Detail Article
Vaksin untuk Monkeypox, Apakah Efektif?
dr. Johan Indra Lukito
Jun 03
Share this article
d031a8a33caa37be939b8114c0151a92.jpg
Updated 02/Jun/2022 .

Monkeypox adalah penyakit serius yang dapat menyebabkan demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, rasa tidak enak badan, kelelahan dan ruam yang berat. Penelitian tentang monkeypox di Afrika Tengah pada orang yang tinggal di daerah terpencil dan tidak terlayani secara medis menunjukkan bahwa penyakit ini membunuh 1–10% orang yang terinfeksi. Sebaliknya, kebanyakan orang yang mendapatkan vaksin cacar atau monkeypox hanya mengalami reaksi ringan, seperti demam ringan, kelelahan, pembengkakan kelenjar, serta kemerahan dan gatal pada tempat pemberian vaksin. 

Cacar monyet/monkeypox adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus monkeypox termasuk dalam genus/marga Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga mencakup virus variola (penyebab cacar/smallpox), virus vaccinia (digunakan untuk vaksin cacar), dan virus cacar sapi/cowpox. Hewan pengerat dan primata non-manusia (seperti monyet) dari Afrika dapat mengandung virus dan menginfeksi manusia.

 

Monkeypox ditularkan ke manusia melalui kontak erat dengan orang atau hewan yang terinfeksi melalui luka, cairan tubuh, droplet/percikan air liur, atau dengan bahan yang terkontaminasi virus. Tanda dan gejala monkeypox mirip dengan cacar, namun monkeypox kurang menular dan gejalanya kurang berat daripada cacar.

 

Salah satu cara mencegah infeksi Orthopoxvirus adalah melalui vaksinasi. ACAM200 dan JYNNEOSTM adalah dua vaksin yang saat ini diizinkan di Amerika Serikat untuk mencegah cacar. JYNNEOSTM bahkan telah disetujui oleh U.S. Food and Drug Administration (USFDA) untuk pencegahan monkeypox.

 

ACAM2000 mengandung virus hidup yang diberikan dengan cara diinokulasikan/ditanam ke dalam kulit dengan menusuk permukaan kulit. Luka akan timbul di tempat vaksinasi setelah inokulasi berhasil. Virus yang tumbuh di dalam luka ini dapat menyebar ke bagian tubuh lain atau bahkan ke orang lain. Dengan demikian, orang yang menerima vaksinasi dengan ACAM2000 harus mengambil tindakan pencegahan tertentu untuk mencegah penyebaran virus vaksin.

 

JYNNEOSTM mengandung virus hidup yang tidak berkembang biak/bereplikasi, yang diberikan pada orang berusia 18 tahun atau lebih dalam dua suntikan masing-masing 0,5 mL secara subkutan pada deltoid lengan atas yang terpisah dengan jeda empat minggu. Vaksin ini tidak menimbulkan luka, sehingga tidak ada risiko penyebaran ke bagian tubuh lain atau orang lain. Orang yang menerima JYNNEOSTM tidak dianggap divaksinasi sampai mereka menerima kedua dosis vaksin.

 

Vaksinasi dengan ACAM2000 direkomendasikan untuk pekerja laboratorium yang bekerja dengan Orthopoxvirus dan personel militer. JYNNEOSTM saat ini sedang dievaluasi untuk perlindungan orang yang berisiko terpapar Orthopoxvirus dalam pekerjaan, namun belum pernah terpapar.

 

Apakah Vaksin Efektif?

Karena virus monkeypox berkaitan erat dengan virus penyebab cacar, maka vaksin cacar juga dapat melindungi orang dari monkeypox. Data dari Afrika menunjukkan bahwa vaksin cacar setidaknya 85% efektif dalam mencegah monkeypox. Efikasi JYNNEOSTM terhadap monkeypox juga telah dibuktikan dari uji klinik tentang imunogenisitas JYNNEOS dan data efikasi dari penelitian pada hewan. Dengan demikian, vaksin cacar dan monkeypox efektif melindungi orang dari monkeypox bila diberikan sebelum terpapar monkeypox.

 

Apakah Vaksinasi Masih Efektif Jika Sudah Terpapar?

Vaksinasi setelah terpapar virus monkeypox masih dapat membantu mencegah timbulnya penyakit atau mengurangi keparahan penyakitnya. Semakin cepat orang yang terpapar mendapatkan vaksin maka akan semakin baik. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) AS menganjurkan agar vaksin diberikan dalam waktu 4 hari sejak hari paparan untuk mencegah timbulnya penyakit. Jika diberikan antara 4-14 hari setelah hari paparan, vaksinasi masih dapat mengurangi gejala penyakit, tetapi mungkin tidak mencegah timbulnya penyakit.

 

Apakah Masih Perlu Vaksinasi Jika Pernah Terpapar?

Orang yang terpapar virus monkeypox dan yang belum menerima vaksin cacar dalam 3 tahun terakhir, dianjurkan untuk divaksinasi. Semakin cepat orang tersebut menerima vaksin maka akan semakin efektif dalam melindungi dari virus monkeypox.

 

Bagaimana Perbandingan Risiko Vaksin vs Penyakit Monkeypox?

Bagi kebanyakan orang yang telah terpapar monkeypox, risiko dari penyakitnya lebih besar daripada risiko dari vaksin monkeypox atau cacar.

 

Monkeypox adalah penyakit serius yang dapat menyebabkan demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, rasa tidak enak badan, kelelahan dan ruam yang berat. Penelitian tentang monkeypox di Afrika Tengah pada orang yang tinggal di daerah terpencil dan tidak terlayani secara medis menunjukkan bahwa penyakit ini membunuh 1–10% orang yang terinfeksi.

 

Sebaliknya, kebanyakan orang yang mendapatkan vaksin cacar atau monkeypox hanya mengalami reaksi ringan, seperti demam ringan, kelelahan, pembengkakan kelenjar, serta kemerahan dan gatal pada tempat pemberian vaksin. Namun, vaksin ini juga memiliki risiko yang lebih serius. Berdasarkan pengalaman masa lalu, diperkirakan antara 1 dan 2 orang dari setiap 1 juta orang yang divaksinasi akan meninggal akibat komplikasi yang mengancam jiwa dari vaksin tersebut.

 


Gambar: Ilustrasi (Freepik)

Referensi:

1. Monkeypox and smallpox vaccine guidance [Internet]. 2019 [cited 2022 June 1]. Available from: https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/clinicians/smallpox-vaccine.html

2. Monkeypox [Internet]. 2019 [cited 2022 June 1]. Available from: https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/prevention.html

3. Monkeypox [Internet]. 2022 [cited 2022 June 1]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox

4. Highlights of prescribing information: JYNNEOS [Internet]. 2021 [cited 2022 June 1]. Available from: https://www.fda.gov/media/131078/download


Share this article
Related Articles
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
Virus Cacar Monyet, Inang dan Jalur Penularannya. Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Zoonosis Patogen
dr. Kupiya | 25 Mei 2022
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
Pemberian Levofloxacin Menurunkan Risiko Kematian pada Pneumonia yang Disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia
dr. Lyon Clement | 05 Mei 2022
24 Fakta Seputar Tuberkulosis yang Perlu Diketahui
dr. Johan Indra Lukito | 24 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Dolutegravir, Obat HIV Lini Pertama/Kedua untuk Anak-anak
dr. Yohanes Jonathan | 17 Feb 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022