Detail Article
Peran Curcuminoid pada Tubuh, Salah Satunya Efek Hepatoprotektor
dr. Esther Kristiningrum
Mei 09
Share this article
8727bed5c72c1c6b4ceb4cc181286b17.jpg
Updated 09/Mei/2022 .

Curcuminoid merupakan komponen utama dari rimpang Curcuma longa Linn (kunyit) dan Curcuma xanthorrhiza (temulawak). Curcuminoid terutama terdiri dari curcumin dan memiliki aktivitas biologi meliputi antioksidan, antiinflamasi, kardioprotektif, neuroprotektif, antikanker, antirheumatik, hepatoprotektif, antimikroba. Efek hepatoprotektif dari curcumin telah dibuktikan dalam studi in vitro dan in vivo yang kemungkinan disebabkan karena efek antioksidan dan antiinflamasinya.


Curcuma longa Linn adalah anggota famili Zingiberaceae yang dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis dan berasal dari India, Asia Tenggara, dan Indonesia. Bubuk kunyit digunakan secara luas sebagai zat pewarna dan penyedap makanan. Secara tradisional juga telah digunakan untuk tujuan medis selama berabad-abad di India dan Cina untuk pengobatan penyakit kuning dan penyakit hati lainnya. Kunyit sering ditemukan dalam ramuan obat dan telah digunakan untuk mengobati ulkus, penyakit kulit, penyakit imun, serta menyembuhkan gejala pilek dan flu.

 

Aktivitas farmakologis kunyit telah dikaitkan terutama dengan curcuminoid yang terdiri dari curcumin (90%) dan dua senyawa terkait, demethoxycurcumin dan bisdemethoxycurcumin. Kandungan curcumin dari rimpang C. longa bervariasi dari 0,6-5% dari massa kering. Curcumin menunjukkan memiliki aktivitas biologi meliputi antioksidan, antiinflamasi, kardioprotektif, neuroprotektif, antikanker, antirheumatik, hepatoprotektif, dan antimikroba.

Radikal bebas yang dapat dinetralkan dengan curcumin adalah hydroxyl radical, singlet oxygen, superoxide radical, nitrogen dioxide and nitric oxide (NO).

 

Efek Hepatoprotektor Curcumin

Curcumin memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi poten yang dapat berperan dalam efek hepatoprotektifnya. Efek ini dimediasi oleh penghambatan sinyal NF-kB serta penghambatan produksi nitric oxide dan TNF-a oleh sel Kupffer teraktivasi.

 

Studi hewan menunjukkan bahwa pemberian curcumin meningkatkan kadar glutathione hati serta menurunkan peroksidase lemak, aktivitas alanine transaminase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST). Selain itu, curcumin juga meningkatkan glutathione peroxidase (GPx), superoxide dismutase (SOD) dan catalase, serta mengurangi NO dan menghambat produksi radikal bebas ROS.

 

Efek curcumin pada:

· Hepatotoksisitas

Ø Studi in vitro menunjukkan bahwa curcumin memiliki aktivitas hepatoprotektif pada model kultur irisan hati dengan menggunakan ethanol sebagai hepatotoksin. Pelepasan lactate dehydrogenase (menunjukkan sitotoksisitas ethanol) berkurang secara signifikan bersama dengan peroksidasi lemak, hal ini menunjukkan efek penurunan stres oksidatif dan perlindungan terhadap sel-sel hati.

Ø Studi pada hewan menunjukkan efek protektif curcuminoid yang diisolasi dari Curcuma longa terhadap cedera hati yang diinduksi oleh carbon tetrachloride (CCL4) pada tikus. Efek hepatoprotektif dari ekstrak mentah Curcuma dan curcuminoid terbukti dengan peningkatan SOD, glutathione tereduksi, catalase yang bermakna, serta penurunan enzim petanda biologi integritas hati (AST, ALT, dan alkaline phosphatase). Curcuminoid juga meningkatkan kadar protein total, albumin, dan memperbaiki perubahan histologi pada tikus yang dicederai dengan CCL4.

Ø Curcumin melindungi sel terhadap peroksidasi lemak yang disebabkan oleh paracetamol. Hal ini mungkin disebabkan oleh efek antioksidan curcumin. Curcumin dapat mengurangi AST serum dan aktivitas alkaline phosphatase, kadar asam lemak bebas, kolesterol, dan phospholipid.

Ø Studi pada manusia juga telah menilai efek curcumin pada hepatotoksisitas yang diinduksi oleh terapi antituberkulosis.

· Perlemakan Hati:

Ø Menurunkan enzim transaminase, resistensi insulin, lemak, petanda inflamasi pada model tikus dengan perlemakan hati (NAFLD) yang diinduksi makanan.

Ø Mengurangi steatosis hati tikus yang diinduksi dengan injeksi TNF-a yang ditunjukkan dengan penurunan stres oksidatif dan infiltrasi neutrophil serta memperbaiki gambaran histopatologi hati.

