Detail Article
Dampak Infeksi Coronavirus Terhadap Paru
Johan Indra Lukito
Mar 04
Share this article
img-Covid-191.jpg
Updated 22/Mei/2020 .

Epidemi COVID-19 telah menewaskan lebih dari 1.800 orang, melampaui angka kematian SARS dalam hitungan minggu. Laju kematian untuk COVID-19 tampaknya seperlima dari SARS, namun COVID-19 menyebar lebih cepat.

Epidemi COVID-19 telah menewaskan lebih dari 1.800 orang, melampaui angka kematian SARS dalam hitungan minggu. Laju kematian untuk COVID-19 tampaknya seperlima dari SARS, namun COVID-19 menyebar lebih cepat. Hal ini disebabkan karena coronavirus 2019-nCoV yang menjadi penyebabnya dapat memicu gangguan di berbagai organ. Sifat ini juga dimiliki oleh coronavirus penyebab SARS dan MERS. 2019-nCoV sangat mirip secara genetik dengan coronavirus penyebab SARS sehingga virus ini juga digelari SARS-CoV-2. Masih banyak hal yang belum diketahui tentang coronavirus tipe baru ini, namun dengan menggabungkan hasil penelitian COVID-19 dan pengetahuan tentang SARS dan MERS dapat memberikan gambaran apa yang terjadi pada tubuh ketika terinfeksi oleh coronavirus

Pada sebagian besar pasien, COVID-19 dimulai dari paru. COVID-19 menyebar melalui droplet/cipratan air liur dari penderita saat batuk atau bersin. Coronavirus juga menyebabkan gejala seperti flu berupa demam dan batuk yang dapat berkembang menjadi pneumonia. Pada SARS, penyakit ini biasanya menyerang paru dalam tiga fase: replikasi virus, hipereaktivitas imun, dan kerusakan paru. Tidak semua pasien mengalami ketiga fase ini namun hanya 25 persen pasien SARS yang mengalami gagal napas, yang berarti kasus yang parah.  Pada COVID-19, sekitar 82 persen kasus hanya menyebabkan gejala yang lebih ringan, sedangkan sisanya parah atau kritis.

Coronavirus dengan cepat menyerang sel paru manusia. Sel paru terbagi menjadi 2 tipe: ada yang menghasilkan lendir dan ada yang memiliki rambut yang disebut silia. Lendir membantu melindungi jaringan paru dari kuman dan mencegah saluran pernapasan tidak mengering. Sel silia bergetar untuk membersihkan kotoran atau virus dengan bantuan lendir.

Virus SARS menginfeksi dan membunuh sel silia, yang kemudian mengelupas dan memenuhi saluran napas pasien dengan sel mati, debris dan cairan. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada COVID-19 karena banyak pasien yang menderita pneumonia disertai dengan gejala sesak napas.

Fase kedua melibatkan sistem imun tubuh. Sistem imun tubuh mulai melawan penyakit dengan membanjiri paru dengan sel imun (disebut proses inflamasi) untuk membersihkan virus dan memperbaiki jaringan paru. Ketika bekerja dengan benar, proses inflamasi ini diatur dengan ketat dan hanya terbatas pada area yang terinfeksi. Tetapi kadang-kadang sistem imun tubuh terganggu dan sel imun membunuh tidak hanya kuman tetapi juga jaringan sehat. Hal ini berakibat lebih banyak sel mati dan debris yang menyumbat paru sehingga pneumonia memburuk.

Selama fase ketiga, kerusakan paru bertambah berat yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan. Bahkan jika kematian tidak terjadi, beberapa pasien mengalami kerusakan paru permanen. Kerusakan ini kemungkinan disebabkan oleh respons hiperaktif sistem imun tubuh, yang menciptakan jaringan parut yang membuat paru menjadi "berlubang" dan kaku. Jika hal ini terjadi, pasien seringkali harus memakai ventilator untuk membantu pernapasan mereka. Sementara itu, inflamasi juga menyebabkan membran antara rongga saluran napas dan pembuluh darah lebih permeabel sehingga dapat mengisi paru dengan cairan dan menurunkan kemampuan paru untuk mengoksigenasi darah. Hal ini dapat berakibat fatal.

 

 

Silahkan baca juga: Starmuno, membantu memperbaiki daya tahan tubuh

Image: Ilustrasi (sumber: https://www.aa.com.tr/id/dunia/irak-catat-kasus-covid-19-pertama/1741995)
Referensi:
1. WHO. Coronavirus disease 2019 (COVID-19):Situation Report – 29. Last updated: 2020 February 18 [cited 2020 February 20]. Available from: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200218-sitrep-29-covid-19.pdf?sfvrsn=6262de9e_2
2. McKeever A. Here’s what coronavirus does to the body. Last updated: 2020 February 18 [cited 2020 February 20]. Available from: https://www.nationalgeographic.com/science/2020/02/here-is-what-coronavirus-does-to-the-body/
3. WHO. Preliminary Clinical Description of Severe Acute Respiratory Syndrome. [cited 2020 February 20]. Available from: https://www.who.int/csr/sars/clinical/en/
4. Lam CW, Chan MH, Wong CK. Severe Acute Respiratory Syndrome: Clinical and Laboratory Manifestations. Clin Biochem Rev. 2004; 25(2): 121–32.

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Des 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi dan Keamanan Beberapa Pilihan Pengobatan Rheumatoid Arthritis
dr. Nugroho NItiyoso, MBA | 12 Feb 2019
Nutrisi Enteral Memperbaiki Gagal Jantung Lansia
dr. Dedyanto Henky Saputra | 14 Feb 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Piperacillin/tazobactam untuk Anak dengan Demam Neutropenia
dr Johan Indra Lukito | 11 Mar 2019