Detail Article

Suplemen Nutrisi Oral secara Dini pada Pasien Kanker Saluran Cerna, Ini Manfaatnya

dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi
Jan 16
Share this article
b1ba13803171437d3087ae0adec08e92.jpg
Updated 18/Jan/2026 .

Kanker saluran cerna (seperti kanker gaster, kolorektal, dan pankreas) adalah jenis kanker yang sering menyebabkan masalah gizi berat. Tindakan operasi dan kemoterapi juga berperan dalam menurunkan nafsu makan dan mengganggu proses pencernaan, sehingga membuat pasien sulit mempertahankan berat badan. Bila tidak ditangani, pasien dapat mengalami malnutrisi dan kakeksia yang menurunkan kualitas hidup, mengurangi toleransi terhadap kemoterapi, dan memperburuk peluang survival. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah pemberian suplemen nutrisi oral sejak dini dapat memperbaiki status gizi dan membantu pasien menyelesaikan terapi

 


Salah satu cara sederhana untuk membantu asupan gizi adalah pemberian oral nutrition supplement (ONS) atau suplemen nutrisi oral yang mengandung tinggi kalori dan protein yang direkomendasikan untuk dikonsumsi di luar jadwal makan reguler. Namun, bukti ilmiah yang kuat ONS untuk kasus ini, khususnya pada pasien kanker saluran cerna yang sedang menjalani kemoterapi, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai apakah pemberian ONS sejak dini dapat memperbaiki status gizi dan membantu pasien menyelesaikan terapi.

 

Penelitian yang dilakukan merupakan uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial) terbuka dengan waktu observasi selama 12 minggu. Subjek terdiri dari 150 pasien dewasa dengan berbagai jenis kanker saluran cerna (kolorektal, gaster/gastroesofageal, pankreas) yang sedang menjalani siklus pertama kemoterapi. Selanjutnya dibagi menjadi 2 kelompok:

· Kelompok ONS (n=75): diberikan ONS 500 kkal/hari dalam bentuk formula serbuk (per 100 mL mengandung ±100 kkal, 3,72 g protein, 3,27 g lemak, 13,42 g karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral) plus konseling gizi.

· Kelompok kontrol (n=75): hanya mendapat kemoterapi standar plus konseling gizi, tanpa ONS.

 

Intervensi diberikan 12 minggu selama 6–8 siklus kemoterapi. Parameter yang dinilai adalah:

Parameter utama.

· Berat badan, indeks massa tubuh (IMT), komposisi tubuh (massa lemak, massa bebas lemak, massa otot) dengan DEXA.

· Status gizi dengan kuesioner PG-SGA (skor semakin tinggi = semakin buruk gizi).

Parameter tambahan.

· Pemeriksaan darah (albumin, protein total, profil lemak, CRP).

· Efek samping kemoterapi (nyeri, neuropati, sindrom tangan-kaki, gangguan hati).

· Keterlambatan siklus kemoterapi dan kebutuhan penurunan dosis.

Kedua kelompok sebanding pada awal penelitian dari sisi usia, berat badan, stadium kanker, jenis kemoterapi, dan penyakit penyerta.

 

Hasil penelitian adalah:

A.   Perubahan berat badan dan komposisi tubuh

  • Rata-rata kenaikan berat badan setelah 12 minggu:
  • Kelompok ONS: +1,27 ± 3,39 kg
  • Kelompok kontrol: +0,15 ± 0,42 kg
  • Analisis longitudinal menunjukkan interaksi waktu–kelompok yang bermakna untuk berat badan (p = 0,044), artinya pola perubahan berat nyata lebih baik pada kelompok yang mendapat ONS.
  • Regresi multivariat: ONS berhubungan dengan kenaikan berat yang lebih baik yaitu sekitar +1,65 kg dibanding kontrol (p = 0,01).
  • Indeks massa tubuh (IMT):
  • Terjadi peningkatan IMT yang bermakna sepanjang waktu (p < 0,02), terutama pada kelompok ONS.
  • Regresi multivariat menunjukkan ONS meningkatkan IMT lebih baik yaitu sekitar +0,62 kg/m² dibanding kontrol (p = 0,025).
  • Massa otot (lean mass dan lean mass/tinggi badan²):
  • Ada perubahan bermakna seiring waktu (p < 0,001) dan interaksi waktu–kelompok signifikan untuk indeks massa otot (p = 0,007).
  • Kelompok ONS mampu mempertahankan dan sedikit meningkatkan massa otot, sedangkan kelompok kontrol cenderung menurun.
  • Massa lemak dan indeks massa lemak (FMI/fat mass index):
  • Massa lemak total menunjukkan tren membaik di kelompok ONS (T2–T3 p = 0,034).
  • Indeks massa lemak menunjukkan interaksi waktu–kelompok bermakna (p = 0,023):
  • Kelompok ONS: cenderung meningkat atau stabil.
  • Kelompok kontrol: cenderung menurun (kehilangan lemak).

