Detail Article
24 Fakta Seputar Tuberkulosis yang Perlu Diketahui
dr. Johan Indra Lukito
Mar 24
Share this article
bad7d5de54151957dbc4e286a32e6e90.jpg
Updated 24/Mar/2022 .

Tuberkulosis (TBC) atau TB adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tanggal 24 Maret merupakan peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, yang ditujukan untuk membangun kesadaran umum tentang wabah Tuberkulosis serta usaha-usaha untuk mengurangi penyebaran wabah tersebut.


Berikut 24 fakta seputar penyakit TBC yang perlu diketahui:

1. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang diderita sejak zaman kuno. Studi menunjukkan bahwa TB sudah diderita oleh manusia sejak 8000 tahun yang lalu.

2. Penyebabnya baru diketahui pada 24 Maret 1882 oleh seorang dokter dari Jerman bernama Robert Koch. Tanggal 24 Maret kemudian diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Dunia.

3. Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang menular dari orang yang sakit TB melalui udara, misalnya dengan batuk, berbicara, atau menyanyi.

4. Sekitar seperempat populasi dunia telah terinfeksi bakteri penyebab TB, setara dengan sekitar 2 miliar orang. Namun, hanya sekitar 5-10% yang akan menderita penyakit TB.

5. Sebagian besar orang (sekitar 90%) yang menderita TB adalah orang dewasa, terutama pada pria.

6. Bakteri penyebab TB dapat hidup di dalam tubuh tanpa menimbulkan penyakit TB. Ini disebut infeksi TB laten. Pada kebanyakan orang yang menghirup bakteri TB dan terinfeksi, tubuh mampu melawan bakteri untuk menghentikan pertumbuhannya. Orang dengan infeksi TB laten tidak bergejala, tidak menularkan ke orang lain, dan umumnya tidak akan pernah sakit TB selama memiliki daya tahan tubuh yang baik. Risiko menderita penyakit TB jauh lebih tinggi pada orang yang terinfeksi HIV(Human Immunodeficiency Virus), kurang gizi, menderita diabetes, merokok, dan konsumsi alkohol.

7. TB umumnya mengenai paru (disebut TB paru), tetapi juga dapat mengenai organ lain (disebut TB ekstraparu), seperti:

  • Selaput otak (meningen)
  • Pleura (selaput pembungkus paru)
  • Kelenjar getah bening
  • Saluran pencernaan
  • Saluran kemih
  •  Kulit
  • Sendi dan tulang

Umumnya hanya jenis TB paru yang menular.

8. Pada tahun 2020, TB adalah penyebab kematian tertinggi ke-13 di seluruh dunia dan penyebab kematian tertinggi kedua akibat infeksi tunggal, setelah COVID-19.

9. Pandemi COVID-19 telah membalikkan kemajuan program pemberantasan TB global yang telah dicapai selama bertahun-tahun. Target TB global sebagian besar berada di bawah target. Dampak yang paling jelas berupa penurunan jumlah laporan orang yang baru didiagnosis TB dari 7,1 juta pada tahun 2019 menjadi 5,8 juta pada tahun 2020. Penurunan 18% ini berarti kembali ke capaian tahun 2012. Sebanyak 16 negara menyumbang 93% dari penurunan ini, dengan India, Indonesia, dan Filipina yang paling terdampak.

10. Pada tahun 2020, secara global diperkirakan ada 1,3 juta kematian di antara orang non-HIV, naik dari 1,2 juta pada 2019, dan 214.000 kematian di antara penderita HIV, naik sedikit dari 209.000 pada tahun 2019. Pandemi COVID-19 menyebabkan jumlah total kematian pada tahun 2020 kembali ke total tahun 2017.

11. Pada tahun 2020, Indonesia berada di posisi ke-3 negara dengan jumlah penderita TB terbanyak dengan menyumbang 8,4% kasus secara global, setelah India (26%) dan Tiongkok (8,5%).

12. Gejala klasik TB paru umumnya berupa BATUKS, yaitu singkatan dari:

  • Batuk berdahak lebih dari 2 minggu
  • Anoreksia (tidak nafsu makan)
  • Turun berat badan
  • Keringat di malam hari tanpa aktivitas
  • Sesak napas/sakit pada dada

13. Tes diagnostik untuk penyakit TB meliputi pemeriksaan dahak/sputum (dikembangkan >100 tahun yang lalu), tes molekuler cepat (disahkan oleh WHO pada tahun 2010) dan metode berbasis kultur yang membutuhkan waktu beberapa minggu untuk memberikan hasil tetapi paling akurat.

14. Tanpa pengobatan, angka kematian akibat TB tinggi. Studi menemukan bahwa sekitar 70% orang dengan TB paru yang tidak diobati meninggal dalam waktu 10 tahun setelah didiagnosis.

