Detail Article
Dolutegravir, Obat HIV Lini Pertama/Kedua untuk Anak-anak
dr. Yohanes Jonathan
Feb 17
Share this article
bb95648ca0760a133c8524678b825811.jpg
Updated 17/Feb/2022 .

Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit menular seksual yang masih menjadi wabah di seluruh dunia. Obat untuk resolusi sempurna masih dalam proses pengembangan, dan hingga saat ini penelitian berfokus pada pengembangan anti-retroviral treatment (ART) untuk menekan aktivitas virus HIV.

Dolutegravir (DTG) adalah obat yang bekerja sebagai integrase inhibitor (INIs) yang akan menghambat integrase, enzim yang dibutuhkan HIV untuk memasukkan virus ke dalam DNA sel T CD4 penderita. Obat ini dapat ditoleransi dengan baik, meskipun banyak kondisi dan efek samping yang perlu diperhatikan. Saat ini DTG sedang diteliti manfaatnya pada anak-anak penderita HIV, karena pilihan pengobatan ART untuk anak penderita HIV type 1 (HIV-1) masih terbatas.1


Penelitian yang dilakukan oleh tim ODYSSEY ingin mengetahui apakah Dolutegravir lebih efektif dan superior dibanding pengobatan standar yang ada untuk anak penderita HIV. Penelitian ini memiliki desain open-label (dokter dan pasien mengetahui pengobatan yang diberikan), acak, dan non-inferiority. Kelompok yang dibandingkan adalah penerima 3 obat ART dengan DTG sebagai salah satu obatnya, dan 3 obat ART tanpa dolutegravir pada anak-anak dan remaja yang memulai ART lini pertama atau kedua.2


Penelitian berlangsung antara tahun 2016-2018, dengan total 707 anak dan remaja, berat badan ≥14 kg dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu ART dengan dolutegravir (350 orang), dan ART standard (357 orang). Penelitian juga didesain sehingga didapatkan penerima ART lini pertama sebanyak 311 orang (44%), dan 396 orang (56%) merupakan penerima ART lini kedua.


Proses follow-up selama 96 minggu, menunjukkan bahwa 47 partisipan pada kelompok DTG dan 75 partisipan pada kelompok obat standar mengalami kegagalan pengobatan (probabilitas 0,14 vs 0,22; perbedaan, -0,08; 95% Confidence Interval (CI), -0,14 hingga -0,03; p=0,004). Efek pengobatan memiliki persamaan pada terapi lini pertama dan kedua (p=0,16 untuk heterogenisitas). Kejadian yang tidak diinginkan (KTD) serius terjadi pada 35 orang kelompok DTG dan 40 orang kelompok standar, serta KTD grade 3 atau lebih pada 73 orang kelompok DTG dan 86 kelompok standar.2


Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok penerima DTG memiliki risiko yang lebih rendah dalam mengalami kejadian yang tidak diinginkan, serta risiko kegagalan pengobatan yang lebih rendah. Dolutegravir dapat disimpulkan lebih baik dibandingkan ART standar yang saat ini dimanfaatkan.2



Gambar: Ilustrasi (www.freepik.com)

Referensi:

1. Max B, Vibhakar S. Dolutegravir: A new HIV integrase inhibitor. Medscape [Internet]. 2021 Dec. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/836804

2. Turkova A, White E, Mujuru HA, Kekitiinwa AR, Kityo CM, Violari A, et al. Dolutegravir as first- or second-line treatment for HIV-1 infection in children. New England Journal of Medicine. 2021 Dec;385(27):2531–43.



Share this article
Related Articles
Manfaat Tecovirimat pada Monkeypox
dr Kupiya | 09 Agt 2022
Kombinasi Acetyl-L-Carnitine, ALA, dan CoQ10 Berpotensi Mencegah Hepatotoksisitas Disebabkan Obat Antituberkulosis.
dr. Lyon Clement | 08 Agt 2022
Seputar HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease)
dr. Johan Indra Lukita | 20 Jun 2022
Virus Cacar Monyet, Inang dan Jalur Penularannya. Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Zoonosis Patogen
dr. Kupiya | 25 Mei 2022
Pemberian Cidofovir untuk Infeksi Adenovirus pada Anak, Ini Studinya
dr. Josephine Herwita | 11 Mei 2022
Pemberian Levofloxacin Menurunkan Risiko Kematian pada Pneumonia yang Disebabkan oleh Stenotrophomonas maltophilia
dr. Lyon Clement | 05 Mei 2022
24 Fakta Seputar Tuberkulosis yang Perlu Diketahui
dr. Johan Indra Lukito | 24 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022