Detail Article
Varian Virus SARS-CoV-2 Omicron, Bagaimana Pengaruhnya pada Antibodi Penetral terhadap SARS-CoV-2?
dr. Hasna Mardhiah
Jan 04
Share this article
e903409ce12d92e70e246fbc384f9b11.jpg
Updated 04/Jan/2022 .

Varian virus SARS-CoV-2 B.1.1.529, atau Omicron, pertama kali dilaporkan ke WHO pada tanggal 24 November 2021. Varian ini sangat cepat menyebar, dan WHO mengkategorikannya sebagai Variant of Concern (VoC) 2 hari setelah dilaporkan. 

Varian Omicron memiliki jumlah mutasi yang sangat banyak, di antaranya ditemukan lebih dari 30 mutasi pada bagian spike virus. Sebanyak 15 mutasi ditemukan di bagian spike yang bernama receptor-binding domain (RBD), area yang berikatan dengan reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Beberapa mutasi yang terjadi terbukti meningkatkan infektivitas virus dan kemampuan virus untuk menghindar dari imun tubuh.

Protein S (spike) merupakan target dari hampir seluruh antibodi penetral (neutralizing antibody/NAb) yang ditemukan pada plasma konvalesen ataupun yang dihasilkan oleh vaksin. Antibodi penetral bekerja dengan cara berikatan dengan patogen dan menetralkan patogen tersebut sehingga tidak lagi dapat menginfeksi sel. Sebuah studi yang dilakukan di Peking University, Beijing, melaporkan bahwa varian Omicron dapat menghindari 85% jenis antibodi penetral yang diuji. Hal ini menunjukkan bahwa varian Omicron dapat menyebabkan penghindaran imunitas humoral yang signifikan dan potensi pergeseran antigenik. Beberapa obat-obatan NAb juga mengalami penurunan kemampuan dalam menetralkan virus.


Suatu studi melakukan pengujian terhadap 247 NAb anti-RBD manusia dan mendapatkan bahwa NAb banyak berkelompok di enam (A-F) kelompok epitope (epitope: area pada virus tempat menempel dengan sel B atau antibodi). Varian Omicron dapat lolos dari sebagian besar NAb pada kelompok epitope A-D, dan juga beberapa pada epitope E dan F. Untuk mengembangkan vaksin dan obat NAb yang efektif dalam melawan varian Omicron, harus dilakukan analisis terhadap masing-masing kelompok NAb.


Sampai saat ini, sejumlah besar NAb anti-RBD SARS-CoV-2 telah diidentifikasi dari pasien yang sembuh dan yang divaksin. NAb paling kuat sering ditemukan di kelompok A-D yang cenderung secara langsung menghambat pengikatan pada reseptor ACE2. Namun demikian, kekuatan penetralisir NAb ini sering dikalahkan oleh mutasi RBD dalam pertarungan antara SARS-CoV-2 dan kekebalan humoral manusia. Data memang menunjukkan bahwa Omicron akan lolos dari sebagian besar NAb SARS-CoV-2, namun, kelompok NAb E dan F kurang terpengaruh oleh Omicron, kemungkinan karena jumlah mereka tidak berlimpah dalam populasi sehingga tidak banyak memberikan tekanan pada RBD untuk berevolusi pada kelompok epitope tersebut. NAb kelompok ini (E dan F) menargetkan wilayah RBD yang terlindungi dari mutasi pada sarbecovirus (subgenus virus SARS-related coronavirus) dan karenanya merupakan target ideal untuk pengembangan obat NAb pan-sarbecovirus di masa depan.


Simpulan:

Pada varian Omicron (B.1.1.529) ditemukan lebih dari 30 mutasi, 15 di antaranya terdapat di receptor-binding domain (RBD) pada spike virus. Mutasi tersebut menyebabkan Omicron dapat menghindar dari antibodi penetral (NAb) yang dihasilkan setelah infeksi alami ataupun dari vaksin. Untuk mengembangkan vaksin dan obat antibodi penetral (NAb) yang efektif terhadap Omicron perlu menarget area pada RBD virus yang tidak mengalami mutasi, yaitu pada epitope E dan F.



Gambar: Ilustrasi (kjpargeter - www.freepik.com)

Referensi:

Cao Y, Wang J, Jian F, Xiao T, Song W, Yisimayi A, et al. Omicron escapes the majority of existing SARS-CoV-2 neutralizing antibodies. Nature [Internet]. 2021. Available from: https://www.nature.com/articles/d41586-021-03796-6

Share this article
Related Articles
Tocilizumab Efektif Menurunkan Mortalitas Pasien COVID-19 Rawat Inap, Ini Studi Meta-Analisis
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 02 Agt 2022
Baricitinib Bermanfaat Menurunkan Mortalitas Pasien COVID-19 Rawat Inap
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 29 Jun 2022
Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 Terdeteksi di Indonesia, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 14 Jun 2022
COVID-19 Varian XE, Pertama Ditemukan di Inggris, Ini yang Perlu Diketahui
dr. Dita Arccinirmala | 07 Apr 2022
Metabolit Molnupiravir >100x Lebih Aktif daripada Favipiravir atau Ribavirin terhadap SARS-CoV-2
dr. Johan Indra Lukito | 21 Mar 2022
Molnupiravir Efektif Kurangi Risiko Rawat Inap atau Kematian Pasien COVID-19 Dewasa yang Tidak Dirawat di Rumah Sakit
dr. Johan Indra Lukito | 08 Mar 2022
Vaksin COVID-19 Trivalent Inhalasi Memberikan Imunitas yang Superior Dibandingkan dengan Vaksin Intramuskuler
dr. Hasna Mardhiah | 01 Mar 2022
Sediaan Vitamin D3 antara Tablet dan Oil Drops, Apakah Sama Efektifnya?
dr. Esther Kristiningrum | 14 Feb 2022
Vaksin COVID-19 Dosis Keempat, Apakah Diperlukan?
dr. Hasna Mardhiah | 11 Feb 2022
FDA AS Memperluas Penggunaan Remdesivir untuk Pasien Rawat Jalan dengan COVID-19 Derajat Ringan-Sedang
dr. Johan Indra Lukito | 27 Jan 2022