Detail Article

Suplemen Nutrisi Oral Memperbaiki Performa Kondisi Frailty dengan Risiko Jatuh

dr. Dedyanto Henky S., M.Gizi, AIFO-K
Sep 09
Share this article
694170b1e57980ce56a372cb58dc1b41.jpg
Updated 10/Sep/2026 .

Frailty atau kerapuhan pada lanjut usia (lansia) merupakan kondisi geriatri yang ditandai oleh penurunan cadangan fisiologis tubuh. Kondisi ini biasanya terlihat melalui kelemahan otot, penurunan kecepatan berjalan, berkurangnya daya tahan, keterbatasan aktivitas fisik, dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai masalah kesehatan. Salah satu konsekuensi paling berbahaya dari frailty adalah meningkatnya risiko jatuh. Jatuh pada lansia bukan hanya dapat menyebabkan cedera, patah tulang, atau rawat inap, tetapi juga dapat menimbulkan rasa takut untuk bergerak, kehilangan kemandirian, penurunan kualitas hidup, serta peningkatan beban perawatan.


Malnutrisi dan penurunan massa otot atau sarkopenia berperan besar dalam memperburuk frailty. Lansia sering mengalami penurunan nafsu makan, kesulitan mengunyah atau menelan, penyakit penyerta, penggunaan banyak obat, serta hambatan fungsional dalam menyiapkan makanan. Selain itu, pada usia lanjut terjadi anabolic resistance, yaitu keadaan ketika tubuh tidak lagi merespons asupan protein dan latihan fisik sebaik pada usia muda. Oleh karena itu, strategi nutrisi yang menyediakan protein berkualitas tinggi, energi yang cukup, leusin, dan vitamin D berpotensi membantu mempertahankan atau memperbaiki fungsi otot.


Artikel ini mengevaluasi penggunaan suplemen nutrisi oral (oral nutrition supplementation/ONS yang ditargetkan untuk otot atau muscle-targeted oral nutritional supplementation (MT-ONS) dalam pelayanan klinis rutin. Produk yang digunakan berupa ONS tinggi kalori dan tinggi protein whey, diperkaya dengan leusin dan vitamin D. Penelitian ini penting karena memberikan gambaran penerapan ONS dalam kondisi nyata di klinik, bukan semata-mata dalam situasi uji klinis yang sangat terkontrol.


Protein whey dipilih dalam MT-ONS karena mengandung asam amino esensial yang mudah dicerna serta dapat merangsang sintesis protein otot. Leusin memiliki peran penting dalam mengaktivasi jalur mammalian target of rapamycin (mTOR), yaitu jalur metabolik yang berkaitan dengan pembentukan protein otot. Vitamin D juga diduga bermanfaat bagi fungsi neuromuskular dan kesehatan otot, khususnya pada lansia yang sering mengalami defisiensi vitamin D. Peneliti menilai bahwa pemberian MT-ONS tidak seharusnya berdiri sendiri. Oleh karena itu, ONS diberikan sebagai bagian dari rencana perawatan komprehensif yang meliputi rekomendasi pola makan, program latihan fisik Vivifrail (program latihan fisik multi-komponen yang dirancang khusus untuk mencegah frailty dan risiko jatuh pada lansia), evaluasi dan penyesuaian obat, serta saran modifikasi lingkungan rumah untuk pencegahan jatuh.

 

Penelitian ini merupakan studi prospektif, terbuka, satu kelompok, satu pusat, tidak terkontrol, dan bersifat deskriptif. Peserta penelitian adalah lansia berusia minimal 70 tahun yang memenuhi sedikitnya tiga kriteria frailty menurut Fried dan memiliki riwayat minimal tiga kali jatuh dalam enam bulan terakhir. Peserta juga harus aktif mengikuti pelayanan di unit tersebut serta mampu memberikan persetujuan tertulis. Pasien yang tidak bersedia atau tidak toleran terhadap MT-ONS, menggunakan nutrisi enteral, mengalami gangguan kognitif berat, atau mempunyai penyakit berat yang menghambat partisipasi tidak diikutsertakan.


