Detail Article
Dapatkah Saliva Digunakan Untuk Diagnostik Covid-19?, Ini Hasil Studinya.
dr. Kupiya Timbul Wahyudi
May 08
Share this article
fc8979d5a5004418258dd7f4decb96c9.jpg
Updated 21/Jul/2020 .

Saat ini diagnosis COVID-19 dibuat melalui swab nasofaring, Real Time reverse transcription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR) dari spesimen pernapasan merupakan tes standar emas untuk 

Saat ini diagnosis COVID-19 dibuat melalui swab nasofaring, Real Time reverse transcription Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR) dari spesimen pernapasan merupakan tes standar emas untuk mendeteksi infeksi SARS-CoV-2. Studi terbaru menunjukkan bahwa pemeriksaan saliva dapat digunakan sebagai diagnostik Covid-19, hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Dr. Lorenzo Azzia dari Unit of Oral Medicine and Pathology, ASST dei Sette Laghi, Department of Medicine and Surgery, University of Insubria, Varese, Italy dan kolega yang telah dipublikasikan secara online dalam Journal of Infection baru-baru ini.

Penggunaan air liur sebagai sampel diagnostik memiliki beberapa keuntungan: karena air liur dapat dengan mudah disediakan oleh pasien, tidak memerlukan personel khusus untuk pengumpulannya. Selain itu, kenyamanan prosedur secara bermakna lebih tinggi jika dibandingkan dengan prosedur swab nasofaring atau dahak.

Dalam studinya, Dr. Lorenzo Azzia menganalisis sampel saliva pasien COVID-19 dan membandingkan hasilnya dengan data klinis dan laboratorium mereka. Sampel saliva dari 25 pasien COVID-19 dianalisis dengan rRT-PCR. Data berikut dikumpulkan: usia, jenis kelamin, komorbiditas, obat-obatan. Nilai laktat dehidrogenase (LDH) dan protein C reaktif ultrasensitif (usRCP) didaftarkan pada hari yang sama ketika swab saliva dikumpulkan. Prevalensi kepositifan dalam air liur dan hubungan antara data klinis dan "the cycle threshold" sebagai indikator viral load semikuantitatif dipertimbangkan.

Dua puluh lima subjek dilibatkan dalam penelitian ini, 17 pria dan 8 wanita. Usia rata-rata adalah 61,5 +/- 11,2 tahun. Gangguan kardiovaskular dan / atau dismetabolik diamati pada 65,22% kasus. Semua sampel diuji positif untuk keberadaan SARS-CoV-2, sementara ada hubungan terbalik antara nilai LDH dan Ct. Dua pasien menunjukkan hasil saliva positif pada hari yang sama ketika apusan faring atau pernapasan menunjukkan konversi.

Dari studi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa saliva adalah alat yang andal untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Peran saliva dalam diagnosis COVID-19 tidak dapat terbatas pada deteksi kualitatif virus, tetapi juga dapat memberikan informasi tentang evolusi klinis penyakit.

 


Image: Ilustrasi (sumber: https://oncologynews.com.au/)

Referensi: Lorenzo Azzia, Giulio Carcano, Francesco Gianfagna, Paolo Grossi, Daniela Dalla Gasperinae Angelo Genoni, Mauro Fasano, Fausto Sessa, Lucia Tettamanti, Francesco Carincii, Vittorio Maurino, Agostino Rossi, AngeloTagliabue, Andreina Baj. Saliva is a reliable tool to detect SARS-CoV-2. Journal of Infection 2020. [Internet. Cited 28/4/2020]. Available at:https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/  S0163445320302139


 

Share this article
Related Articles
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
Admin | 12 Dec 2018
Pengobatan COVID-19, Apakah sudah Ditemukan?
Johan Indra Lukito | 21 Feb 2020
Dampak Infeksi Coronavirus Terhadap Paru
Johan Indra Lukito | 04 Mar 2020
5 Dampak Ekstrapulmonal Infeksi Coronavirus Pada Tubuh Manusia (1)
Johan Indra Lukito | 25 Feb 2020
Langkah-langkah Perlindungan Dasar Terhadap Coronavirus Baru (Covid-19)
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 02 Mar 2020
Korban Utama Coronavirus: Laki-laki, Dewasa, Dan Dengan Penyulit Lain
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 08 Mar 2020
COVID-19 Juga Disebarkan Melalui Rute Fecal-Oral? Ini Hasil Studinya.
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 10 Mar 2020
Penyebab Klinis dan Faktor Risiko Kematian Pasien Covid-19
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 24 Mar 2020
China Menyetujui Favilavir Sebagai Antivirus Pertama Untuk COVID-19
Johan Indra Lukito | 22 Mar 2020
Penderita Diabetes Harus Lebih Bersiap Menghadapi COVID-19. Berikut Rekomendasinya
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 13 Mar 2020