Detail Article
Pemberian Levofloxacin Menurunkan Risiko Kematian pada Pneumonia yang Disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia
dr. Lyon Clement
Mei 05
Share this article
e8c9f1f251b3c91bc4b0d961bec1ec3a.jpg
Updated 05/Mei/2022 .

Stenotrophomonas maltophilia adalah bakteri Gram negatif yang seringkali berhubungan dengan resistensi antibiotik, terutama terjadi pada pasien di ICU, penderita imunosupresi ataupun dengan komorbid lainnya. Infeksi bakteri ini menimbulkan infeksi saluran napas bawah/pneumonia dan sepsis yang seringkali sulit diterapi akibat resistensinya terhadap berbagai regimen antibiotik. Berdasarkan studi in-vitro, levofloxacin merupakan alternatif terapi untuk infeksi Stenotrophomonas maltophilia


Trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) secara tradisional merupakan pilihan untuk infeksi Stenotrophomonas maltophilia terutama berdasarkan data uji in-vitro dan serial kasus. Namun, penggunaannya berhubungan dengan efek samping berupa kerusakan hati, ginjal, gangguan keseimbangan air dan elektrolit, hemolisis, supresi sumsum tulang, dan reaksi hipersensitivitas. Ditambah lagi, kemunculan akan Stenotrophomonas maltophilia resisten TMP-SMX mulai banyak dilaporkan.

 

Berdasarkan studi in-vitro, levofloxacin merupakan alternatif terapi untuk infeksi Stenotrophomonas maltophilia. Penelitian retrospektif yang membandingkan pasien dari database yang mencakup data 154 RS di Amerika ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas levofloxacin dibandingkan TMP-SMX untuk sepsis dan pneumonia yang disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia.

 

Metode

Subjek yang diikutsertakan dalam penelitian analisis retrospektif ini merupakan pasien dewasa (≥18 tahun) yang dirawat inap antara 1 Januari 2005 – 31 Desember 2017 akibat infeksi Stenotrophomonas maltophilia yang berasal dari database Cerner Healthfacts. Infeksi bakteri tersebut terbukti berdasarkan pemeriksaan kultur darah atau saluran napas bawah (dari spesimen sputum, aspirasi trakea, lavase bronkoalveolar, atau bilasan bronkus). Subjek yang diikutsertakan dalam analisis menerima salah satu terapi, yaitu levofloxacin atau TMP-SMX. Subjek dieksklusi dari analisis apabila mendapatkan kombinasi kedua terapi, atau mendapatkan antibiotik lainnya. Terapi antibiotik dikategorikan sebagai terapi empirik bila diberikan pada H-2 s/d H-1 kultur positif dan dikategorikan sebagai targeted therapy bila diberikan pada H+1 s/d H+7 kultur positif.

 

Parameter keluaran primer analisis ini adalah mortalitas dan waktu pemulangan dari RS. Parameter keluaran sekunder adalah parameter morbiditas yang berhubungan dengan pemilihan terapi, yang diukur berdasarkan waktu dari kultur Stenotrophomonas maltophilia sampai pemulangan dari RS. Analisis subkelompok dilakukan lebih lanjut berdasarkan jenis infeksi (sepsis atau pneumonia), skor SOFA (tinggi ≥2 atau rendah <2), dan ventilasi mekanik dalam ±3 hari pengambilan spesimen kultur.

 

Hasil

Didapatkan 1.581 subjek dari 154 RS di AS yang memenuhi kriteria untuk analisis. Secara keseluruhan, levofloxacin menunjukkan risiko mortalitas yang setara secara statistik dibandingkan dengan TMP-SMX (aOR=0,76; 95%CI=0,58-1,01; p=0,06). Namun, berdasarkan analisis subkelompok, levofloxacin berhubungan dengan risiko mortalitas yang lebih rendah dibandingkan TMP-SMX (n=1.452, aOR=0,73; 95% CI=0,54-0,98; p=0,03) untuk pneumonia yang disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia. Levofloxacin juga berhubungan dengan risiko mortalitas yang lebih rendah dibandingkan TMP-SMX untuk infeksi yang disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia apabila diberikan sebagai terapi empirik (n=89, aOR=0,16; 95% CI=0,03-0,95; p=0,04).

 

Berdasarkan analisis parameter sekunder, subjek yang mendapatkan levofloxacin dirawat inap dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan TMP-SMX berdasarkan waktu antara pengambilan kultur dan dipulangkan dari RS (weighted median 7 vs. 9 hari; p <0,0001).

 

Berdasarkan data diamati bahwa terapi levofloxacin merupakan terapi alternatif dengan efikasi keseluruhan setara dengan TMP-SMX untuk penanganan pneumonia dan sepsis yang disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia, dengan efikasi yang lebih baik untuk kasus pneumonia dan pemberian sebagai antibiotik empirik. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat temuan tersebut.

 

Kesimpulan:

Levofloxacin berhubungan dengan risiko mortalitas yang lebih rendah dibandingkan TMP-SMX untuk pneumonia yang disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia, terutama apabila diberikan sebagai terapi empirik.

 


Gambar: Ilustrasi

Referensi:

Sarzynski SH, Warner S, Sun J, Matsouaka R, Dekker JP, Babiker A, et al. Trimethoprim-sulfamethoxazole versus levofloxacin for Stenotrophomonas maltophilia infections: A retrospective comparative effectiveness study of electronic health records from 154 US hospitals. Open Forum Infect Dis. 2022;9:1-9.

Share this article
Related Articles
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
Virus Cacar Monyet, Inang dan Jalur Penularannya. Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Zoonosis Patogen
dr. Kupiya | 25 Mei 2022
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
24 Fakta Seputar Tuberkulosis yang Perlu Diketahui
dr. Johan Indra Lukito | 24 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Dolutegravir, Obat HIV Lini Pertama/Kedua untuk Anak-anak
dr. Yohanes Jonathan | 17 Feb 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022
Mekobalamin Oral 1500 mcg secara Signifikan Menurunkan Insiden Neuropatik Perifer pada Pasien Kanker Kolon-Rektal
Dr. Lupita | 24 Jan 2022