Sebanyak 43 peserta direkrut pada periode Juni 2022 hingga Januari 2024. Namun, hanya 26 peserta atau 60% yang menyelesaikan tindak lanjut dan dianalisis. Rerata usia peserta adalah 82,1 ± 5,4 tahun, dengan proporsi perempuan sebesar 58%. Peserta dianjurkan mengonsumsi dua saji MT-ONS per hari, masing-masing 200 mL, selama minimal 90 hari. Lama paparan MT-ONS rata-rata adalah 141 ± 36,5 hari. Penilaian dilakukan pada awal penelitian atau kunjungan pertama (visit 1/V1) dan setelah minimal 90 hari atau kunjungan kedua (visit 2/V2).


Parameter yang diukur meliputi:

  • Fungsi fisik dengan Short Physical Performance Battery (SPPB).
  • Status gizi dengan Mini Nutritional Assessment–Short Form (MNA-SF).
  • Jumlah jatuh per bulan.
  • Kemampuan berjalan dengan Functional Ambulation Categories (FAC).
  • Kekuatan genggam dengan dinamometer.
  • Berat badan, indeks massa tubuh atau IMT, serta komposisi tubuh.
  • Kemandirian aktivitas sehari-hari menggunakan Indeks Barthel.
  • Persepsi kesehatan menggunakan SF-12.
  • Kepatuhan terhadap konsumsi ONS.

 

Hasil studi menunjukkan adanya perbaikan terutama pada status gizi, berat badan, dan frekuensi jatuh. Namun, perubahan rerata fungsi fisik secara keseluruhan belum mencapai kemaknaan statistik. Poin-poin hasil utamanya adalah:

  • Status gizi membaik secara bermakna. Rerata skor MNA-SF meningkat dari 9,31 ± 2,41 pada awal penelitian menjadi 10,96 ± 1,87 pada tindak lanjut. Perbedaan ini bermakna secara statistik.
  • Proporsi malnutrisi menurun tajam. Pada awal studi, 9 dari 26 peserta (35%) mengalami malnutrisi. Setelah pemberian MT-ONS, angka ini turun menjadi 1 peserta (4%). Proporsi peserta dengan status gizi baik meningkat dari 23% (6 peserta) menjadi 42% (11 peserta). Sementara itu, peserta yang masih berisiko malnutrisi meningkat dari 42% menjadi 54%, yang menunjukkan bahwa meskipun banyak peserta keluar dari kategori malnutrisi, sebagian masih membutuhkan dukungan nutrisi lanjutan.
  • Berat badan meningkat secara bermakna. Rerata berat badan meningkat secara signifikan dari 66,6 ± 11,88 kg menjadi 68,4 ± 12,54 kg. Sebanyak 73% peserta atau 19 dari 26 orang dapat mempertahankan atau meningkatkan berat badan. Rerata peningkatan berat badan yang dilaporkan adalah sekitar 2,0 ± 2,82 kg.
  • Jumlah jatuh menurun sangat bermakna. Rerata frekuensi jatuh turun secara signifikan dari 1,2 ± 0,9 kali per bulan pada awal studi menjadi 0,2 ± 0,3 kali per bulan saat tindak lanjut. Pada kunjungan awal, hanya 19% peserta yang tidak mengalami jatuh per bulan. Setelah intervensi, angka ini meningkat menjadi 73% peserta. Selama seluruh masa tindak lanjut, dilaporkan hanya terdapat tujuh kejadian jatuh pada seluruh kohort.
  • Fungsi fisik berdasarkan SPPB meningkat, tetapi tidak signifikan secara statistik pada keseluruhan kelompok. Rerata skor SPPB naik dari 7,3 ± 3,56 menjadi 8,0 ± 4,03, atau meningkat sekitar 0,7 poin. Meski demikian, 16 dari 26 peserta (61,5%) menunjukkan peningkatan skor SPPB secara individual.
  • Perbaikan SPPB terutama terlihat pada keseimbangan dan kemampuan berdiri dari kursi. Peningkatan terbesar terjadi pada uji keseimbangan tandem, dengan perubahan rerata 0,46 ± 0,95 poin, serta kemampuan melakukan lima kali berdiri dari kursi tanpa bantuan tangan, dengan perubahan rerata 0,27 ± 1,12 poin.
  • Kekuatan genggam tidak berubah bermakna pada keseluruhan peserta.
  • Kekuatan tangan kanan berubah dari 15,6 ± 8,65 kg menjadi 15,7 ± 9,19 kg. Kekuatan tangan kiri meningkat dari 12,6 ± 5,48 kg menjadi 13,9 ± 6,61 kg, namun tidak signifikan.
  • Kemandirian aktivitas sehari-hari cenderung membaik. Rerata indeks Barthel meningkat dari 81,35 ± 15,59 menjadi 84,04 ± 17,49, tetapi tidak signifikan secara statistik. Peserta dengan Indeks Barthel minimal 60 poin meningkat dari 92% menjadi 96%.
  • Terdapat hubungan positif antara perbaikan status gizi dan fungsi fisik. Perubahan skor SPPB berkorelasi positif dengan perbaikan kekuatan otot secara signifikan dengan nilai rho=0,415. Perubahan SPPB juga berkorelasi positif dengan perubahan skor MNA-SF, yaitu rho=0,498; p=0,01. Artinya, peserta dengan perbaikan status gizi yang lebih besar cenderung mengalami perbaikan fungsi fisik yang lebih baik.
  • Kepatuhan terhadap ONS sangat baik. Sebanyak 92% peserta menyatakan selalu atau hampir selalu mengikuti anjuran konsumsi MT-ONS. Alasan utama kepatuhan adalah rasa yang enak (71%), aroma yang menyenangkan (58%), dan keyakinan bahwa produk membantu memperbaiki kesehatan (58%).

