Detail Article
Paxlovid Mendapat EUA FDA AS untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukita
Des 24
Share this article
be9d6254d607bd0eef1917c7a1717736.jpg
Updated 27/Des/2021 .

Food and Drug Administration (FDA) AS mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat/ emergency use authorization (EUA) untuk Paxlovid (tablet nirmatrelvir dan tablet ritonavir yang dikemas bersama untuk penggunaan oral) untuk pengobatan penyakit COVID-19 derajat ringan hingga sedang pada pasien dewasa dan anak (usia ≥12 tahun dengan berat minimal 40 kilogram) yang berisiko tinggi untuk mengalami perburukan, termasuk rawat inap atau kematian.


Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dan harus dimulai sesegera mungkin setelah terdiagnosis COVID-19 dan dalam waktu lima hari setelah timbulnya gejala, namun tidak diizinkan untuk pencegahan pra-paparan atau pasca-paparan COVID-19 atau untuk pengobatan pada pasien yang memerlukan rawat inap karena COVID-19 yang berat atau kritis.

 

Obat ini terdiri dari nirmatrelvir yang menghambat protein SARS-CoV-2 untuk menghentikan replikasi virus, dan ritonavir yang memperlambat pemecahan nirmatrelvir untuk membantunya tetap berada di dalam tubuh untuk waktu yang lebih lama pada konsentrasi yang lebih tinggi. Satu kali pemberian terdiri dari tiga tablet (dua tablet nirmatrelvir dan satu tablet ritonavir) diminum bersamaan dua kali/hari selama lima hari, dengan total 30 tablet. Penggunaannya tidak diizinkan lebih dari lima hari berturut-turut.

 

Data utama yang mendukung EUA obat ini berasal dari EPIC-HR, uji klinis acak, double-blind, terkontrol plasebo, yang menilai Paxlovid untuk pengobatan COVID-19 bergejala pada pasien dewasa (berusia 18 tahun ke atas) yang tidak dirawat di rumah sakit. Pasien memiliki faktor risiko untuk mengalami perburukan atau berusia 60 tahun ke atas. Semua pasien belum menerima vaksin COVID-19 dan belum pernah terinfeksi COVID-19.

 

Hasil utama yang diukur adalah proporsi orang yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 atau meninggal karena sebab apa pun selama 28 hari masa tindak lanjut. Hasilnya, obat ini secara signifikan mengurangi proporsi orang dengan rawat inap terkait COVID-19 atau kematian karena sebab apa pun sebesar 88% dibandingkan dengan plasebo di antara pasien yang minum obat dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala dan yang tidak menerima pengobatan antibodi monoklonal terapeutik COVID-19. Dalam analisis ini, kelompok I sebanyak 1.039 pasien menerima obat, dan kelompok II sebanyak 1.046 pasien menerima plasebo dan di antara pasien ini, 0,8% dari kelompok I dirawat di rumah sakit atau meninggal selama 28 hari masa tindak lanjut dibandingkan dengan 6% pasien yang menerima plasebo. Kemungkinan efek samping yang dialami termasuk gangguan indera perasa, diare, tekanan darah tinggi, dan nyeri otot.

 

Penggunaan secara bersamaan dengan obat-obatan tertentu lainnya dapat mengakibatkan interaksi obat yang berpotensi signifikan, di antaranya:

1. Pada orang dengan infeksi HIV-1 yang tidak terkontrol atau tidak terdiagnosis dapat menyebabkan resistensi obat HIV-1.

2. Obat ini dikontraindikasikan dikonsumsi dengan obat-obatan tertentu, seperti dengan ritonavir yang dapat menyebabkan kerusakan hati, jadi perlu berhati-hati saat memberikannya kepada pasien dengan penyakit hati yang sudah ada sebelumnya, kelainan enzim hati, atau peradangan hati.

3. Tidak dianjurkan pada pasien dengan gangguan ginjal berat atau gangguan hati yang berat. Pada pasien dengan gangguan ginjal sedang, dosisnya dapat dikurangi.

 

Simpulan:

FDA AS mengeluarkan otorisasi penggunaan darurat/ emergency use authorization (EUA) untuk tablet nirmatrelvir dan tablet ritonavir yang dikemas bersama untuk penggunaan oral, untuk pengobatan penyakit COVID-19 derajat ringan hingga sedang pada pasien dewasa dan anak yang berisiko tinggi untuk mengalami perburukan. Penggunaan secara bersamaan dengan obat-obatan tertentu lainnya perlu diperhatikan untuk menghindari interaksi obat.

 


Gambar: Ilustrasi (www.freepik.com)

Referensi:

Coronavirus (COVID-19) update: FDA authorizes first oral antiviral for treatment of COVID-19 [Internet]. 2021 [cited 2021 December 23]. Available from: https://www.fda.gov/news-events/press- announcements/coronavirus-covid-19-update-fda-authorizes-first-

oral-antiviral-treatment-covid-19


Share this article
Related Articles
Molnupiravir Mendapat EUA dari Badan POM untuk Pengobatan COVID-19
dr. Johan Indra Lukito | 14 Jan 2022
Coronavirus Menyebar di Organ Jantung dan Otak
dr. Kupiya | 17 Jan 2022
Efikasi Pregabalin vs Duloxetine Pada Pasien Diabetik Neuropati
Dr. Della Sulamita Mahendro | 12 Jan 2022
Deferasirox 2 Kali Sehari, Bagaimana Efektivitas dan Keamanannya?
dr. Hastarita Lawrenti | 10 Jan 2022
Potensi Terapi dengan Efgartigimod untuk Myasthenia Gravis, Ini Studinya
dr. Yohanes Jonathan | 07 Jan 2022
"Vancomysin Loading Dose" untuk Infeksi MRSA, Bagaimana Efikasi dan Keamanannya?
Dr. Della Sulamita Mahendro | 30 Des 2021
Defisiensi Vitamin D Meningkatkan Risiko DBD dan DSS
Dr. Esther Kristiningrum | 09 Des 2021
Mengenal Varian Omicron (2)
dr. Kupiya | 03 Des 2021
Mengenal Varian Omicron (1)
dr. Kupiya | 01 Des 2021
Fraksi Trombosit Muda Dapat Sebagai Penanda Perkembangan Demam Berdarah
dr. Kupiya | 26 Nov 2021