Detail Article
Penggunaan Pregabalin Preoperatif Efektif dalam Mengontrol Ansietas pada Pasien yang akan Menjalani Operasi
dr. Allen
Mar 02
Share this article
398edf7c46f72e60199e7f2db0b20763.jpg
Updated 06/Mar/2023 .

Ansietas pre-operasi terjadi pada satu dari enam orang dewasa yang akan menjalani operasi. Komponen kecemasan termasuk perasaan khawatir, takut, atau kesedihan yang intens saat menghadapi ancaman, keadaan iritabilitas yang dapat menyebabkan hilangnya kemampuan berkonsentrasi, dan serangkaian gejala somatik yang bervariasi seperti berkeringat, palpitasi, kelelahan, sering buang air kecil, sakit kepala, mialgia, insomnia, dan mual.


Benzodiazepine umumnya diresepkan sebagai ansiolitik pre-operasi, namun obat ini berkaitan dengan efek samping seperti, pusing, mengantuk, ataupun depresi pernapasan. Hal ini menyebabkan pregabalin yang termasuk dalam golongan gabapentinoid dipertimbangkan menjadi obat alternatif ansiolitik. Pregabalin merupakan adalah analog struktural dari neurotransmitter penghambat asam gamma-aminobutyric (GABA) yang memiliki sifat antikonvulsan, ansiolitik, dan antihiperalgesik. Pregabalin dapat mengurangi rangsang neurotransmitter, memblokir hiperalgesia, dan pusat sensitisasi. Terdapat beberapa laporan mengenai efektivitas pregabalin pada operasi untuk nyeri pasca-operasi akut, mengontrol kecemasan pra operasi, dan mengurangi konsumsi opioid.

 

Torres-González, et al, melakukan tinjauan sistematik yang meneliti efektivitas pregabalin pre-operatif dalam menurunkan ansietas, perubahan hemodinamik intraoperatif, dan tingkat sedasi. Penelitian ini menggunakan 12 randomized controlled trial (RCT) dengan total 1.007 peserta yang terbagi dalam kelompok terapi dan kontrol. Dosis pregabalin yang digunakan bervariasi antara 75 mg- 300 mg yang diberikan 1 jam sebelum operasi pada 11 studi, dan 4 jam sebelum operasi pada 1 studi yang dilakukan oleh Nutt, et al.


Studi ini menilai ansietas menggunakan visual analog scale-anxiety (VAS-anxiety), perubahan hemodinamik menggunakan heart rate (HR) atau mean arterial pressure (MAP), dan tingkat sedasi menggunakan VAS-sedation atau Ramsay sedation score (RSS). Seluruh penelitian menyimpulkan korelasi positif pemberian pregabalin pre-operasi dengan dosis ≥150 mg dengan nilai VAS-anxiety yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kontrol. Tingkat sedasi (skor VAS-sedation atau RSS) lebih baik pada pasien yang mendapat premedikasi pregabalin ≥150 mg.

 

Beberapa studi yang menganalisis perubahan hemodinamik menunjukkan perbaikan nilai MAP dan HR yang signifikan secara statistik pada pasien yang menerima premedikasi pregabalin dengan dosis ≥150 mg. Rastogi, et al, dan Sundar, et al, mengamati bahwa efek hemodinamik yang stabil ini lebih nyata pada 1 jam setelah pemberian pregabalin dan secara bertahap menurun selama 3 jam berikutnya. White, et al, mengamati bahwa penggunaan dosis pregabalin yang lebih tinggi (300 mg) memberi efek sedasi pre-operatif yang lebih kuat, namun berkaitan  dengan efek samping yang lebih sering.

 

Kejadian efek samping yang terjadi pada penelitian ini adalah pusing, somnolen, mual, dan muntah yang serupa dan tidak parah pada semua kelompok studi. Tidak ada laporan depresi pernapasan yang berkaitan dengan penggunaan pregabalin pada seluruh penelitian. Namun, efek samping ini dapat dianggap bias karena penggunaan obat anestesi umum juga dapat menyebabkan hal tersebut.

 

Kesimpulan:

Pregabalin dapat digunakan sebagai terapi pre-operatif untuk mengontrol ansietas pada pasien yang akan menjalani operasi. Penggunaan dosis pregabalin pre-operasi yang efektif adalah 150 mg dosis oral tunggal dan diberikan setidaknya 1 jam sebelum operasi. Penggunaan pregabalin dengan dosis lebih tinggi berpotensi meningkatkan efek samping obat.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Anna Shvets - Pexels)

Referensi:

Torres-González MI, Manzano-Moreno FJ, Vallecillo-Capilla MF, Olmedo-Gaya MV. Preoperative oral pregabalin for anxiety control: A systematic review. Vol. 24, Clinical Oral Investigations. Springer; 2020. p. 2219–28.


Share this article
Related Articles
Botulinum Toxin dapat Memperbaiki Asimetris Kelumpuhan Wajah
dr. Della Sulamita | 27 Feb 2023
Penggunaan Donepezil Lebih Awal dapat Memperbaiki Fungsi Memori pada Pasien Parkinson
dr. Allen | 20 Jan 2023
Manfaat Vitamin dan Penyakit Parkinson, Sebuah "Umbrella Review" dari Meta-analisis & Tinjauan Sistematik
dr. Kupiya | 26 Sep 2022
Infeksi Serius pada Paruh Baya Berhubungan dengan Alzheimer dan Penyakit Parkinson Lebih Awal
dr. Kupiya | 23 Sep 2022
Vitamin atau Kakao, Mana yang Mampu Menghambat Penurunan Kognitif?
dr. Kupiya | 19 Sep 2022
Kesehatan Periodontal Berhubungan dengan Risiko Penurunan Kognitif dan Demensia
dr. Kupiya | 16 Sep 2022
Penggunaan Obat Kombinasi Dextromethorphan dan Bupropion Efektif dalam Terapi Gangguan Depresi Mayor
dr. Allen | 07 Sep 2022
Atogepant Efektif sebagai Terapi Migrain Episodik pada Dewasa
dr. Allen | 12 Agt 2022
Potensi Citicoline sebagai Terapi Neuroprotektif yang Menjanjikan pada Anak Pasca-henti Jantung
dr. Allen | 04 Jul 2022
Statin Berpotensi Menurunkan Risiko Parkinsonisme
dr. Kupiya | 13 Apr 2022