Detail Article

Peran Sinbiotik Sebagai Terapi Pendamping pada Pasien Diabetes Melitus

dr. Elda O. Panggabean, MKK
Okt 15
Share this article
5bbd70e7728ab929156c94d01ae5abeb.jpg
Updated 15/Okt/2026 .

Sinbiotik memiliki potensi untuk manfaat metabolik yang lebih luas dibandingkan probiotik pada pasien DM Tipe 2. Sinbiotik meningkatkan produksi SCFA, memperbaiki barier usus, menurunkan inflamasi dan resistensi insulin, serta mendukung kontrol gula darah. Hasil pada studi menunjukkan range dosis sinbiotik pada 108 - 3x1010 CFU terbukti memperbaiki HbA1C, gula darah puasa, berat badan, profil lipid, serta marker inflamasi dan stres oksidatif, bahkan memperbaiki nyeri neuropati juga kualitas hidup pada pasien DM Tipe 2.

Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang prevalensinya terus meningkat. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan gangguan kontrol glukosa darah, tetapi juga berhubungan dengan berbagai komplikasi kronis seperti kerusakan saraf, gangguan ginjal, penurunan penglihatan, serta penurunan kualitas hidup. Meskipun terapi farmakologis dan modifikasi gaya hidup tetap menjadi pilar utama penatalaksanaan, efektivitasnya masih memiliki keterbatasan sehingga berbagai pendekatan baru terus dikembangkan.

Salah satu pendekatan yang saat ini banyak diteliti adalah modulasi mikrobiota usus. Selain faktor genetik dan lingkungan, perubahan komposisi mikrobiota usus (disbiosis) diketahui berperan dalam patofisiologi DM tipe 2. Perkembangan teknologi sekuensing menunjukkan bahwa pasien DM tipe 2 memiliki profil mikrobiota usus yang berbeda dibandingkan individu sehat. Mikrobiota usus juga menghasilkan berbagai metabolit, seperti asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA) dan asam empedu sekunder, yang berperan penting dalam regulasi metabolisme glukosa.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sinbiotik memiliki potensi memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan penggunaan probiotik atau prebiotik secara tunggal. Sinbiotik dapat memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus, memperkuat fungsi sawar usus, memodulasi respons imun, serta meningkatkan produksi metabolit yang berperan dalam homeostasis glukosa. Selain membantu pengendalian glikemik, sinbiotik juga dilaporkan memberikan efek positif terhadap profil lipid, obesitas, tekanan darah, dan berbagai gangguan metabolik yang sering menyertai DM tipe 2.

Probiotik dalam studi-studi yang ditinjau terutama berasal dari genus Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus. Rentang dosis probiotik yang dilaporkan cukup luas, yaitu sekitar 2 × 10⁷ hingga 6 × 10¹⁰ CFU, diberikan dalam bentuk kapsul, sachet, susu fermentasi, kefir, maupun pangan lainnya.

Pemberian sinbiotik dibandingkan probiotik

Secara konsep, probiotik hanya memberikan mikroorganisme hidup yang diharapkan memberi manfaat kesehatan. Efeknya sangat bergantung pada strain, dosis, kemampuan bertahan di saluran cerna, pola makan, dan kondisi mikrobiota masing-masing individu. Pada sinbiotik, probiotik dikombinasikan dengan komponen prebiotik/substrat yang mendukung aktivitas mikrobiota. Prebiotik seperti FOS/ inulin tidak hanya berperan sebagai “makanan bakteri”, tetapi juga dapat difermentasi oleh mikrobiota dan mendukung produksi metabolit seperti short-chain fatty acids (SCFA). Tinjauan ini juga menyebut prebiotik dapat mendukung Bifidobacterium dan Lactobacillus serta memengaruhi regulasi gula darah. 

Mekanisme sinbiotik dalam mengontrol glukosa darah melalui beberapa cara, antara lain:

1.  Meningkatkan metabolisme glukosa melalui SCFA dan GLP-1

  • Probiotik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus meningkatkan produksi SCFA sehingga meningkatkan pengeluaran energi.
  • SCFA, terutama butirat, merangsang sekresi GLP-1, hormon yang membantu menurunkan kadar glukosa setelah makan.

2.  Memodulasi mikrobiota usus dan metabolisme asam empedu

  • Probiotik memengaruhi komposisi asam empedu yang berperan dalam regulasi metabolisme glukosa.
  • Prebiotik seperti oligofruktosa (OFS) mendukung pertumbuhan Bifidobacterium dan Lactobacillus, sehingga memperbaiki keseimbangan mikrobiota usus.