B.    Status gizi dengan PG-SGA

  • Skor PG-SGA awal:
  • ONS: 12,37 ± 3,80
  • Kontrol: 10,68 ± 3,48 (p = 0,005; kelompok ONS justru sedikit lebih buruk di awal).
  • Setelah 12 minggu (T3):
  • ONS: turun menjadi 6,12 ± 2,96
  • Kontrol: tetap tinggi 11,39 ± 5,12
  • Perbedaan perubahan T3–T1 sangat bermakna: ONS: −6,25 poin vs kontrol: +0,71 poin (p < 0,001).
  • Regresi menunjukkan pasien ONS memiliki skor PG-SGA 5,71 poin lebih rendah dibanding kontrol setelah 12 minggu (p < 0,001), menandakan perbaikan gizi yang jelas.
  • Perubahan kategori PG-SGA (A = gizi baik, B = malnutrisi ringan–sedang, C = malnutrisi berat):
  • ONS: kategori A naik dari 16% (T1) menjadi 78,67% (T3); kategori C turun drastis dari 37,33% ke 2,66% (p < 0,001).
  • Kontrol: kategori C justru meningkat dari 24% menjadi 41,34% (p < 0,001).

C.    Biomarker gizi

  • Albumin serum:
  • Perubahan 12 minggu berbeda bermakna antara kelompok (ΔT3–T1 p < 0,001).
  • Regresi: ONS meningkatkan kadar albumin sekitar +0,78 g/dL dibanding kontrol (p < 0,001).
  • Biomarker lain (protein total, kolesterol, trigliserida, CRP) tidak menunjukkan perbedaan bermakna (p > 0,05).

D.   Efek samping dan keterlambatan kemoterapi

  • Kelompok kontrol mengalami lebih banyak:
  • Nyeri derajat tinggi (p < 0,001).
  • Neuropati derajat 3 (p = 0,002).
  • Sindrom tangan–kaki (p = 0,027).
  • Kebutuhan obat penunjang fungsi hati (p = 0,018).
  • Penundaan terapi dan penurunan dosis kemoterapi jauh lebih sering pada kelompok kontrol (semua p < 0,001), artinya pasien dengan ONS lebih mampu menyelesaikan jadwal kemoterapi sesuai rencana.

 

Kesimpulan:

Dari penelitian ini didapatkan bahwa pemberian ONS atau suplemen nutrisi oral 500 kkal/hari selama 12 minggu pada pasien kanker saluran cerna yang menjalani kemoterapi dapat membantu mempertahankan bahkan meningkatkan berat badan, IMT, serta massa otot dan lemak, secara nyata memperbaiki status gizi menurut skor dan kategori PG-SGA, dapat meningkatkan kadar albumin sebagai salah satu penanda gizi dan prognosis, serta mengurangi beberapa efek samping berat kemoterapi, keterlambatan siklus, dan kebutuhan penurunan dosis. Dengan kata lain, suplemen nutrisi oral berperan penting dalam menjaga komposisi tubuh dan menunjang kelancaran terapi kanker.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Pexels)

Referensi:

Sarhan RM, Boshra MS, Rabie ASI, Alzunaidy NA, Fahmy AM, Shabaan AH, et al. Impact of oral nutrition supplements in gastrointestinal cancer patients: a randomized controlled trial. Pharmaceutics 2025;17:1443. https://doi.org/10.3390/pharmaceutics17111443.


Share this article
Related Articles
Related Products
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
9ad059553c65954f17146dc89ff30716.jpg
7ff42cab058b5586a684e11a766590f9.jpg
a67d87d747817244a7ad753d94390bef.jpg
0d5d162fa2b93e7bdc58203d9383226f.jpg
30525a8dda13bda97ac1ffa62a674c8d.jpg
f5ff9860f25e346e73ff3ee81f827d3f.jpg
fa50bf2bdd8fd455d4fe11155ccbdc36.jpg
d9e04228feba274e954728ecbe866edb.jpg
4431c44b99239f5ffe960a390cc0d22c.jpg