15. Obat TB yang efektif pertama kali dikembangkan pada tahun 1940-an. Pengobatan yang saat ini direkomendasikan untuk orang dengan penyakit TB yang sensitif terhadap obat adalah rejimen 6 bulan dari empat obat, yaitu: isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid

16. The Global TB Drug Facility dan Pemerintah menyediakan obat TB rejimen 6 bulan dengan biaya sekitar US$ 40 per orang. Obat ini diberikan secara gratis untuk pasien.

17. Tingkat kesembuhan untuk orang yang minum obat TB rejimen 6 bulan adalah minimal 85%.

18. Pengobatan untuk penderita TB yang resisten terhadap rifampisin (RR-TB) dan multidrug-resistant TB (MDR-TB, didefinisikan sebagai resistensi terhadap isoniazid dan rifampisin, dua obat TB yang paling kuat) memerlukan waktu yang lebih lama, biaya lebih mahal (≥US$ 1000 per orang), serta menyebabkan lebih banyak efek samping.

19. Tingkat kesembuhan untuk pengobatan TB yang resisten terhadap rifampisin umumnya berkisar 50-75%.

20. Orang yang meminum obat rifampisin atau rifapentin umumnya akan mengalami perubahan warna oranye pada urin dan cairan tubuh lainnya. Ini adalah hal yang normal.

21. Satu-satunya vaksin yang dizinkan untuk pencegahan penyakit TB adalah Bacille Calmette-Guérin (BCG). Vaksin BCG pertama kali diberikan pada manusia pada tahun 1921.

22. Vaksin BCG bermanfaat mencegah bentuk parah TB pada anak, seperti meningitis TB yang menyerang otak.

23. Vaksin BCG tidak mencegah infeksi pertama TB dan tidak mencegah kambuhnya infeksi TB paru yang merupakan sumber utama penyebaran kuman di masyarakat. Oleh karena itu, dampak vaksinasi BCG terhadap penularan kuman TB terbatas.

24. Hingga tahun 2020, belum ada vaksin yang efektif untuk mencegah penyakit TB pada orang dewasa. Penelitian mencari vaksin tersebut masih berlangsung.

 

 

Gambar: Ilustrasi (www.freepik.com)

Referensi:

1. Global tuberculosis report 2021. WHO [Internet]. 2021 [cited 2022 February 21]. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/9789240037021

2. Hershkovitz I, Donoghue HD, Minnikin DE, May H, Lee OY, Feldman M, et al. Tuberculosis origin: the Neolithic scenario. Tuberculosis 2015;95(Suppl 1):122–6

3. Sakula A. Robert Koch: Centenary of the discovery of the tubercle bacillus, 1882. Thorax 1982;37(4):246–51

4. CDC. World TB day [Internet]. 2021 [cited 2022 February 21]. Available from: https://www.cdc.gov/tb/worldtbday/default.htm#:~:text=Each%20year%2C%20we%20recognize%20World,of%20TB%20around%20the%20world.

5. CDC. Tuberculosis (TB) [Internet]. 2016 [cited 2022 February 21]. Available from: https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/howtbspreads.htm

6. Tuberculosis (TB) [Internet]. 2020 [cited 2022 February 21]. Available from https://emedicine.medscape.com/article/230802-overview

7. TOSS TB: Temukan TB obati sampai sembuh [Internet]. 2016 [cited 2022 February 21]. Available from:https://www.kemkes.go.id/article/view/16040400008/toss-tb-temukan-tb-obati-sampai-sembuh.html#:~:text=Gejala%20TB%20diantaranya%3A%20(1),Klinik%20terdekat%20untuk%20diperiksa%20dahaknya.

8.  Apa itu “TBC ekstra paru”? [Internet]. 2021 [cited 2022 February 21]. Available from: https://tbindonesia.or.id/artikel/apa-itu-tbc-ekstra-paru/

9. Berobat gratis, pasien TB bisa sembuh asal patuh [Internet]. 2012 [cited 2022 February 21]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20121125/346497/berobat-gratis-pasien-tb-bisa-sembuh-asal-patuh/


Share this article
Related Articles
Manfaat Tecovirimat pada Monkeypox
dr Kupiya | 09 Agt 2022
Kombinasi Acetyl-L-Carnitine, ALA, dan CoQ10 Berpotensi Mencegah Hepatotoksisitas Disebabkan Obat Antituberkulosis.
dr. Lyon Clement | 08 Agt 2022
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
Virus Cacar Monyet, Inang dan Jalur Penularannya. Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Zoonosis Patogen
dr. Kupiya | 25 Mei 2022
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
Pemberian Levofloxacin Menurunkan Risiko Kematian pada Pneumonia yang Disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia
dr. Lyon Clement | 05 Mei 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Dolutegravir, Obat HIV Lini Pertama/Kedua untuk Anak-anak
dr. Yohanes Jonathan | 17 Feb 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022