Detail Article
Berapa Lama Antibodi COVID-19 Melindungi? Ini Hasil Studinya.
dr. Kupiya Timbul
Sep 09
Share this article
219ff4bdcdc23cbd726da43eac913eaf.jpg
Updated 09/Sep/2020 .

Data dari studi yang dilakukan oleh Dr. Quan-Xin Long dari Key Laboratory of Molecular Biology on Infectious Diseases, Ministry of Education, Chongqing Medical University, Chongqing, China dan kolega yang telah dipublikasikan secara online dalam jurnal Nature medicine, menunjukkan bahwa terjadi penurunan yang relatif cepat dari antibodi Covid-19 dalam tubuh orang terinfeksi.

Gambaran klinis dan respons imun individu asimtomatik yang terinfeksi Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) sindrom pernapasan akut belum dijelaskan dengan baik. Peneliti mempelajari 37 orang tanpa gejala di Distrik Wanzhou yang didiagnosis infeksi SARS-CoV-2 yang dikonfirmasi RT-PCR tetapi tanpa gejala klinis yang relevan dalam 14 hari sebelumnya dan selama rawat inap. Individu tanpa gejala dirawat di Wanzhou People's Hospital yang ditunjuk pemerintah untuk isolasi terpusat sesuai dengan kebijakan


Durasi rata-rata pelepasan virus pada kelompok tanpa gejala ini adalah 19 hari (kisaran interkuartil (IQR), 15-26 hari). Kelompok tanpa gejala memiliki durasi pelepasan virus yang lebih lama secara bermakna dibandingkan kelompok bergejala (log-rank P = 0,028). Pada fase akut, tingkat IgG spesifik virus pada kelompok asimtomatik (median S / CO, 3,4; IQR, 1,6-10,7) secara signifikan relatif lebih rendah (P = 0,005) dibanding kelompok simptomatik (median S / CO, 20,5; IQR, 5,8-38,2 ). Selama fase pemulihan awal, dari individu tanpa gejala, 93,3% (28/30) mengalami penurunan IgG dan 81,1% (30/37) tingkat antibodi penetral, dibandingkan dengan pasien bergejala yaitu masing-masing 96,8% (30/31) dan 62,2% ( 23/37) 


Empat puluh persen individu tanpa gejala menjadi seronegatif dan 12,9% dari kelompok yang bergejala menjadi negatif untuk IgG pada fase pemulihan awal. Selain itu, individu tanpa gejala menunjukkan kadar yang lebih rendah dari 18 sitokin pro dan anti inflamasi.


Data ini memberi kesan bahwa individu tanpa gejala memiliki respons kekebalan yang lebih lemah terhadap infeksi SARS-CoV-2. Penurunan IgG dan tingkat antibodi penetral pada fase pemulihan awal mungkin berimplikasi pada strategi imunitas dan survei serologis.


Silakan baca juga: Starmuno, untuk membantu memperbaiki daya tahan tubuh

Image: Ilustrasi

Referensi: Quan-Xin Long, Xiao-Jun Tang, Qiu-Lin Shi, Qin Li, Hai-Jun Deng, Jun Yuan, Jie-Li Hu, Wei Xu, Yong Zhang, Fa-Jin Lv, Kun Su, Fan Zhang, Jiang Gong, Bo Wu, Xia-Mao Liu, Jin-Jing Li, Jing-Fu Qiu, Juan Chen, Ai-Long Huang. Clinical and immunological assessment of asymptomatic SARS-CoV-2 infections. Nat Med. 2020 Aug;26(8):1200-1204. doi: 10.1038/s41591-020-0965-6. Epub 2020 Jun 18. [Internet. Cited 02/09/2020]. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32555424/


Share this article
Related Articles
Cetuximab plus FOLFOX4 Untuk Kanker Kolorektal Metastatik RAS Wild Type
dr. Hastarita Lawrenti | 31 Jan 2019
Imunitas Infeksi Virus Dengue Melindungi Infeksi Virus Zika
Dokter Kalbemed | 21 Feb 2019
Pengobatan COVID-19, Apakah sudah Ditemukan?
Johan Indra Lukito | 21 Feb 2020
Dampak Infeksi Coronavirus Terhadap Paru
Johan Indra Lukito | 04 Mar 2020
5 Dampak Ekstrapulmonal Infeksi Coronavirus Pada Tubuh Manusia (1)
Johan Indra Lukito | 25 Feb 2020
Langkah-langkah Perlindungan Dasar Terhadap Coronavirus Baru (Covid-19)
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 02 Mar 2020
Korban Utama Coronavirus: Laki-laki, Dewasa, Dan Dengan Penyulit Lain
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 08 Mar 2020
COVID-19 Juga Disebarkan Melalui Rute Fecal-Oral? Ini Hasil Studinya.
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 10 Mar 2020
Penyebab Klinis dan Faktor Risiko Kematian Pasien Covid-19
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 24 Mar 2020
China Menyetujui Favilavir Sebagai Antivirus Pertama Untuk COVID-19
Johan Indra Lukito | 22 Mar 2020