Detail Article
Efek Proteksi Transgenerasional Kolin Terhadap Alzheimer, Apakah Itu?
Dedyanto Henky Saputra
Sep 04
Share this article
img-Brainjpg1.jpg
Updated 22/May/2020 .

Kolin dibutuhkan tubuh dalam pembentukan asetilkolin, suatu neurotransmitter penting pada fungsi otak dan sistem saraf termasuk memori, kontrol otot dan mood. Kolin juga diketahui memainkan peran penting dalam mengatur ekspresi gen. 

Kolin dibutuhkan tubuh dalam pembentukan asetilkolin, suatu neurotransmitter penting pada fungsi otak dan sistem saraf termasuk memori, kontrol otot dan mood. Kolin juga diketahui memainkan peran penting dalam mengatur ekspresi gen. Hasil penelitian yang dilakukan Biodesign Institute berikut menunjukkan potensi kolin dalam mengatasi gangguan memori pada penyakit Alzeihmer. Berbagai faktor berperan dalam menyebabkan terjadinya penyakit Alzheimer, sementara usia lanjut tetap menjadi faktor risiko terbesar, bahaya lain yang terlibat dalam mencetuskan penyakit ini adalah faktor genetik dan gaya hidup.

Studi dilakukan pada tikus yang dibiakkan sehingga menampilkan gejala seperti Alzheimer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika tikus-tikus ini diberi diet tinggi kolin, keturunan dari tikus-tikus tersebut mengalami peningkatan dalam memori spasialnya, dibandingkan dengan kelompok tikus yang menerima kolin dalam jumlah normal. Hal lain yang menarik, manfaat dari suplementasi kolin bersifat transgenerasional, tidak hanya memberikan efek proteksi pada tikus yang menerima suplementasi kolin selama masa kehamilan dan menyusui, tetapi juga pada keturunan berikutnya dari tikus-tikus ini. Sementara generasi kedua dari tikus-tikus ini tidak menerima suplementasi kolin langsung, akan tetapi tetap menuai manfaat suplemen kolin, yang kemungkinan karena modifikasi yang diturunkan pada gen mereka.

Efek proteksi kolin terhadap kejadian penyakit Alzheimer dalam penelitian ini setidaknya diketahui melalui dua mekanisme. 

Pertama, kolin mengurangi kadar homocysteine, asam amino yang dapat berperan sebagai neurotoksin kuat yang berkontribusi terhadap timbulnya gejala Alzheimer seperti neurodegenerasi dan pembentukan plak amiloid. Homocysteine diketahui menggandakan risiko berkembangnya penyakit Alzheimer dan kadarnya ditemukan dalam jumlah yang lebih tinggi pada pasien Alzheimer. Kolin berperan dalam melakukan transformasi kimia, dengan mengubah homocysteine yang berbahaya menjadi suatu bentuk yang bermanfaat yaitu methionine

Kedua, suplementasi kolin mengurangi aktivasi sel mikroglia yang suatu sel yang berperan dalam membersihkan debris di otak. Mikroglia ini memiliki fungsi sangat penting untuk kesehatan otak, akan tetapi apabila terjadi over aktivasi maka dapat mencetuskan penyakit Alzheimer. Aktivasi berlebihan mikroglia menyebabkan inflamasi otak dan pada akhirnya dapat menyebabkan kematian neuron. Suplementasi kolin mengurangi aktivasi mikroglia, memberikan proteksi terhadap kerusakan akibat Alzheimer.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Molecular Psychiatry pada awal tahun 2019 ini. Hasil penelitian ini merupakan penelitian pertama yang mengungkap efek transgenerasional dari pemberian kolin. 

 

 

Silahkan baca juga:Brainact, prekursor phospholipid, menghambat deposisi beta amiloid

Image: Ilustrasi (sumber: https://www.klikdokter.com)
Referensi: Velazquez R, Ferreira E, Winslow W, Dave N, Piras IS, Naymik M, et al. Maternal choline supplementation ameliorates Alzheimer’s disease pathology by reducing brain homocysteine levels across multiple generations. Molecular Psychiatry, 2019; DOI: 10.1038/s41380-018-0322-z

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplemen Asam Amino Glutamin dapat Memperbaiki Gejala Sakit Pencernaan IBS, Benarkah?
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019
Hubungan Kadar Vitamin A, E, dan Zinc dengan Keparahan Acne Vulgaris
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019
Efektivitas dan Keamanan Mycophenolate Mofetil sebagai Pengobatan Pasien Lupus Nefritis
Dokter Kalbemed | 15 Mar 2019