Detail Article
Pedoman Praktis Tatalaksana Nutrisi Covid-19 di ICU
dr. Dedyanto Henky Saputra
Sep 29
Share this article
f3ebd647342535741c52f7238259d7bb.jpg
Updated 28/Sep/2020 .

Penilaian dan manajemen nutrisi secara dini pada pasien COVID-19 harus diintegrasikan sebagai bagian strategi terapeutik seperti halnya pada pasien COVID-19 dengan kondisi kritis (pasien yang dirawat di ICU). 

Panduan berikut ini disusun berdasarkan rekomendasi internasional dan dimaksudkan untuk membantu klinisi ICU dalam mengoptimalkan manajemen nutrisi pasien COVID-19, terutama yang menderita ARDS (acute respiratory distress syndrome).

 

Berdasarkan rekomendasi European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN) tentang manajemen nutrisi di ICU, berikut ini adalah poin-poinnya:

  1. Pasien COVID-19 harus dipertimbangkan sebagai pasien malnutrisi terutama bagi pasien dengan komorbid penyakit kronik (misalnya kanker, kegagalan fungsi organ, obesitas, diabetes).
  2. Evaluasi status gizi menggunakan metode Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM), yang telah disesuaikan dengan kondisi COVID-19. Menurut kriteria GLIM, pasien mengalami malnutrisi jika memiliki setidaknya satu kriteria fenotipe dan setidaknya satu kriteria etiologi. Kriteria fenotipe adalah indeks massa tubuh <20 (atau <22 jika usia ≥ 70 tahun) atau penurunan berat badan> 5% dalam 6 bulan terakhir atau >10% melebihi 6 bulan atau berkurangnya massa otot; Kriteria etiologi adalah pengurangan asupan makanan (≤50% dalam >1 minggu atau penurunan asimilasi makanan [malabsorpsi atau riwayat operasi saluran cerna sebelumnya] atau penyakit / cedera akut / inflamasi terkait penyakit kronik).
  3. Indirect calorimetry sebaiknya dilakukan hanya untuk pasien yang dirawat lebih dari 10 hari di ICU atau mereka yang mendapat nutrisi parenteral total (TPN) untuk menghindari overfeeding.
  4. Sindrom refeeding (RS) dan komplikasi terkait penggunaan propofol harus dicegah.
  5. Pemberian dengan jalur nutrisi enteral (EN) harus lebih diutamakan daripada nutrisi parenteral (PN) dan dimulai dalam 48 jam setelah pasien masuk rumah sakit. Formula EN dalam bentuk polimerik harus digunakan. Jika pemberian EN polimerik dikaitkan dengan diare, barulah bentuk oligomerik dapat diberikan sebagai nutrisi lini kedua. Tidak ada indikasi khusus bagi arginin untuk diberikan pada pasien ICU COVID-19. Meta-analisis melaporkan bahwa arginin meningkatkan mortalitas pada pasien sepsis dan pneumonia, sehingga arginin sebaiknya tidak digunakan pada pasien COVID-19.
  6. Pemberian EN melalui sonde lambung umumnya dimungkinkan untuk dilakukan, termasuk untuk pasien dalam posisi prone/tengkurap, dan sebaiknya EN diberikan dengan pompa yang memiliki pengatur kecepatan aliran. Tidak ada bukti bahwa pasien COVID-19 dengan riwayat diare, sakit perut, mual, dan muntah harus dikontraindikasikan untuk EN.
  7. PN diindikasikan jika EN tidak mungkin, kontraindikasi, atau tidak mencukupi dan harus dinilai kasus per kasus.
  8. Penggunaan EN yang diperkaya dengan asam lemak omega-3 direkomendasikan jika terjadi ARDS. Efek imunoregulator dari EPA dan DHA memiliki manfaat dalam mengatasi badai sitokin pada SARS-CoV-2 dengan ARDS. Rekomendasi menyarankan agar EN yang diperkaya dengan 3,5 g/hari EPA dan DHA dapat diberikan pada kasus ini. Jumlah yang lebih tinggi hingga 9 g/hari telah diberikan dengan profil kemamanan yang baik. Emulsi lemak intravena dengan kandungan minyak ikan direkomendasikan diberikan jika PN diperlukan.
  9. Setelah ekstubasi, dukungan nutrisi mendorong pemulihan dan rehabilitasi pasien, serta harus dilanjutkan sampai pasien mendapatkan asupan oral yang cukup.
  10. Aktivitas fisik harus ditingkatkan untuk mempertahankan massa dan fungsi otot. Mobilisasi di samping tempat tidur membantu menjaga cadangan dan fungsi otot serta meningkatkan pemulihan. Mobilisasi akan diintensifkan segera setelah perbaikan klinis memungkinkan.


Image: Ilustrasi

Referensi :

Thibault R, Seguin P, Tamion F, Pichard C, Singer P. Nutrition of the COVID-19 patient in the intensive care unit (ICU): a practical guidance. Crit Care. 2020;24(1):447. Published 2020 Jul 19. doi:10.1186/s13054-020-03159-z

Share this article
Related Articles
Suplementasi Zinc Menurunkan Penanda Inflamasi dan Stres Oksidatif
Dr. Della Sulamita Mahendro | 25 Nov 2021
Suplemen Multivitamin Membantu Memperlambat Penurunan Kognitif
dr. Esther Kristiningrum | 23 Nov 2021
Suplementasi Vitamin D dan Omega-3 Menurunkan Risiko Penyakit Autoimun
dr. Esther Kristiningrum | 17 Nov 2021
Mecobalamin Berpotensi Menghambat Replikasi Virus COVID-19 Yang Kuat
dr. Lupita Wijaya | 15 Nov 2021
Pemberian Vitamin C pada Hiperpigmentasi Gusi, Sebaiknya dengan Mesoterapi atau Gel Topikal?
dr. Devina Ciayadi | 11 Nov 2021
Manfaat Zinc pada Kondisi Pre-Diabetes, Memperbaiki Parameter Glikemik dan Lemak
dr. Esther Kristiningrum | 10 Nov 2021
Omega 3 Memperbaiki Status Gizi dan Inflamasi Pasien Kanker Paru
dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi | 08 Nov 2021
Kurangnya Vitamin D Selama Hamil Meningkatkan Risiko Berat Badan Lahir Rendah
dr. Martinova Sari Panggabean | 01 Nov 2021
Defisiensi Vitamin D Menjadi Faktor Risiko Sindrom Mata Kering
dr. Esther Kristiningrum | 03 Nov 2021
Omega-3 pada Pasien DM, Menurunkan Gula Darah Puasa dan Resistensi Insulin
dr. Martinova Sari Panggabean | 25 Okt 2021