Detail Article
Pemeriksaan Laboratorium Pada Terduga Infeksi Virus Corona Baru (2019 - nCoV)
dr. Kupiya Timbul Wahyudi
Jan 29
Share this article
img-Lab1.jpg
Updated 22/May/2020 .

Agen penyebab yang bertanggungjawab dari kasus pneumonia di Wuhan belum sepenuhnya diverifikasi, tetapi Betacoronavirus baru dilaporkan telah dikultur dari setidaknya satu pasien pneumonia dan ditandai dengan mikroskop elektron 

Agen penyebab yang bertanggungjawab dari kasus pneumonia di Wuhan belum sepenuhnya diverifikasi, tetapi Betacoronavirus baru dilaporkan telah dikultur dari setidaknya satu pasien pneumonia dan ditandai dengan mikroskop elektron dan sekuensing genom dan telah terdeteksi oleh PCR (polymerase chain reaction) di 15 pasien lainnya. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang digunakan pada pasien dicurigai infeksi coronavirus meliputi:

1. Pemeriksaan Mikroskop
Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya dan elektron dapat dengan cepat memberikan informasi pertama tentang agen penyebab potensial dalam bahan klinis. Namun pengujian selanjutnya diperlukan untuk mengidentifikasi patogen.

2. Kultur
Kultur virus sering dianggap sebagai "standar emas" untuk diagnosis laboratorium infeksi virus saluran pernapasan. Laboratorium dengan pengalaman dan fasilitas yang sesuai, dapat untuk mengisolasi virus. Rekomendasi ini tidak mencakup prosedur isolasi virus. Kultur virus yang memiliki implikasi keamanan hayati yang penting, tergantung pada jenis virus, patogenisitas dan mekanisme penyebarannya.

3. Pemeriksaan molekuler
Sejumlah metode dan sistem untuk identifikasi cepat dan sensitif dari urutan genetik patogen baru telah dikembangkan dan disempurnakan. Berbagi informasi urutan gen semacam itu di antara kolaborator sangat penting untuk mengidentifikasi patogen dengan cepat dan untuk mengembangkan diagnostik spesifik. Selain mengidentifikasi patogen baru, data sekuens juga dapat memberikan informasi berharga untuk memahami asal-usul virus dan bagaimana penyebarannya. WHO telah menerbitkan Draft kode etik untuk penanganan Data Urutan Genetik terkait wabah

4. Pemeriksaan serologi
Pengujian serologis mungkin berguna untuk mengkonfirmasi tanggapan imunologis terhadap patogen dari kelompok virus tertentu, misal coronavirus. Hasil terbaik dari pengujian serologis membutuhkan pengumpulan sampel serum berpasangan (dalam fase akut dan pemulihan) dari kasus yang sedang diselidiki.

Dengan tidak adanya informasi urutan bersama dari patogen diduga dari wabah Wuhan, laboratorium mungkin ingin menggunakan uji coronavirus keseluruhan untuk amplifikasi diikuti oleh urutan amplikon untuk karakterisasi dan konfirmasi. Konfirmasi eksternal harus dicari dari laboratorium rujukan yang dapat menggunakan tes tambahan. Penting untuk mempertimbangkan bahwa empat coronavirus manusia (HcoVs) bersifat endemik secara global: HCoV-229E, HCoV-NL63, HCoV-HKU1 serta HCoV-OC43. Dua yang terakhir adalah betacoronavirus. Dua betacoronavirus lain yang menyebabkan infeksi zoonosis pada manusia adalah MERS-CoV, diperoleh melalui kontak dengan unta "dromedaris" dan SARS ditularkan dari musang dan kelelawar yang ada di gua.

 

 

Silahkan baca juga: Starmuno, membantu memperbaiki daya tahan tubuh


Image: Ilustrasi (sumber: https://robertmorris.edu/)
Referensi: Laboratory testing of human suspected cases of novel coronavirus (nCoV) infection Interim guidance. 10 January 2020 (internet cited 27/1/2020). Available: https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/330374/WHO-2019-nCoV-laboratory-2020.1-eng.pdf

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Dec 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Piperacillin/tazobactam untuk Anak dengan Demam Neutropenia
dr Johan Indra Lukito | 11 Mar 2019