Detail Article
Kontrasepsi Oral Kombinasi pada Pasien Resisten Clomiphene Citrate, Apa Manfaatnya?
dr. Josephine Herwita Atepela
May 05
Share this article
7a85ceb260b9298e80e9a5413165285c.jpg
Updated 10/May/2021 .

Clomiphene citrate (CC) adalah obat yang paling banyak digunakan untuk menginduksi terjadinya ovulasi pada wanita. Keberhasilan terapi dengan CC dilaporkan cukup tinggi, yaitu 73% terjadi ovulasi dan 36% terjadi kehamilan. Namun, terdapat resistensi terhadap CC pada beberapa wanita sehingga dibutuhkan terapi tambahan gonadotropin untuk mensupresi aksis hipotalamis-pituitari-ovarium. 

Pemberian kontrasepsi oral kombinasi (KOK) yang disebutkan menunjukkan hasil peningkatan angka keberhasilan ovulasi dan kehamilan jika diberikan sebagai pre-treatment, yaitu sebelum dimulainya kembali terapi CC.

 

Abuazza, et al, melakukan studi acak terkendali untuk mengevaluasi efektivitas KOK sebagai pre-treatment CC terhadap respons ovarium. Studi dilakukan terhadap 32 wanita infertil yang resisten terhadap CC, yang didefinisikan sebagai kegagalan terjadinya ovulasi setelah CC dosis 150 mg per hari selama 5 hari pada siklus menstruasi selama paling tidak 3 siklus.

 

Subjek penelitian dibagi menjadi kelompok kontrol (n=16) dan kelompok studi (n=16). Kelompok studi menerima KOK selama 42 hari, dilanjutkan dengan CC 150 mg secara oral pada hari ke-2 hingga ke-6 siklus menstruasi. Kelompok kontrol tidak menerima pre-treatment KOK sebelum diberikannya CC. Pemantauan dilakukan pada masing-masing siklus. Pasien yang mengalami ovulasi dan hamil setelah siklus pertama akan di tindaklanjuti selama 8 minggu. Apabila tidak terjadi ovulasi atau terjadi ovulasi namun tidak terjadi kehamilan, pasien akan memasuki siklus CC kedua dengan dosis yang sama. Hal ini akan diulang hingga siklus ke-3.

 

Hasil studi menunjukkan jumlah folikel dominan pada kelompok studi adalah 8 (80%) dan pada kelompok kontrol 5 (33,3%), hal ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam produksi folikel dominan (p=0,00). Ketebalan endometrium pada siklus stimulasi pertama adalah 9,43±0,31 mm pada kelompok studi dan 7,48±0,89 mm pada kelompok kontrol. Perbedaan ketebalan endometrium menunjukkan angka yang signifikan pada siklus pertama (p=0,00), namun tidak signifikan pada siklus kedua dan ketiga (p>0,05).

 

Studi ini juga menunjukkan hasil signifikan pada kejadian kehamilan pada siklus ke-2 (p=0,049) dan angka keguguran pada siklus pertama (p=0,00). Angka ovulasi pada kelompok studi adalah 15/39 (38,4%), sedangkan pada kelompok kontrol hanya 7/46 (15,2%). Angka kehamilan akumulasi pada ketiga siklus juga lebih tinggi pada kelompok studi yaitu 7 kehamilan (43,8%) dan hanya 1 kehamilan pada kelompok kontrol (6,2%) (p=0,0004).

 

Penelitian ini didukung oleh penelitian oleh Kumari, et al, yang meneliti penggunaan KOK selama 2 bulan sebagai pre-treatment pada wanita resisten CC. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan kadar estradiol (58%), LH (63%), dan testosteron (56%) yang signifikan setelah diberikan terapi KOK. Kadar FSH juga mengalami penurunan, namun tidak signifikan secara statistik. Perubahan profil endokrin pada early follicular phase inilah yang dianggap sebagai mekanisme yang mendasari peningkatan respons ovarium pada wanita yang  sebelumnya mengalami resisten CC.

 

Dari kedua penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa pemberian KOK sebagai pre-treatment pada wanita resisten CC dapat memperbaiki respons ovarium terhadap CC, meningkatkan angka kejadian ovualsi, dan angka kehamilan. Pemberian KOK dapat dilakukan 42 hari atau 2 bulan sebelum dimulainya kembali CC.

 


Gambar: Ilustrasi (Photo by Karolina Grabowska from Pexels)

Referensi:

1.     Abuazza M, Soliman B, Seim S, Harira M. Effect of oral contraceptive pills pretreatment on ovarian response in patient with clomiphene resistant. Zagazig University Medical Journal. 2019;26(2):279-86.

2.     Kumari S, Mitra N, Singh A. Oral contraceptive pills in the management of clomiphene resistant anovulation. International Journal of Medical Research and Review. 2015;3(10):1182-7.


Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Dec 2018
Suplementasi Vitamin D prenatal, Mengurangi Risiko Asma Anak
nugroho nitiyoso | 10 Jan 2019
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
SOD Membantu Keberhasilan Kehamilan Inseminasi
Dokter Kalbemed | 24 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019