, dan komplikasi di ruang PACU.

 

Hasilnya menunjukkan nilai TOF lebih tinggi pada kelompok rocuronium, begitu juga dengan kondisi pada saat pembedahan lebih baik secara bermakna pada kelompok rocuronium (rocuronium = 5,54±1,39 points; succinylcholine = 9,13±1,99 points). Kondisi intubasi pada kedua kelompok sama. Kebutuhan dosis remifentanil secara bermakna lebih tinggi pada kelompok succinylcholine (P<0,001) (rocuronium = 0,102±0,05 μg/kg/menit; succinylcholine = 0,201±0,05 μg/kg/menit). Tidak ada perbedaan terhadap lamanya operasi, tetapi waktu terbangun secara bermakna lebih lama pada kelompok succinylcholine (rocuronium = 3,82±1,38 menit, succinylcholine = 9,18±2,04 menit, P<0,001).

 

Simpulan:

Berdasarkan penelitian prospektif, acak, menunjukkan bahwa kondisi pembedahan laringeal lebih baik dengan menggunakan pelumpuh otot rocuronium dibandingkan dengan succinylcholine.

 


Gambar: Ilustrasi (Photo by Anna Shvets from Pexels)

Referensi:

Aragón-Benedí C, Visiedo-Sánchez S, Pascual-Bellosta A, Ortega-Lucea S, Fernández-Liesa R, Martínez-Ubieto J, et al. Study of Rocuronium–Sugammadex as an Alternative to Succinylcholine–Cisatracurium in Microlaryngeal Surgery. Laryngoscope 2020;00:1–7. 


Share this article
Related Articles
Meta-analisis, Efektivitas dan Keamanan HES 130/0,4 pada Pembedahan Dan Trauma
dr. Laurencia Ardi | 20 Mei 2022
Efek "early vs late" Suplementasi Nutrisi Parenteral Pasien Bedah Abdomen
dr. Laurencia Ardi | 11 Apr 2022
Cadexomer Iodine Efektif Memperbaiki Penyembuhan Luka Kronik
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 02 Nov 2021
Dexmedetomidine Menurunkan Kejadian Post-operative Delirium
dr. Laurencia Ardi | 22 Okt 2021
Pemberian Granisetron Tunggal untuk Cegah PONV, Apakah Efektif?
dr. Laurencia Ardi | 14 Okt 2021
Penggunaan Dexmedetomidine sebagai Sedasi Pasien COVID-19, Apakah Efektif?
dr. Laurencia Ardi | 28 Sep 2021
Pemberian HES 6% 130/0,4 vs NaCl 0,9% pada Pasien yang Menjalani Operasi Mayor Abdomen, Bagaimana Efeknya?
dr. Laurencia Ardi | 06 Sep 2021
Pemberian Atorvastatin dalam Terapi Hematoma Subdural Kronik, Apa Manfaatnya?
dr. Jane Cherub | 15 Jul 2021
Metaanalisis - Negative Pressure Wound Therapy Efektif Menurunkan Risiko Infeksi Pasca Sternotomi
Dr. Nugroho Nitiyoso, MBA. | 14 Jun 2021
Propofol sebagai Sedasi Pasien Sepsis, Bagaimana Efektivitasnya?
dr. Laurencia Ardi | 29 Mar 2021