Detail Article
Perawatan Mengencangkan Kulit
dr. Della Sulamita Mahendro
Jun 09
Share this article
0ffde9db0098be30fc209b099b3e5dd5.jpg
Updated 09/Jun/2022 .

Tindakan minimal dan non-invasif untuk mengencangkan kulit merupakan salah satu prosedur kosmetik yang sering di cari. Kulit yang mengendur / skin laxity sering terlihat pada area wajah, leher, jawline, tangan, abdomen dan paha, dibarengi dengan munculnya kerutan halus, keriput, dan selulit. Faktor instrinsik dan ekstrinsik berkontribsi dalam terjadinya kulit yang mengendur. Faktor instriksik meliputi usia kronologis, stres dan genetik, sementara faktor ekstrisik seperti radiasi, toksin serta asap rokok. Faktor tersebut mempengaruhi produksi dan pemeliharaan kolagen serta protein elastic, di mana kedua komponen tersebut yang dapat membantu kulit tetap kencang dan halus. Dengan tujuan memperbaiki kulit kendur, modalitas untuk mengencangkan kulit mulai dikembangkan.


Secara tradisional, kulit kendur dihilangkan dengan prosedur operasi kulit invasive (rhytidectomy), yang membutuhkan biaya besar, anestesia umum, ruang operasi, waktu penyembuhan yang lama serta risiko terjadinya jaringan parut. Adanya risiko yang berhubungan dengan prosedur invasif, memerlukan dikembangkannya metode non-invasif.


Terapi Laser

Sejak disetujui tahun 1980, terapi laser menjadi pilihan alternatif selain operasi dalam terapi mengencangkan kulit. Terapi laser dapat dibagi menjadi dua, yaitu ablative dan non-ablative. Tindakan laser ablative tradisional untuk mengencangkan kulit, contohnya adalah penggunaan CO2 atau erbium. Mekanismenya dengan ablasi lapisan epidermis hingga bersih, sehingga memicu kaskade penyembuhan luka yang akan diikuti dengan neocollagenesis dan remodelling. Terapi laser ablative tradisional tidak dilakukan secara rutin, karena membutuhkan waktu penyembuhan yang panjang, risiko terbentuknya jaringan ikat, memicu akne, herpes simpleks, hiperpigmentasi, dan hipopigmentasi. Selain itu ada yang dinamakan laser fraksional ablative, di mana berdasarkan beberapa studi didapatkan waktu penyembuhan yang lebih baik dan risiko efek samping yang lebih ringan. Berdasarkan studi rerata perbaikan kulit kendur berkisar 56% hingga 65,3% setelah 6 bulan terapi. Terapi laser non-ablative menjadi pilihan alternatif laser terapi ablative karena memiliki efek yang lebih ringan, didapatkan rerata perbaikan kulit kendur 8,9% hingga 11%, 3 bulan setelah terapi. Kebanyakan studi melaporkan terjadinya eritema transient setelah terapi, namun tidak terjadi permanen. 


Radiofrekuensi (RF)

Teknologi radiofrekuensi merupakan metode non-invasif pertama yang dikenal untuk mengencangkan kulit. Alat radiofrekuensi bekerja dengan memancarkan panas melalui tahanan kulit, sehingga memicu kontraksi kolagen dan remodelling serta neocollagenesis. Efek samping yang dilaporkan berupa eritema pada 1 minggu pertama, risiko jaringan ikat hipertrofik, hiperpigmentasi pasca-inflamasi dan nyeri. Pada trial oleh Fitzpatrick, et al, didapatkan perbaikan 83,2% kulit kendur pada area periorbital dengan menggunakan ThermaCool TC pada satu area dan 28,9% perbaikan pada seluruh area setelah 6 bulan terapi. 