 

Kesimpulan:

Penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian MT-ONS tinggi protein whey yang diperkaya leusin dan vitamin D selama minimal 90 hari, sebagai bagian dari perawatan multidomain, berkaitan dengan perbaikan status gizi, peningkatan berat badan, serta penurunan jumlah jatuh pada lansia frail yang berisiko tinggi mengalami jatuh. Penurunan frekuensi jatuh merupakan temuan yang paling kuat secara statistik. Walaupun skor SPPB meningkat, perbedaan rerata pada keseluruhan kelompok belum bermakna secara statistik. Karena desain penelitian tidak memiliki kelompok kontrol, ukuran sampelnya kecil, dan intervensi diberikan bersama latihan, evaluasi obat, serta anjuran modifikasi rumah, hasil ini belum dapat membuktikan bahwa seluruh manfaat semata-mata disebabkan oleh MT-ONS. Oleh sebab itu, temuan perlu dipandang sebagai bukti awal yang menjanjikan dan perlu dikonfirmasi melalui penelitian acak terkontrol berskala lebih besar.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: gpointstudio-Envato)

Referensi:

  1. Rivera Deras IY, Callejón Martin AE, Espuelas Vázquez MÁ, Ruiz Ávila LA, López Arrieta JM. Oral nutritional supplementation in routine clinical practice to improve physical performance and nutrition in frail adults at risk of falls: preliminary evidence.
  2. Davies B, Walter S, Rodríguez-Laso A, Carnicero Carreño JA, García-García FJ, Álvarez-Bustos A, et al. Differential association of frailty and sarcopenia with mortality and disability: insight supporting clinical subtypes of frailty. J Am Med Dir Assoc. 2022;23:1712–1716.e3.



Share this article
Related Articles
Related Products
4431c44b99239f5ffe960a390cc0d22c.jpg
8cba86d6aea6dace6eda16b3d224c743.jpg
30525a8dda13bda97ac1ffa62a674c8d.jpg
822b20921961ae70f628331602b6c75f.png
cf47e2b402582616756299e22ff132d3.png
675849deb1dfbe178e826a3854285e42.jpg
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
a14aa175c8c971fe8dba2905498a49af.jpeg
7f07afe13fa3ef94dd63c6c9dc4eeba4.jpeg
a67d87d747817244a7ad753d94390bef.jpg