Detail Article
Grand Kalbe Academia 2019 "Cardio Cerebro Vascular"
Dokter Kalbemed
Jan 22
Share this article
img-GKA-2019.JPG
Updated 22/Mei/2020 .

Pada hari Sabtu, 19 Januari 2019, bertempat di Hotel Sheraton Gandaria City, telah berlangsung acara Grand Kalbe Academia dengan topik: “Cardio Cerebro Vascular”. Acara yang rutin dilakukan ini dihadiri tak kurang dari 300 peserta yang sebagian besar pesertanya adalah dokter spesialis Jantung dan Saraf.

Pada hari Sabtu, 19 Januari 2019, bertempat di Hotel Sheraton Gandaria City, telah berlangsung acara Grand Kalbe Academia dengan topik: “Cardio Cerebro Vascular”. Acara yang rutin dilakukan ini dihadiri tak kurang dari 300 peserta yang sebagian besar pesertanya adalah dokter spesialis Jantung dan Saraf.

 

Acara diawali dengan pelaksanaan workshop di pagi hari, dan dibawakan secara menarik berupa pembahasan kasus oleh pembicara yang ahli di bidangnya, seperti topik mengenai “Anticoagulant in Atrial Fibrillation” oleh dr. I Made Putra SA, Sp.JP, dr. Dicky Armein H, Sp.JP(K), FIHA, dan dr. Frits Sumantri U, Sp.S, FINS. Pada sesi pertama, dr. Putra membahas mengenai penggunaan antikoagulan pada pasien dengan atrial fibrillation (AF). Disebutkan bahwa saat ini penggunaan NOAC (New Oral Anticoagulants) merupakan pilihan pertama terapi AF, di antaranya apixaban, dabigatran, edoxaban, rivaroxaban. Dr. Putra juga memaparkan beberapa hasil studi yang menyatakan keunggulan NOAC dibandingkan warfarin dalam hal pencegahan stroke dan kejadian perdarahan. Ditegaskan bahwa terapi diberikan dengan melihat kondisi pasien dan melihat beberapa faktor risiko, seperti risiko terjadinya aterotrombosis, kardioembolik, dan perdarahan, adanya gangguan fungsi ginjal dan liver. Pemberian antikoagulan pada pasien risiko tinggi juga dibahas oleh dr. Dicky. Pada sesi ketiga, dr. Frits membahas mengenai penggunaan awal antikoagulan pada pasien stroke non-hemoragik.

 

Pada sesi workshop lainnya, tak kalah menarik topik yang dibawakan mengenai “Anticoagulant in Venous Thromboembolism” oleh Dr. dr. Ismoyo Sunu, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, dr. Suko Adiarto, Sp.JP(K), Ph.D, dan dr. Taofan Siddiq, Sp.JP(K). Di sini peserta kembali diingatkan perbedaan antara deep vein thrombosis (DVT) dan pulmonary embolism (PE) dan bagaimana mendiagnosis DVT dan PE sejak awal menggunakan Wells Score hingga pemeriksaan menggunakan CT angiografi. Jika diagnosis sudah ditegakkan maka dapat diberikan pengobatan NOAC yang diawali dengan pemberian low-molecular-weight heparin selama 1 minggu.

 

Setelah jam makan siang, acara masuk ke puncaknya yaitu simposium yang diawali dengan opening ceremony. Acara dibuka oleh Bpk. Michael Buyung Nugroho selaku Pharma Directur PT Kalbe Farma Tbk., dr. Dicky Armein H, Sp.JP(K), FIHA selaku ketua Indonesia Heart Rhythm Society (InaHRS), dan Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S(K). Acara ini juga sekaligus sebagai moment launching-nya produk baru Kalbe, yaitu Lixiana (edoxaban), yang merupakan salah satu obat NOAC.

 

Setelah opening ceremony, masuk ke topik simposium yang menarik, yaitu: “Stroke Prevention in Atrial Fibrillation Guideline Update” oleh dr. Erika Maharani, Sp.Jp(K), FIHA, “Secondary Prevention of Embolic Stroke in Non Valvular Atrial Fibrillation” oleh Dr. dr. Dwi Pudjonarko, M.Kes, Sp.S(K), dan “Best Practice of Anticoagulant in Frail Patients” oleh dr. Alexander Edo T, Sp.JP. Dr. Erika mengingatkan akan tujuan penanganan pasien AF yang diharapkan, seperti stabilitas hemodinamik, penurunan risiko kardiovaskuler, pencegahan stroke, perbaikan gejala dan fungsi jantung, dan perbaikan gejala secara keseluruhan. Selain itu, penilaian pasien non-valvular AF dengan CHA2DS2-VASc Score (congestive heart failure [1 poin], hypertension [1 poin], age 75 years or older [2 poin], diabetes mellitus [1 poin], previous stroke, transient ischaemic attack, or thromboembolism [2 poin], vascular disease [1 poin], age 65-74 years [1 poin], female [1 poin]), di mana jika poin ≥2 sudah masuk ke kategori risiko tinggi, kecuali yang terpenuhi hanya female.

 

Tak ketinggalan, panel discussion dengan topik: “Comprehensive Approach of Anticoagulant All NOACs are not Created Equally: How Does Exodaban Compare to Other NOACs?” oleh dr. Sunu Budhi R, Sp.JP(K), Ph.D, Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S(K), dan Dr. dr. Muhammad Yamin, Sp.JP(K), FIHA, FACC, FSCAI. Antusiasme peserta tampak dari banyaknya pertanyaan yang diajukan baik secara langsung maupun melalui aplikasi Slido. Sampai bertemu di acara Grand Kalbe Academia berikutnya…! (Red.)

Share this article
Related Articles
Kekurangan Vitamin D Dikaitkan dengan Risiko Diabetes Gestasional
dr. Esther Kristiningrum | 28 Sep 2022
Efikasi Kombinasi Etoricoxib dan Olahraga dalam Pengobatan Ankylosing Spondylitis
dr. Johan Indra Lukito | 29 Sep 2022
Kadar Protein C-Reaktif Dapat Memprediksi Keberhasilan Terapi SSRI
dr. Kupiya | 27 Sep 2022
Manfaat Vitamin dan Penyakit Parkinson, Sebuah "Umbrella Review" dari Meta-analisis & Tinjauan Sistematik
dr. Kupiya | 26 Sep 2022
Infeksi Serius pada Paruh Baya Berhubungan dengan Alzheimer dan Penyakit Parkinson Lebih Awal
dr. Kupiya | 23 Sep 2022
Eflapegrastim Disetujui oleh US FDA untuk Menurunkan Kejadian Infeksi dengan Demam Neutropenia
dr. Hastarita Lawrenti | 22 Sep 2022
Efektivitas dan Keamanan PEG 3350 Lebih Baik Dibanding Laktulosa pada Konstipasi Fungsional Anak
dr. Josephine Herwita | 21 Sep 2022
Pemanis Buatan, Adakah Korelasinya Dengan Penyakit Kardiovaskuler?
dr. Kupiya | 20 Sep 2022
Vitamin atau Kakao, Mana yang Mampu Menghambat Penurunan Kognitif?
dr. Kupiya | 19 Sep 2022
Kesehatan Periodontal Berhubungan dengan Risiko Penurunan Kognitif dan Demensia
dr. Kupiya | 16 Sep 2022