Ultrasound

Penggunaan ultrasound untuk mengencangkan kulit disetujui sejak tahun 2009. Mekanisme utama dalam mengencangkan kulit adalah secara termal mencetuskan kontraksi kolagen + kolagen neogenesis. Didapatkan ada dua tipe metode ultrasound, yaitu mikrofokus dan high intensity focused. Microfocused ultrasound focus menyalurkan denyut energi rendah ke lapisan dermal retikuler dalam dan lapisan subdermal sehingga meningkatkan elastisitas, dan viskoelasisitas. Oni, et al, mengevaluasi 93 pasien yang menggunakan Ulthera untuk kulit kendur pada area wajah bawah, dan didapatkan 63,6% perbaikan setelah 90 hari terapi. Efek samping yang sering dilaporkan berupa purpura sementara, edema sementara, pigmentasi pasca inflamasi sementara. Efek samping serius yang dapat terjadi berupa paresis saraf motorik. 

High intensity focused ultrasound akhir-akhir ini dicari sebagai modalitas mengencangkan kulit dan peremajaan kulit, dengan menargetkan efek thermal dan mikrokoagulasi sehingga menyebabkan kulit kencang. 


Terapi IPL

Intense pulsed light therapy (IPL) berbeda dengan laser karena memiliki variasi panjang gelombang berkisar 500 hingga 1200 nm. Mengencangkan kulit dicapai dengan photothermolysis, di mana kerusakan thermal focus pada target pigmen pada level sel dan jaringan epidermis serta dermis. IPL menembus jaringan dan secara selektif diabsorpsi oleh melanin dan hemoglobin, yang akan menghasilkan efek photothermal. Efek photothermal menyebabkan kerusakan thermal secara reversible pada kolagen dan menginduksi kontraksi kolagen. Efek samping sementara yang dapat terjadi berupa nyeri, bengkak dan kemerahan. 


Chemical Peels

Chemical peels digunakan untuk terapi kulit kendur dengan mekanisme yang mirip dengan laser ablative. Terapi ini hanya digunakan pada area wajah. Produk dipenetrasikan hingga dermis atau lebih dalam, agar dapat menyebabkan sintesis kolagen secara adekuat. Pengelupasan menyebabkan koagulasi protein membran dan nekrosis epidermis dan dermis, sehingga menstimulasi sintesis kolagen dan regenerasi keratinosit. Trichloroacetic acid (TCA) 35% merupakan komponen utama yang digunakan untuk pengelupasan / peels. Efek samping sementara yang dapat terjadi berupa kemerahan, bengkak dan erosi kulit yang akan sembuh tanpa pembentukan jaringan ikat dalam 30 hari ke depan. 


Skin Care 

Produk perawatan kulit dikembangkan lebih agresif, salah satunya ditargetkan untuk terapi kulit kendur. Beberapa studi melibatkan produk-produk fotoprotektif, antioksidan dan vitamin A. Oksidasi merupakan faktor mayor dalam terjadinya kulit kendur. Secara alami kulit memiliki mekanisme pertahanan antioksidan endogen untuk melindungi sel dari kerusakan radikal bebas. Asam askorbat merupakan kolagen stimulator yang memiliki efek antioksidan. Selain itu, penggunaan vitamin A, retinoic acid juga digunakan untuk meningkatkan produksi komponen procollagen. Vitamin A pada kulit memiliki peranan dalam regulasi dan proliferasi serta diferensiasi sel pada epidermis dan dermis. 


Berbagai teknologi telah dikembangkan untuk memperbaiki kulit kendur. Laser, RF, ultrasound, IPL serta skincare merupakan beberapa pilihan terapi. Faktor keamanan, hasil, biaya serta efek samping menjadi pertimbangan pemilihan terapi.



Gambar: Ilustrasi (sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Referensi:

Kwan KR, Kolansky Z, Abittan BJ, Farberg AS, Goldenberg G. Skin tightening. Cutis. 2020;106(3):134-137;139;E1. 

Share this article
Related Articles
Efektivitas Simethicone pada Bowel Preparation
Dr. Della Sulamita Mahendro | 20 Jan 2022
Klonidin Epidural Memperpanjang Efek Anestesi Lokal
dr. Laurencia Ardi | 29 Nov 2021