Detail Article
Vaksin COVID-19 Trivalent Inhalasi Memberikan Imunitas yang Superior Dibandingkan dengan Vaksin Intramuskuler
dr. Hasna Mardhiah
Mar 01
Share this article
103288611e914701277ab60ef25fa60e.jpg
Updated 01/Mar/2022 .

Pelaksanaan vaksinasi global untuk COVID-19 memainkan peran yang sangat penting dalam mengurangi transmisi virus, hospitalisasi, dan kematian. Sejak September 2020, sudah terdapat lima variants of concern (VOC) baru, yaitu varian B.1.1.7 (Inggris, Alfa), B.1.351 (Afrika Selatan, Beta), P.1 (Brazil, Gamma), B.1.617.2 (India, Delta), dan B.1.1.529 (Afrika Selatan, Omicron).

Seluruh VOC tersebut memiliki bermacam mutasi pada bagian spikenya, namun varian Beta, Gamma, dan Omicron juga memiliki mutasi pada area penempelan virus dengan reseptor sel (receptor-binding domain/RBD) yang mengurangi kemampuan netralisasi antibodi yang terdapat pada plasma konvalesens penyintas COVID- 19 dan serum pasca-vaksinasi.


Beberapa vaksin COVID-19 generasi pertama menunjukkan efektivitas yang berkurang dalam melindungi dari COVID-19 gejala ringan-sedang yang diakibatkan varian Beta. Varian-varian yang baru bermunculan dari virus SARS-CoV-2 ini mengancam efektivitas vaksin COVID-19 yang sudah ada, yang pemberiannya diinjeksikan secara intramuskuler dan hanya menarget protein spike. Varian tersebut juga mampu lolos dari imunitas yang dihasilkan vaksinasi. Hal tersebut dapat mengancam terbentuknya herd immunity yang diharapkan dari program vaksinasi. Karenanya, saat ini terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan strategi vaksin generasi berikutnya untuk perlindungan yang lebih luas dan tahan lama.


Untuk menghadapi tantangan VOC dan terbatasnya keefektifan imunitas yang diinduksi vaksin generasi pertama, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memperbarui spike antigen spesifik VOC pada vaksin yang sudah ada. Namun, strategi tersebut terlalu rumit dan mahal, dan ada kemungkinan tidak akurat apabila salah dalam memprediksi antigenic drift. Strategi alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan vaksin rekombinan vektor virus multivalen yang dapat menerima imunisasi melalui mukosa saluran pernapasan.


Para peneliti dari Pusat Penelitian Imunologi Universitas McMaster, Kanada, mengembangkan vaksin COVID-19 inhalasi (dihirup) yang memberikan imunitas yang lebih baik dibandingkan dengan vaksin intramuskuler yang ada saat ini. Vaksin generasi baru tersebut menggunakan vektor adenovirus untuk memasukkan vaksin trivalent yang selain menarget protein spike, juga protein yang terkonservasi, yaitu nukleokapsid dan RNA- dependent RNA polymerase (RdRp) untuk memperluas imunitas sel T. Karena menarget protein terkonservasi, vaksin ini tidak perlu sering diperbarui. Selain itu, vaksin tersebut akan tetap bisa meningkatkan imunitas terhadap spike yang diinduksi vaksin generasi pertama.


Pada hewan coba tikus, satu dosis vaksin intranasal memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan imunisasi intramuskuler dalam menginduksi imunitas protektif dari 3 aspek, yaitu respons antibodi, sel T memori mucosal tissue resident, dan imunitas bawaan yang terlatih di mukosa (mucosal trained innate immunity). Imunisasi intranasal memberikan perlindungkan terhadap strain SARS-COV-2 original dan 2 VOC, B1.1.7 (Alfa) dan B.1.351 (Beta).


Dengan demikian, vaksin ini diharapkan dapat efektif melawan varian asli maupun varian baru SARS-CoV-2. Lebih lanjut, vektor adenovirus (Ad) yang dihantarkan melalui saluran pernapasan memberikan proteksi dengan mencetuskan imunitas pada tempat masuk virus (viral entry site) melalui imunitas bawaan dan adaptif dari mucosal tissue resident. Namun, hingga kini ada kekurangan strategi vaksin COVID-19 generasi berikutnya yang dapat memberikan perlindungan yang kuat dan tahan lama terhadap varian asli dan baru SARS-CoV-2. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hal ini.



Gambar: Ilustrasi (Foto oleh rawpixel.com - www.freepik.com)

Referensi:

1. Afkhami S, D’Agostino M, Zhang A, Stacey H, Marzok A, Kang A, et al. Respiratory mucosal delivery of next-generation COVID-19 vaccine provides robust protection against both ancestral and variant strains of SARS-CoV-2. Cell 2022;185:1-20.

2. O'Shea D. COVID-19: next-generation inhaled trivalent vaccine. Univadis.com [Internet]. 2022 [cited 2022 Feb 25]. Available from: https://www.univadis.com/viewarticle/covid-19-inhaled-trivalent- vaccine-achieves-superior-immunity-e8e27bcb-8a18-3fd7-b57f-fa79230a17a2.

Share this article
Related Articles
Baricitinib Bermanfaat Menurunkan Mortalitas Pasien COVID-19 Rawat Inap
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 29 Jun 2022
Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 14 Jun 2022
COVID-19 Varian XE, Pertama Ditemukan di Inggris, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 07 Apr 2022
Metabolit Molnupiravir >100x Lebih Aktif daripada Favipiravir atau Ribavirin terhadap SARS-CoV-2
dr. Johan Indra Lukito | 21 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Sediaan Vitamin D3 antara Tablet dan Oil Drops, Apakah Sama Efektifnya?
dr. Esther Kristiningrum | 14 Feb 2022
Vaksin COVID-19 Dosis Keempat, Apakah Diperlukan?
dr. Hasna Mardhiah | 11 Feb 2022
FDA AS Memperluas Penggunaan Remdesivir untuk Pasien Rawat Jalan dengan COVID-19 Derajat Ringan-Sedang
dr. Johan Indra Lukito | 27 Jan 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022