Detail Article
Toksin Botulinum untuk Atasi Depresi, Bagaimana Caranya?
dr. Angeline Fanardy
Dec 11
Share this article
img-stres1.jpg
Updated 22/May/2020 .

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu sejak adanya laporan bahwa toksin botulinum (BoNT-A) dapat digunakan untuk mengatasi/meringankan depresi. Saat ini, terapi BONTA digunakan untuk masalah-masalah dermatologi, namun sejak dicetuskan dapat digunakan untuk masalah depresi sudah terdapat beberapa laporan kasus

Sudah lebih dari 10 tahun yang lalu sejak adanya laporan bahwa toksin botulinum (BoNT-A) dapat digunakan untuk mengatasi/meringankan depresi. Saat ini, terapi BONTA digunakan untuk masalah-masalah dermatologi, namun sejak dicetuskan dapat digunakan untuk masalah depresi sudah terdapat beberapa laporan kasus hingga 4 RCT (randomized controlled trial), 1 pooled analysis, dan 1 meta-analisis. Seluruh laporan ini memberikan hasil yang konsisten di mana 50-60% memberikan respons, 45-55% mengalami perbaikan gejala depresi, dan rata-rata remisi adalah 1/3. Saat ini toksin botulinum sudah memasuki uji klinik fase III untuk kasus depresi.

Bagaimana toksin botulinum (BONTA) mempengaruhi mood? Hipotesis menyebutkan jika kita mengernyitkan wajah atau frowning ke dalam atau keluar dapat bersifat depresogenik untuk beberapa individu. Meskipun bersifat universal, namun peran ekspresi wajah untuk komunikasi sosial terbukti mempengaruhi emosi seseorang dan ekspresi wajah. Otot wajah kita membantu mewujudkan emosi dan dengan demikian membantu memberikan emosi positif pula.

Ilmuwan seperti Darwin mengobservasi tanda ‘omega’ di antara alis yang merupakan kontraksi dari otot corrugator dan menghasilkan 2 garis vertikal di antara alis dan disambungkan oleh lipatan horizontal di atasnya. Tanda omega ini merupakan indikator untuk melankolis dan tanda ini akan menghilang ketika kondisi pasien pulih. James menyebutkan bahwa ia tidak menangis di saat ia sedih, melainkan ia menjadi sedih karena ia menangis. Hipotesis ini yang menunjukkan bahwa representasi eksternal karena kesedihan atau duka merupakan signal balik untuk kontrol emosi dalam otak dan menghasilkan perasaan stres.

Komunikasi antara emosi di otak dan otot wajah adalah bidirectional (saling berkaitan). Secara spesifik, otot zygomaticus berkaitan dengan senyum untuk memberikan mood bahagia dan otot corrugator berfungsi untuk memberikan mood sedih. Otot corrugator dapat menjadi bagian dari sirkuit emosi neuronal sensoris yang menghubungkan antara wajah dan sistem limbik, batang otak, dan pusat mood di otak. Otot corrugator cenderung overaktif pada kondisi depresi dan paralisis dari otot ini dapat menjadi tanda bagi otak bahwa dunia lebih baik

Injeksi otot perifer dengan toksin botulinum (BONTA) menunjukkan perubahan pada CNS (Central Nervous System). Pada pasien dengan distonia servikal, injeksi toksin botulinum (BONTA) dapat menghasilkan perbaikan yang reversible dari kelainan white matter pada basal ganglia. Hal inilah yang secara tidak langsung memberikan perbaikan untuk masalah depresi. Khususnya, amigdala, merupakan bagian dari sistem limbik yang sangat dikaitkan dengan terjadinya depresi juga dikaitkan dengan BONTA. Pencitraan menggunakan MRI telah menunjukkan bahwa setelah terapi toksin botulinum (BONTA) di glabellar, amigdala menjadi kurang responsif terhadap rangsangan negatif dan perubahan ini akan kembali normal ketika aktivitas paralitik BONTA hilang.

 

Kesimpulan: Paradigma yang menyebutkan bahwa toksin botulinum (BONTA) berhubungan dengan emosi dan mood terbukti dengan penelitian penggunaan BONTA pada glabellar untuk memperbaiki depresi sehingga dapat mencegah emosi negatif secara general. 

 

Silakan baca juga: Suplementasi SOD dapat Membantu Atasi Kelelahan

Image : Ilustrasi

Referensi:

1. Finzi E. Update: Botulinum toxin for depression: More than skin deep. Dermatol Surg. 2018;44(10):1363-5.

2. Hexsel D, Brum C, Siega C, Schilling-Souza J, Dal'Forno T, Heckmann M,  et al. Evaluation of self-esteem and depression symptoms in depressed and nondepressed subjects treated with onabotulinumtoxina for glabellar lines. Dermatol Surg. 2013;39:1088–96.

3. Zamanian A, Jolfaei AG, Mehran G, Azizian Z. Efficacy of botox versus placebo for treatment of patients with major depression. Iran J Public Health 2017;46:982–4.

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplemen Asam Amino Glutamin dapat Memperbaiki Gejala Sakit Pencernaan IBS, Benarkah?
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019
Hubungan Kadar Vitamin A, E, dan Zinc dengan Keparahan Acne Vulgaris
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019
Efektivitas dan Keamanan Mycophenolate Mofetil sebagai Pengobatan Pasien Lupus Nefritis
Dokter Kalbemed | 15 Mar 2019