Detail Article
Kadar Serum Vitamin D Berkorelasi Positif dengan Kualitas Sperma dan Kadar Testosteron pada Pria
dr. Martinova Sari Panggabean
Apr 26
Share this article
07f54cbab041f279c4086522e824bf29.jpg
Updated 27/Apr/2021 .

Saat ini, literatur menyebutkan bahwa vitamin D tampak berperan penting dalam sistem reproduksi pria dan mengaitkan adanya hubungan antara kadar vitamin D dan fertilitas/kesuburan pria. 

Beberapa fakta yang mendukung adanya aksi potensial vitamin D terpada fungsi sperma adalah:

- Reseptor vitamin D (vitamin D receptor/VDR) ditemukan pada spermatogonia (sel induk penghasil spermatozoa), spermatid, spermatozoa/sel sperma (kepala, daerah postacrosomal, leher, dan bagian tengah sperma), sel Leydig (penghasil hormon testosteron), dan sel Sertoli (pemberi nutrisi spermatozoa).

- Enzim metabolik vitamin D (25-hydroxylase, 1a-hydroxylase, and 24-hydroxylase) diekspresikan dalam saluran reproduksi pria dan dalam spermatozoa.

Hipovitaminosis D disebutkan berdampak negatif terhadap fungsi sperma dan hormon pria. Namun, tautan antara defisiensi vitamin D dan kadar hormon androgen serum masih kurang dipahami.


Suatu studi cross-sectional oleh Ciccone, dkk. mengevaluasi pengaruh kadar serum vitamin D terhadap kualitas sperma dan kadar testosteron pada pria normozoospermia dibandingkan pria dengan parameter sperma abnormal. Studi ini melibatkan 508 pasien laki-laki berusia 18-60 tahun, yang mengunjungi pusat infertilitas, hipogonadisme, dan kesehatan pria di Brazil dari 2007 hingga 2017. Pasien dilakukan pemeriksaan kadar serum 25(OH)D, profil hormon seks, dan analisis sperma berdasarkan kriteria WHO. Kriteria eksklusi mencakup riwayat medis sebelumnya (vasektomi bilateral), gaya hidup atau kebiasaan tidak sehat serius yang dapat mempengaruhi kualitas sperma, gangguan fungsi testis (genetik, infeksi, penyakit radang), penggunaan obat sintetis atau terlarang serta terapi terkait kanker. Total jumlah sampel yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 260 pasien.


Pasien dibagi menjadi menjadi dua kategori:

- Normozoospermia (n=124)  : masing-masing konsentrasi, motilitas, dan morfologi sperma termasuk kategori normal.

- Sperma abnormal (n=136)    : ≥1; konsentrasi sperma <15 × 106/mL, jumlah sperma dengan motilitas progresif <32%, dan jumlah sperma dengan morfologi normal <4%.


Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini:

- Prevalensi defisiensi vitamin D secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan parameter sperma abnormal dibandingkan pada pasien normozoospermia (33,1% vs 25%, p<0,001).

- Konsentrasi rata-rata 25(OH)D secara signifikan lebih rendah pada pasien dengan parameter sperma abnormal (p<0,001) dan berkorelasi positif dengan semua parameter dasar sperma dan kadar testosteron total.

- Konsentrasi serum testosteron berkorelasi positif dengan nilai dari tiga parameter sperma; motilitas sperma (β=0,025; p<0,004), motilitas progresif (β=0,020; p<0,009), dan morfologi sperma menurut kriteria WHO (β=0,007; p=0,021).

- Konsentrasi serum vitamin D berkorelasi positif dengan konsentrasi sperma (β=2,103; p<0,001), jumlah sperma yang motil (β=2,571; p=0,015), jumlah sperma dengan motilitas progresif (β=2,069; p=0,003), dan jumlah sperma dengan morfologi normal menurut kriteria Kruger (β=0,056; p=0,006).


Penelitian ini menyimpulkan bahwa kadar serum vitamin D berkorelasi positif dengan kualitas sperma dan kadar testosteron pada pria. Fakta akan adanya aksi endokrin positif yang dimediasi oleh reseptor vitamin D pada testis dan spermatozoa, ditambah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa konsentrasi serum vitamin D berkorelasi positif dengan kualitas sperma dan kadar testosteron, memberi kesan bahwa suplementasi vitamin D menunjukkan peranan potensial dalam meningkatkan kesuburan pria. Oleh karena itu, diperlukan penelitian berskala besar yang lebih lanjut untuk mengeksplorasi potensi terapi suplementasi vitamin D dalam kasus infertilitas pria.

 

Gambar: Ilustrasi (www.pexels.com)

Referensi:

1.   Ciccone IM, Costa EM, Pariz JR, Teixeira TA, Drevet JR, Gharagozloo P, et al. Serum vitamin D content is associated with semen parameters and serum testosterone levels in men. Asian J Androl. 2021;23(1):52-8.

2.   Cito G, Cocci A, Micelli E, Gabutti A, Russo GI, Coccia ME, et al. Vitamin D and male fertility: An updated review. World J Mens Health. 2020;38(2):164-77.

Share this article
Related Articles
Rajin Gosok Gigi, Risiko Diabetes Melitus (Kencing Manis) Berkurang
Admin | 27 Apr 2020
"Benar" Atau "Salah" Terkait Dengan Wuhan Coronavirus, Menurut WHO (2)
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 27 Apr 2020
Apa Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengurangi Risiko Diabetes Di Kemudian Hari?
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 12 May 2020
Penyakit Hati Non-Alkohol, "Epidemia Baru Di Abad 21"
dr. Kupiya Timbul Wahyudi | 12 May 2020
Suplementasi Vitamin D Bermanfaat Mengurangi Frekuensi Kejadian Eksaserbasi PPOK
nugroho nitiyoso | 14 Nov 2018
Vitamin C Menurunkan Risiko Fibrilasi Atrium pada Pasien Pasca-bedah Jantung
Admin | 06 May 2018
Metformin dapat Menurunkan Penyakit Kardiovaskuler pada Pasien Prediabetes, Benarkah?
Admin | 14 Nov 2018
Memahami Penyebab Alergi Susu Sapi Pada Balita
Admin | 15 Nov 2018
Efek Perlindungan Statin terhadap Infeksi Tuberkulosis Aktif
Admin | 18 Nov 2018
FOS Fermentasi Soy Milk vs Inulin dalam Asidifikasi dan Pertumbuhan Probiotik, Lebih Baik Mana?
Admin | 21 Nov 2018