Detail Article
Pemberian Mycophenolate Mofetil pada Sindrom Nefrotik, Bagaimana Efektivitas dan Keamanannya?
dr. Laurencia Ardi
Mar 02
Share this article
f036cccbf22032001fc6d880b9ca4b66.jpg
Updated 25/Feb/2021 .

Pasien steroid-dependent nephrotic syndrome (SDNS) mempunyai frekuensi relaps atau efek samping dengan terapi jangka panjang menggunakan steroid atau siklofosfamid. Penelitian berikut bertujuan menilai efektivitas dan profil efek samping dari terapi mycophenolate mofetil (MMF) pada anak dengan SDNS. 


Desain dan metodenya adalah retrospektif dengan jumlah subjek 87 pasien (perbandingan laki:perempuan = 2:1) yang mendapatkan terapi MMF minimal dalam waktu 1 tahun. Rerata usia terdiagnosis sindrom nefrotik 3 tahun, yang ditemukan secara statistik bermakna terhadap faktor risiko kegagalan dengan MMF. Rerata waktu yang dibutuhkan untuk mengikuti subjek setelah terapi inisiasi MMF adalah 3 tahun dan 3 bulan (95% CI: 1 tahun dan 3 bulan sampai 6 tahun dan 6 bulan).

 

Pada evaluasi awal, 31 pasien (36%) datang dengan SDNS sedangkan sisanya sindrom nefrotik dengan frekuensi relaps yang sering sampai berkembang menjadi SDNS. Siklofosfamid intravena digunakan sebagai pilihan terapi pertama pada 82 pasien, dengan 24 pasien menjadi proteinuria yang persisten sedangkan 58 sisanya mengalami remisi dalam waktu 6 bulan. Rerata waktu yang dibutuhkan untuk terapi dengan MMF adalah 2 tahun 6 bulan (95% CI: 1 tahun dan 3 bulan sampai 4 tahun dan 6 bulan). Rerata dosis MMF yang digunakan 28,5 mg/kgBB.

 

Tujuh puluh dua pasien (83%) sensitif dengan MMF, dan pasien tersebut mengalami penurunan dosis prednisolon dari 1,28 mg/kgBB menjadi 0,35 mg/kgBB (p<0,05). Di antara pasien yang sensitif terhadap MMF, 31 pasien dapat menghentikan MMF setelah minimal 2 tahun konsumsi, diikuti dengan periode remisi selama 5 bulan (95% CI: 1–8 bulan). Kegagalan menggunakan MMF terjadi pada 15 pasien (17%). Efek samping dilaporkan terjadi pada 19 pasien (22%).

 

Berdasarkan penelitian retrospektif, pemberian MMF dengan rerata dosis 28,5 mg/kgBB dapat mencapai remisi pada 83% pasien sindrom nefrotik dan dapat ditoleransi dengan baik.

 

Gambar: Ilustrasi (www.pexels.com)

Referensi:

1. Karunamoorthy S, Thanigachalam D, Jeyachandran D, Ramanathan S, Natarajan G, Thoppalan B. The safety and efficacy of mycophenolate mofetil in     children and adolescents with steroid-dependent nephrotic syndrome: A single-centre study. Clinical Kidney Journal. 2020;13(2):179–83.

2. Afzal K, Bagga A, Menon S. Treatment with mycophenolate mofetil and prednisolone for steroid-dependent nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol. 2007;22:2059–65. 


Share this article
Related Articles
L-carnitine untuk Anemia pada Penderita Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis, Ini Studi Meta-analisisnya
dr. Lyon Clement | 29 Jul 2022
Campuran Obat Antihipertensi dan NSAID Meningkatkan Risiko Terjadinya Gagal Ginjal Akut
dr. Kupiya | 17 Mei 2022
Meta-analisis: Suplementasi Ketoanalogue pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Dialisis Non-Dialisis
dr. Laurencia Ardi | 09 Feb 2022
Efek Ketoanalog terhadap Modulasi Mikrobiota Usus dan Kadar Racun Uremik Serum pada Penyakit Ginjal Kronis
dr. Laurencia Ardi | 18 Nov 2021
Metode Penilaian Estimate GFR Baru Tanpa Memperhatikan Ras, Ini Studinya
dr. Yohanes Jonathan | 16 Nov 2021
Hasil Luaran Ginjal pada Long COVID-19, Bagaimana?
dr. Laurencia Ardi | 14 Sep 2021
Efek HES 6% 130/0,4 dalam Larutan Seimbang dan Albumin 5% terhadap Fungsi Ginjal, Bagaimana Perbandingannya?
dr. Laurencia Ardi | 13 Agt 2021
Kaitan Pemberian Calcitriol dengan Tingkat Keparahan dan Mortalitas COVID-19 pada Pasien PGK
dr. Esther Kristiningrum | 02 Jun 2021
Roxadustat untuk Pengobatan Anemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Non-Dialisis
dr. Laurencia Ardi | 25 Mei 2021
Penggunaan Eculizumab untuk Transplantasi Ginjal pada Penderita HUS
Dr. Laurencia Ardi | 09 Feb 2021