Detail Article
Manfaat Pemberian Probiotik Bifidobacterium lactis BB-12 pada Dewasa yang Mendapat Terapi Antibiotik
dr. Josephine Herwita
Sep 01
Share this article
13f625a440c0bbb79afb1221fa82215f.jpg
Updated 01/Sep/2022 .

Pemberian antibiotik dapat memengaruhi homeostasis saluran pencernaan dan dikaitkan dengan penurunan jumlah dan keragaman mikrobiota usus, penurunan produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), akumulasi karbohidrat luminal, perubahan pH, penurunan absorpsi air, dan berpotensi mengakibatkan diare terkait antibiotik (AAD). AAD merupakan efek samping yang sangat mengganggu dan dapat mengakibatkan ketidaktaatan minum obat, morbiditas, dan penggunaan antibiotik lini kedua yang tidak diperlukan.


Di sisi lain, spesies mikrobiota memfermentasikan karbohidrat yang tidak dicerna dan mencapai kolon untuk memproduksi asam lemak rantai pendek, asam laktat, H2, dan CO2 sebagai metabolit. Asam lemak rantai pendek sangat penting untuk kesehatan pencernaan dan akan diserap oleh sel epitel kolon untuk melindungi energi, Na+, dan cairan. Pemberian probiotik, salah satunya Bifidobacterium animalis subsp. lactis BB-12 (BB-12), merupakan salah satu cara yang diperkirakan mampu mencegah penurunan asetat feses pada subjek yang mendapat terapi antibiotik. Hal ini didasari oleh hasil studi probiotik BB-12 mampu memproduksi asetat secara in vitro.

 

Merenstein, dkk. (2021) melakukan studi acak terkontrol pada partisipan dewasa (18-65 tahun) yang menerima terapi antibiotik amoxicillin/clavulanate selama 7 hari. Partisipan yang terlibat kemudian dibagi menjadi kelompok probiotik dan kontrol, di mana keduanya diberikan intervensi dalam bentuk yogurt yang mengandung probiotik BB-12 1x1010 CFU per 100 mL atau plasebo. Pemberian intervensi dilakukan bersamaan dengan pemberian antibiotik dan dilanjutkan hingga 7 hari setelah penghentian terapi antibiotik, yaitu total 14 hari. Cara pemberian yogurt, apakah diberikan bersamaan, sebelum, atau setelah waktu konsumsi antibiotik tidak dijelaskan pada studi ini.


Studi ini berhasil membuktikan hipotesisnya. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat penurunan kadar asetat feses yang signifikan pada kedua kelompok setelah pemberian antibiotik. Namun, penurunannya lebih ringan pada kelompok probiotik dibanding kontrol (15,6% - 11,7% vs 30,6% - 17,6%). Selain penurunan yang lebih ringan, kembalinya kadar asetat ke basal juga lebih cepat pada kelompok probiotik dibanding kontrol. Kadar asetat pada hari ke-30 di kelompok kontrol tetap rendah (-25,1%), sedangkan kadar pada kelompok probiotik sudah naik kembali mendekati nilai basal (-1,6%). Keragaman (diversity) spesies mikrobiota usus atau disebut Shannon diversity ditemukan menurun pada mayoritas sampel partisipan pada kedua kelompok. Namun, penurunannya signifikan lebih besar pada kelompok kontrol pada hari ke- 7 dan ke-14.


Studi ini juga menilai relative risk perbaikan yang didefinisikan sebagai persentase partisipan yang membaik pada kelompok probiotik dibandingkan dengan partisipan yang membaik pada kelompok kontrol dalam 30 hari. Perbaikan didefinisikan sebagai kadar asetat feses setidaknya 15% nilai basal. Hasil menunjukkan bahwa kelompok yang diberikan probiotik BB-12 memiliki risiko perbaikan 2,3 kali lipat lebih besar dibanding kontrol. Efek samping yang cukup sering ditemukan adalah BAB cair, yaitu 42% pada kelompok kontrol dan 26% pada kelompok probiotik melaporkan setidaknya terdapat satu hari dengan BAB cair pada follow-up hari ke-7. Seluruh efek samping yang dilaporkan bersifat self-limiting dan tidak terdapat efek samping serius. Total 53 efek samping dilaporkan dari 20 orang partisipan kelompok kontrol dan total 66 efek samping dilaporkan dari 42 orang partisipan kelompok probiotik.


Berdasarkan studi ini, terlihat bahwa kadar asam lemak rantai pendek dan mikrobiota mengalami perubahan selama pemberian antibiotik dan keduanya dapat diperbaiki dengan pemberian BB-12. Perlu diingat bahwa pemberian probiotik pada studi ini dilakukan bersamaan dengan terapi antibiotik (7 hari) dilanjutkan 7 hari lagi setelah berhentinya terapi antibiotik. Oleh karena itu, pemberian probiotik BB-12 pada dewasa (18-65 tahun) dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping antibiotik.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: azerbaijan_stockers - Freepik)

Referensi:

Merenstein D, Fraser CM, Roberts RF, Liu T, Grant-Beurmann S, Tan TP, et al. Bifidobacterium animalis subsp. lactis BB-12 protects against antibiotic-induced functional and compositional changes in human fecal microbiome. Nutrients 2021;13(8):2814. Doi: https:// doi.org/10.3390/nu13082814



Share this article
Related Articles
Efektivitas dan Keamanan PEG 3350 Lebih Baik Dibanding Laktulosa pada Konstipasi Fungsional Anak
dr. Josephine Herwita | 21 Sep 2022
Sinbiotik Efektif Mencegah Infeksi Nosokomial pada Pasien Kritis Dewasa
dr. Josephine Herwita | 23 Agt 2022
Suplementasi Probiotik Strain Lactobacillus dan Bifidobacterium pada Wanita Hamil Mencegah Eksema pada Anak
dr. Josephine Herwita | 18 Jul 2022
Gangguan Mikrobiota pada Osteoporosis dan Potensi Peran Probiotik, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 08 Jul 2022
Konsumsi Kopi Berkorelasi Signifikan dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease
dr. Josephine Herwita | 27 Jun 2022
Probiotik Kumur Bermanfaat Menurunkan Jumlah Bakteri Penyebab Karies Gigi pada Anak
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 07 Jun 2022
Probiotik, Prebiotik, dan Sinbiotik Memperbaiki Profil Metabolik Pasien Penyakit Ginjal Kronik
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 23 Mei 2022
Manfaat Pemberian Suplemen Sinbiotik pada Nyeri Abdomen Fungsional Anak
dr. Josephine Herwita | 21 Apr 2022
Pemberian Polyethylene Glycol pada Kehamilan untuk Atasi Konstipasi, Bagaimana Keamanannya?
dr. Josephine Herwita Atepela | 04 Mar 2022
Mecobalamin 500 mcg mendukung Agen Prokinetik untuk Meningkatkan Khasiat dan Laju Pengosongan Lambung secara signifikan, Menurunkan Motilin serum pada Gastroparesis Diabetik
dr. Lupita Wijaya | 07 Feb 2022