Ø Memperbaiki kadar kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida, berat badan, transaminase, HbA1c pada pasien dengan steatosis hati (NASH).

· Hepatitis:

Ø Memiliki efek antihepatitis B pada garis sel HepG2.

Ø Menghambat replikasi HCV dengan induksi gen heme-oxygenase 1 (HO-1) dan menghambat jalur AKT-SREBP-1.

Ø Mengganggu kemampuan virus masuk ke sel target (modulasi fluiditas membran virus).

· Sirosis Hati:

Ø Menghambat aktivasi sel stelata hati

Ø Meregulasi ekspresi matrix metalloproteinase (MMP)

Ø Menginduksi ekspresi PPARc

· Hepatokarsinoma:

Ø Menurunkan migrasi dan invasi HCC cell line melalui penghambatan MMP-9

Ø Pro-apoptotik dan efek antiproliferatif pada HCC

 

Kunyit saat ini terdaftar sebagai GRAS (“generally recognized as safe’’) sebagai zat pewarna dan penyedap dalam makanan oleh FDA. Uji klinik fase 1 oleh Shoba, dkk. dan Cheng, dkk. menunjukkan bahwa curcumin ditoleransi dengan baik pada subjek manusia ketika diambil pada dosis setinggi 12.000 mg/hari. Antony, dkk. menyatakan bahwa curcumin, dengan dosis 2000 mg/hari, ditoleransi dengan baik oleh semua relawan penelitian tanpa efek samping.


Simpulan:

Curcuminoid merupakan komponen utama dari rimpang Curcuma longa Linn (kunyit) dan Curcuma xanthorrhiza (temulawak). Curcuminoid terutama terdiri dari curcumin dan memiliki aktivitas biologi meliputi antioksidan, antiinflamasi, kardioprotektif, neuroprotektif, antikanker, antirheumatik, hepatoprotektif, antimikroba. Efek hepatoprotektif dari curcumin telah dibuktikan dalam studi in vitro dan in vivo yang kemungkinan disebabkan karena efek antioksidan dan antiinflamasinya. Curcumin menunjukkan dapat meningkatkan kadar antioksidan glutathione, GPx, SOD dan catalase, serta menurunkan peroksidase lemak, aktivitas transaminase (ALT & AST), dan NO, serta menghambat produksi radikal bebas ROS.



Silakan baca juga: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI): Kewaspadaan Dini Hepatitis Akut yang Belum Diketahui Penyebabnya

Gambar: Ilustrasi

Referensi:

1. Amalraj A, Pius A, Gopi S, Gopi S. Biological activities of curcuminoids, other biomolecules from turmeric and their derivatives-A review. J Tradit Complement Med.2017;7:205-33.

2. Committee on Herbal Medicinal Products (HMPC). Assessment report on Curcuma longa L. (C. domestica Valeton), rhizoma. 2017.

3. Sharifi-Rad J, Rayess YE, Rizk AA, Sadaka C, Zgheib R, Zam W, et al. Turmeric and its major compound curcumin on health: bioactive effects and safety profiles for food, pharmaceutical, biotechnological and medicinal applications. Front. Pharmacol. 2020. Doi: 10.3389/fphar.2020.01021

4. Hu RW, Carey EJ, Lindor KD, Tabibian JH. Curcumin in hepatobiliary disease: Pharmacotherapeutic properties and emerging potential clinical applications. Annals of Hepatology 2017;16 (6):835-41.

5. Buonomo AR, Scotto R, Nappa S, Arcopinto M, Salzano A, Marra AM, et al. The role of curcumin in liver diseases. Arch Med Sci 2019;15(6):1608-20.


Share this article
Related Articles
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
Kewaspadaan Terhadap Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya
Redaksi | 29 Apr 2022
Ranolazine Menurunkan ALT dan AST pada Pasien PJK dengan NAFLD
dr. Lyon Clement | 31 Mar 2022
BCAA Meningkatkan Indeks Otot Rangka dan Lingkar Lengan Pasien Sarkopenia Sirosis
dr. Dedyanto Henky Saputra | 18 Mar 2022
Penggunaan Entecavir dan Tenovofir terhadap Fungsi Ginjal dan Densitas Massa Tulang, Ini Perbandingannya
dr. Josephine Herwita Atepela | 10 Feb 2022
Vitamin E pada Pasien NAFLD, Apa Perannya?
dr. Josephine Herwita | 09 Sep 2021
Efikasi Fenofibrat sebagai Terapi Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)
dr. Della Sulamita | 04 Jun 2021
Efek Calcitriol vs Vitamin D3 terhadap Resistensi Insulin pada pasien NAFLD
dr. Esther Kristiningrum | 01 Apr 2021
Terapi Hepatitis B Kronik, Entecavir dan Tenofovir, Bagaimana Perbandingan Efektivitasnya?
dr. Josephine Herwita Atepela | 23 Mar 2021