Pengelolaan diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) selama bulan Ramadan masih menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan dan pasien yang menjalankan ibadah puasa. Risiko komplikasi metabolik seperti hipoglikemia, hiperglikemia, dan ketoasidosis diabetikum meningkat akibat perubahan pola makan yang drastis. Untuk menjawab tantangan ini, International Diabetes Federation (IDF) bersama Diabetes and Ramadan (DAR) International Alliance merilis pembaruan pedoman praktis tahun 2025 yang bertujuan untuk memastikan keamanan dan efikasi pengobatan pasien diabetes yang menjalankan ibadah puasa.
Pedoman DaR–ADA–IDF 2025 menekankan beberapa aspek transformatif dalam manajemen diabetes saat berpuasa. Salah satu poin utama adalah integrasi teknologi medis terkini, termasuk penggunaan sistem Automated Insulin Delivery (AID) atau pompa hybrid closed-loop serta Continuous Glucose Monitoring (CGM). Penggunaan CGM memungkinkan pemantauan glukosa secara real-time, yang sangat krusial dalam mendeteksi fluktuasi glukosa darah selama periode puasa dan setelah berbuka.
Selain aspek teknologi, terdapat penyempurnaan pada instrumen stratifikasi risiko. IDF-DAR Risk Calculator telah diperbarui untuk tahun 2026 guna meningkatkan presisi dalam menghitung tingkat risiko puasa pada pasien dengan DMT2. Penilaian risiko ini menjadi dasar bagi klinisi untuk memberikan rekomendasi medis, apakah seorang pasien diperbolehkan berpuasa secara aman atau memiliki risiko tinggi yang memerlukan pengawasan ketat. Pemilihan terapi penurun glukosa darah saat ini lebih diprioritaskan pada penggunaan obat-obatan yang memiliki risiko hipoglikemia rendah. Berdasarkan pedoman terbaru, beberapa modalitas terapi yang direkomendasikan meliputi obat antidiabetes oral (OAD) seperti Metformin dan SGLT2i, serta terapi injeksi seperti insulin, GLP-1RA, ataupun terapi kombinasi. Bagi pasien yang memerlukan intensifikasi insulin, pilihan strategi dapat mencakup rejimen basal-bolus, insulin premixed, atau penambahan GLP-1RA. Salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan adalah penggunaan fixed-ratio combination (FRC) yang menggabungkan insulin basal dengan agonis reseptor GLP-1 (seperti iGlarLixi) dalam satu suntikan, sehingga lebih sederhana dan menurunkan jumlah suntikan.
Dalam praktiknya, penggunaan FRC seperti iGlarLixi selama Ramadan memerlukan penyesuaian waktu dan dosis. Berdasarkan konsensus, pemberian disarankan dilakukan dalam waktu 1 jam sebelum iftar. Bagi pasien dengan kontrol glukosa darah yang sudah tercapai dengan baik, pengurangan dosis sebesar 20% dapat dipertimbangkan untuk meminimalisir risiko hipoglikemia. Penting untuk dicatat bahwa idealnya, inisiasi penggunaan FRC sebaiknya dimulai 4 hingga 12 minggu sebelum Ramadan. Waktu transisi ini diperlukan agar proses titrasi dapat dilakukan untuk mencapai dosis optimal dan kendali glikemik yang stabil sebelum pasien mulai berpuasa.
Bukti nyata mengenai keamanan dan efektivitas penggunaan iGlarLixi pada pasien DMT2 yang berpuasa telah dilaporkan dalam studi observasional SoliRam.Hasil studi ini menunjukkan 92,4% partisipan berhasil menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh tanpa terputus. Dari sisi keamanan, risiko hipoglikemia simptomatik yang terdokumentasi tercatat sangat minimal, yakni hanya sebesar 2,3%, dan tidak ditemukan kejadian hipoglikemia berat selama bulan Ramadan. Selain itu, didapati bahwa dosis dari rejimen terapi tidak banyak memerlukan penyesuaian sepanjang masa studi.
Selain profil keamanan, studi SoliRam juga menunjukkan efikasi yang baik pada pasien DMT2 yang menjalankan ibadah puasa. Terjadi penurunan rerata HbA1c sebesar 0,75%, dari 8,2% pada periode pra-Ramadan menjadi 7,5% pada periode pasca-Ramadan. Selain itu, pasien yang mendapatkan iGlarLixi juga menunjukkan rerata berat badan yang stabil selama masa studi, dimana terjadi penurunan rerata berat badan yang tidak signifikan sebanyak 1,0 kg [pre-Ramadan (85.9 kg), post-Ramadan (84.5 kg)].

Kesimpulan
Selaras dengan Pedoman DaR-ADA-IDF 2025 yang memprioritaskan terapi dengan risiko hipoglikemia rendah, penggunaan kombinasi rasio tetap (FRC) seperti iGlarLixi dapat menjadi opsi terapi yang efektif dan dapat ditoleransi dengan baik bagi pasien DMT2 yang ingin menjalankan ibadah puasa. Data klinis menunjukkan bahwa strategi ini mampu menjaga kendali glikemik secara berkelanjutan dan juga berat badan yang stabil, tanpa mengorbankan aspek keamanan pasien.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Freepik)
Referensi
1. Ceriello A, Colagiuri S. IDF global clinical practice recommendations for managing type 2 diabetes - 2025. Diabetes Res Clin Pract. 2025;222 Suppl 1:112152.
2. Affandi B, Suliman M, Shaikh S, Beshyah SA, Hassanein M. The 2026 update of the IDF-DAR risk calculator for fasting in people with diabetes. J Diabetes Endocr Pract. 2025.
3. Rosandi R, Taufik FE, Ardiany D, Lubis DA, Mokoagow I, Ritonga E. Pedoman penatalaksanaan diabetes mellitus tipe 2 pada individu dewasa di bulan Ramadan. PB PERKENI; 2022.
4. International Diabetes Federation and DAR International Alliance. Diabetes and ramadan: practical guidelines 2021 [Internet]. Brussels, Belgium: International Diabetes Federation; 2021. Available from: www.idf.org/guidelines/diabetes-in-ramadan.
5. Hassanein M, Malek R, Shaltout I, Sahay RK, Buyukbese MA, Djaballah K, et al. Real-world safety and effectiveness of iGlarLixi in people with type 2 diabetes who fast during Ramadan: The SoliRam observational study. Diabetes Metab Syndr Clin Res Rev. 2023;17(2):102707.