Detail Article
Pemberian HES 6% 130/0,4 vs NaCl 0,9% pada Pasien yang Menjalani Operasi Mayor Abdomen, Bagaimana Efeknya?
dr. Laurencia Ardi
Sep 06
Share this article
9d31cfc3146f0ab92c913421314f1382.jpg
Updated 09/Sep/2021 .

Belum diketahui dengan pasti efektivitas ataupun keamanan penggunaan cairan koloid yang mengandung hydroxyethyl starch (HES) dalam hal mengoreksi defisit cairan intravaskular pada pasien pembedahan dengan risiko tinggi. 


Suatu penelitian yang dilakukan oleh Emanuel, dkk. yang bertujuan untuk membandingkan efek HES 130/0,4 dengan NaCl 0,9% sebagai ekspansi volume intravaskular terhadap mortalitas dan komplikasi pasca-operasi mayor abdomen. Desain dan metodenya adalah multisenter, acak, tersamar ganda, parallel, dengan jumlah subjek sebanyak 775 pasien dewasa yang akan menjalani operasi mayor abdomen dan mempunyai risiko gagal ginjal pasca-operasi.

 

Penelitian dilakukan di 20 RS dari Februari 2016 sampai dengan Juli 2018. Subjek kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok HES 6% 130/0,4 (n=389) dan kelompok NaCl 0,9% (n=386) yang diberikan cairan sebanyak 250 mL bolus sesuai dengan algoritma resusitasi cairan pada intraoperatif dan diberikan sampai dengan 24 jam pertama post-operatif. Parameter primer yang dinilai adalah mortalitas atau komplikasi mayor post-operatif pada hari ke-14 pasca-operasi operasi, lama tiinggal di ICU dan RS, serta semua penyebab mortalitas pada hari ke-28 dan 90 pasca-operasi.

 

Hasilnya, dari parameter primer menunjukkan 139 dari 389 subjek (36%) pada kelompok HES dan 125 dari 386 subjek (32%) pada kelompok NaCl 0,9% (difference, 3,3% [95% CI, −3,3% sampai 10,0%]; relative risk, 1,10 [95% CI, 0,91-1,34]; p = 0,33). Selain itu dari 12 parameter sekunder, 11 menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna, tetapi secara statistik bermakna yang ditemukan pada median volume cairan yang diberikan pada hari ke-1 1250 mL pada kelompok HES dan 1500 mL pada kelompok NaCl 0,9% p (median difference, 250 mL [95% CI, 83-417 mL]; p = 0,006). Pada hari ke-28 setelah pembedahan, 4,1% dan 2,3% subjek meninggal pada kelompok HES dan kelompok NaCl 0,9% (difference, 1,8% [95% CI, −0,7% sampai 4,3%]; relative risk, 1,76 [95% CI, 0,79-3,94]; p = 0,17).

 

Simpulan:

Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa pasien yang akan menjalani pembedahan abdomen mayor dan mempunyai risiko gagal ginjal pasca-pembedahan tetap dapat diberikan cairan HES 6% 130/0,4 karena tidak ada perbedaan yang bermakna dengan penggunaan cairan NaCl 0,9% terhadap outcome mortalitas ataupun komplikasi lain sampai dengan hari ke-14 setelah pembedahan.

 


Gambar: Ilustrasi (Photo by Anna Shvets from Pexels)

Referensi:

Futier E, Garot M, Godet T, Biais M, Verzilli D, Ouattara A, et al. Effect of hydroxyethyl starch vs saline for volume replacement therapy on death or postoperative complications among high-risk patients undergoing major abdominal surgery the FLASH randomized clinical trial. JAMA. 2020;323(3):225-36. doi:10.1001/jama.2019.20833

 


Share this article
Related Articles
Meta-analisis, Efektivitas dan Keamanan HES 130/0,4 pada Pembedahan Dan Trauma
dr. Laurencia Ardi | 20 Mei 2022
Efek "early vs late" Suplementasi Nutrisi Parenteral Pasien Bedah Abdomen
dr. Laurencia Ardi | 11 Apr 2022
Cadexomer Iodine Efektif Memperbaiki Penyembuhan Luka Kronik
dr. Nugroho Nitiyoso, MBA | 02 Nov 2021
Dexmedetomidine Menurunkan Kejadian Post-operative Delirium
dr. Laurencia Ardi | 22 Okt 2021
Pemberian Granisetron Tunggal untuk Cegah PONV, Apakah Efektif?
dr. Laurencia Ardi | 14 Okt 2021
Penggunaan Dexmedetomidine sebagai Sedasi Pasien COVID-19, Apakah Efektif?
dr. Laurencia Ardi | 28 Sep 2021
Pemberian Atorvastatin dalam Terapi Hematoma Subdural Kronik, Apa Manfaatnya?
dr. Jane Cherub | 15 Jul 2021
Efektivitas Rocuronium dan Succinylcholine pada Operasi Mikrolaringeal, Manakah yang Lebih Baik?
dr. Laurencia Ardi | 24 Jun 2021
Metaanalisis - Negative Pressure Wound Therapy Efektif Menurunkan Risiko Infeksi Pasca Sternotomi
Dr. Nugroho Nitiyoso, MBA. | 14 Jun 2021
Propofol sebagai Sedasi Pasien Sepsis, Bagaimana Efektivitasnya?
dr. Laurencia Ardi | 29 Mar 2021