Detail Article
Hubungan Gut Dysbiosis dan Imunodeplesi terhadap Risiko Pneumonia Fatal Pasien Covid-19, Bagaimanakah?
Lupita Wijaya
Jul 20
Share this article
0cd4a644c8de93a879e049d8ba5e6c67.jpg
Updated 30/Jul/2020 .

Selain memelihara kesehatan sistem pencernaan, mikrobiota atau probiotik juga berperan penting dalam perkembangan fungsi sistem imun. Pada individu sehat, ada keseimbangan pada respons bidireksional/dua arah antara mikroflora dan sistem imun tubuh. 

Selain memelihara kesehatan sistem pencernaan, mikrobiota atau probiotik juga berperan penting dalam perkembangan fungsi sistem imun. Pada sistem imun innate (awal, cepat, dan nonspesifik), mikrobiota dapat menstimulasi sel-sel B di usus untuk teraktivasi dan melepaskan beberapa sitokin seperti IL-4, IL-13, IL-5, dan IL-10. Sedangkan pada sistem imun adaptif (lanjutan, lambat, dan spesifik), mikrobiota dapat menstimulasi proses diferensiasi sel-sel T-helper menjadi Th1 untuk imunitas seluler dan Th2 untuk imunitas humoral.

Pada individu sehat, ada keseimbangan pada respons bidireksional/dua arah antara mikroflora dan sistem imun tubuh. Ketidakseimbangan pada hubungan simbiotik ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti inflammatory bowel diseases dan gangguan di luar usus/pencernaan, termasuk gangguan metabolik. Peningkatan permeabilitas usus berhubungan dengan peningkatan hiper-permeabilitas kapiler alveolus. Ketika usus menjadi hiper-permeabel, bakteri dapat bertranslokasi melalui dinding kolon/usus besar dan mencapai paru, sehingga mengakibatkan terjadinya proses inflamasi, infeksi, dan berakhir dengan kerusakan paru akut.

Terdapat suatu hubungan antara paru dan usus yang masih belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa mikroorganisme di paru, berasal dari usus. Persamaan mikrobiota usus-paru ini menjadi dasar termodulasinya kemampuan mikrobiota paru, termasuk aktivitas imunologinya. Kesehatan paru terjaga melalui beberapa elemen yang dilakukan oleh mikrobiota: produksi lipo-polisakarida, produksi zat metabolit seperti SCFA (asam lemak rantai pendek), serta migrasi sel-sel imun (terutama sel-sel T) dari usus ke paru melalui sirkulasi darah. Oleh karena itu, pasien dengan infeksi pernapasan, umumnya memiliki komplikasi disfungsi pencernaan yang berkaitan dengan gejala klinis yang lebih buruk dalam jalur gut-lung axis.

Pada studi Yu L, et al, di Wuhan, terdapat korelasi antara penurunan jumlah probiotik di usus, kadar sel-sel imun, dan keparahan hipoksemia pada 3 pasien Covid-19. Para peneliti menemukan bahwa 3 pasien memiliki penurunan sel-sel imun dan hipoksemia refrakter selama hospitalisasi, dan keparahan hipoksemia berkorelasi kuat terhadap tingkat ekspresi sel-sel imun. Adapun tambahannya bahwa peneliti juga menemukan proporsi probiotik yang menurun secara signifikan, seperti Bifidobacterium, Lactobacillus, dan Eubacterium, sedangkan proporsi bakteri patogen meningkat secara signifikan, seperti Corynebacterium of Actinobacteria dan Ruthenibacterium of Firmicutes. Semua pasien tersebut diketahui meninggal dunia. Lingkaran setan antara gangguan imunitas dan disbiosis usus, dapat menjadi suatu faktor risiko tinggi terjadinya pneumonia fatal. Peneliti menyarankan adanya intervensi sejak dini pada sistem imun host dan mikrobiota pencernaan, yang dibutuhkan untuk pasien Covid-2019 dengan hipoksia refrakter.

Pada studi kasus Mazza S, et al, di Italia, seperti yang telah dilaporkan, bahwa keparahan covid-19 secara langsung berkorelasi dengan usia pasien dan beberapa komorbiditas (terutama penyakit gastrointestinal). Dengan demikian, suatu kasus fatal pneumonia covid-19 terjadi pada pasien dengan kolitis ulseratif akut berat. 

 

Silakan baca juga: Rillus, produk yang mengandung kombinasi dari 3 jenis spesies probiotik hidup dan FOS (fruktooligosakarida) sebagai prebiotik. 

Image : Ilustrasi (sumber: https://www.culturelle.com/)

Referensi:

1. Mishra P, Mishra SK. Role of microbial flora and probiotics in host immune homeostasis. Journal of Applied Pharmaceutical Science. 2018;8(10):136-49.

2. Yu L, Tong Y, Shen G, Fu A, Lai Y, Zhou X et al. Immunodepletion with hypoxemia: A potential high risk subtype of coronavirus disease 2019. MedRxiv. 2020.

3. Xu K, Cai H, Shen Y, Ni Q, Chen Y, Hu S et al. Management of corona virus disease-19 (COVID-19): The Zhejiang experience. Zhejiang Da XueXueBao Yi Xue Ban. 2020;49(1):0.

4. Fanos V, Pintus MC, Pintus R, Marcialis MA. Lung microbiota in the acute respiratory disease: From coronavirus to metabolomics. Journal of Pediatric and Neonatal Individualized Medicine. 2020;9(1):e090139.

5. Mazza S, Sorce A, Peyvandi F, Vecchi M, Caprioli F. A fatal case of covid-19 pneumonia occurring in a patient with severe acute ulcerative colitis. Gut. 2020;69(6):1148-9.

Share this article
Related Articles
Metformin Menurunkan Mortalitas dan Morbiditas Diabetes Mellitus Usia Lanjut.
Pande Dharma Pathni | 20 Nov 2018
Suplementasi Zinc Membantu Penyembuhan Ulkus Diabetes
nugroho nitiyoso | 27 Nov 2018
Trastuzumab plus Docetaxel untuk Karsinoma Saluran Saliva HER2 Positif
dr. Hastarita Lawrenti | 13 Dec 2018
Metformin Mempengaruhi Komposisi Mikrobiota Saluran Cerna
Dokter Kalbemed | 28 Jan 2019
Efikasi Asam Traneksamat Topikal dan Injeksi pada Melasma
dr. Angeline Fanardy | 21 Feb 2019
Perbandingan Preparat Besi Sukrosa Injeksi dengan Besi Fumarat per Oral pada Wanita Hamil dengan Anemia
Laurencia Ardi | 28 Feb 2019
Pasien DM Tipe 2 Mempunyai Kadar Vitamin C Rendah
Esther Kristiningrum | 03 Mar 2019
Piperacillin/tazobactam untuk Anak dengan Demam Neutropenia
dr Johan Indra Lukito | 11 Mar 2019
Kombinasi Sinbiotik – Sitagliptin Bermanfaat pada Pasien Perlemakan Hati Non-alkohol (NAFLD)
Lupita Wijaya | 11 Mar 2019
Suplemen Asam Amino Glutamin dapat Memperbaiki Gejala Sakit Pencernaan IBS, Benarkah?
Dokter Kalbemed | 13 Mar 2019