3.  Mengurangi inflamasi dan resistensi insulin

  • Prebiotik menurunkan jumlah bakteri penghasil lipopolisakarida (LPS) yang berkaitan dengan inflamasi kronis dan resistensi insulin
  • Penurunan LPS membantu mengurangi metabolic endotoxemia, meningkatkan toleransi glukosa, dan mendukung penurunan berat badan.

4.  Memperkuat integritas sawar usus (gut barrier)

  • Beberapa strain Lactobacillus (misalnya L. acidophilus, L. fermentum, L. gasseri, dan L. rhamnosus) memperkuat epitel usus sehingga mencegah masuknya LPS ke sirkulasi sistemik.
  • Hal ini mengurangi inflamasi sistemik yang berkontribusi terhadap gangguan metabolisme glukosa.


Selain efek yang disebutkan diatas, suatu RCT tahun 2026 oleh Amlashi, et al. pada 60 subjek juga membuktikkan bahwa sinbiotik memperbaiki nyeri neuropati (p < 0.001) dan kualitas tidur, bahkan pada kualitas hidup, dengan pemberian kombinasi bakteri Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptoccus 109 CFU serta prebiotik FOS 74 mg dibandingkan dengan plasebo selama 8 minggu.

Beberapa studi-studi sinbiotik dalam review ini menunjukkan efek yang mencakup perbaikan glukosa, HbA1C, insulin, berat badan, inflamasi, stres oksidatif, profil lipid, hingga endotoksin metabolik.

Dosis bakteri pada formulasi sinbiotik yang dilaporkan studi ini berada pada kisaran 108 sampai 3 x 1010 CFU, dengan beberapa studi menggunakan sekitar 109 CFU dan tetap menunjukkan manfaat metabolik. Belum terlihat adanya satu dosis optimal yang universal. Jadi, dosis yang lebih tinggi tidak otomatis berarti memberikan efek yang lebih baik. Efek sinbiotik juga bergantung pada strain/spesies bakteri, jenis dan jumlah prebiotik, populasi pasien, serta outcome yang dinilai.


Kesimpulan

Sinbiotik memiliki potensi untuk manfaat metabolik yang lebih luas dibandingkan probiotik pada pasien DM tipe 2. Sinbiotik meningkatkan produksi SCFA, memperbaiki barier usus, menurunkan inflamasi dan resistensi insulin, serta mendukung kontrol gula darah. Hasil pada studi menunjukkan range dosis sinbiotik pada 108 - 3x1010 CFU terbukti memperbaiki HbA1C, gula darah puasa, berat badan, profil lipid, serta marker inflamasi dan stres oksidatif, bahkan memperbaiki nyeri neuropati juga kualitas hidup pada pasien DM Tipe 2.


Gambar: Ilustrasi (Sumber: FabianMontano - Envato elements)

Referensi:

  1. Baghel K, Khan A, Kango N. Role of synbiotics (prebiotics and probiotics) as dietary supplements in type 2 diabetes mellitus induced health complications. J Diet Suppl. 2024;21(5):677-708. doi:10.1080/19390211.2024.2340509. 
  2. Setayesh A, Karimi M, Karimi MA, Pirzad S, Heydari M, Asbaghi O, et al. Effects of probiotic and synbiotic supplementation on glycemic indices in adult individuals with prediabetes and type 2 diabetes mellitus: a grade-assessed systematic review and dose-response meta-analysis of RCTs. Probiot Antimicrob Proteins. 2026;18:3181–204. doi:10.1007/s12602-025-10644-w.
  3. Amlashi MA, Hashemi-Madani N, Jazayeri S. Effects of synbiotic supplementation on clinical symptoms and metabolic outcomes in patients with painful diabetic neuropathy: a pilot randomized controlled trial. Diabetol Metab Syndr. 2026. doi:10.1186/s13098-026-02244-7.
Share this article
Related Articles
Related Products
70d1fa508c2057660e244a272bbf0e94.png
ac03b0b9e70d4cd4fa7aef016407a855.jpg
daa1fa3d4037afd7018afeccdfa5dce6.jpg
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
562c942b3a9241996082d00520600132.jpg
d8eefd03ffb042f61c7c5d89badb9bf5.png
a76660a9081fe236b3b0017bf4f7d371.jpg
3509da4215675d00c9a19ee51eb3f21e.jpg
63467ee451b539cf099d3e9ab5187213.png
d5f249a4d77a637189fff9aa1ecb17a9.jpg