Detail Article
Coenzyme Q10 Meredakan Gejala Lelah, Ini Studi Meta-analisisnya
dr. Lyon Clement
Jan 12
Share this article
4544c44dc36bb575af918b4ea9db12b7.jpg
Updated 17/Jan/2023 .

Suatu ulasan sistematik dan meta-analisis dilakukan untuk menginvestigasi efek terapi coenzyme Q10 (CoQ10) untuk gejala dan sindrom lelah. Sejumlah 13 uji klinik mencakup 1.126 subjek diikutsertakan dalam analisis akhir. CoQ10 menunjukkan penurunan gejala lelah yang signifikan secara statistik. Arah hubungan antara penggunaan CoQ10 dan gejala lelah ini konsisten pada subkelompok subjek sehat dan subjek dengan penyakit. 

Lelah, gejala yang dapat terjadi baik pada individu sehat maupun sakit, dideskripsikan sebagai keletihan luar biasa yang tidak dapat dijelaskan secara fisiologis berkaitan dengan usaha fisik atau mental dan yang tidak cukup pulih dengan istirahat dan tidur secara teratur. Prevalensi lelah yang bersifat sementara berkisar antara 4%-45%, sementara lelah kronis (lelah dengan durasi lebih dari 6 bulan) berkisar antara 2%-11% pada populasi umum.

 

Walaupun penyebab lelah tidak diketahui secara pasti, disfungsi mitokondria dan keadaan proinflamatorik dapat memiliki peran dalam terjadinya lelah. Coenzyme Q10 (CoQ10) adalah antioksidan larut lemak dan komponen esensial dari sistem transpor elektron mitokondria yang diproduksi secara endogen oleh tubuh manusia. Dibandingkan subjek sehat, pasien dengan sindrom lelah kronis cenderung memiliki kadar CoQ10 plasma yang lebih rendah. Ditemukan pula bahwa kadar CoQ10 dan keparahan gejala lelah memiliki hubungan yang berbanding terbalik dan signifikan secara statistik, serta suplementasi CoQ10 telah berhasil menurunkan gejala lelah pada pasien dengan berbagai kondisi, termasuk sindrom lelah kronis.


Suatu ulasan sistematik dan meta-analisis dilakukan untuk menginvestigasi efek terapi CoQ10 terhadap gejala dan sindrom lelah. Pencarian elektronik secara independen dilakukan oleh dua peneliti pada database PubMed, Embase, Cochrane CENTRAL, Web of Science, dan ClinicalTrials.gov. Pencarian dilakukan mulai adanya database tersebut hingga tanggal 16 Januari 2022. PICO (population, intervention, comparison, outcome) untuk meta-analisis ini adalah: P: manusia; I: suplementasi CoQ10; C: plasebo; dan O: perubahan pada skor gejala lelah.

 

Kriteria inklusi studi adalah:

1) Uji klinik acak (randomized controlled trial/RCT) yang mengikutsertakan subjek manusia

2) RCT yang menginvestigasi gejala lelah secara kuantitatif sebelum dan sesudah suplementasi CoQ10

3) Uji klinik dengan pembanding plasebo (tanpa batasan usia ataupun durasi terapi)

4) Uji klinik dengan data yang tersedia untuk penilaian gejala lelah sebelum dan sesudah intervensi dengan perubahan skor gejala lelah.

 

Studi open-label juga diikutsertakan dalam meta-analisis ini berdasarkan temuan dari penelitian terkini bahwa hasil dari suatu studi open-label memiliki efikasi yang serupa dengan studi tersamar ganda.

 

Kriteria eksklusi studi adalah:

1) Bukan RCT

2) Studi yang memfokuskan pada kelelahan otot atlet, bukan lelah secara umum

3) Studi yang tidak memiliki kelompok pembanding berupa plasebo

4) Studi yang tidak menilai lelah secara kuantitatif

5) Studi yang mengikutsertakan subjek yang juga ikut serta dengan uji linik lain yang sebelumnya dipublikasikan.

 

Keluaran primer yang dievaluasi pada penelitian ini adalah perubahan skor gejala lelah pasca-suplementasi CoQ10 atau plasebo. Keluaran sekunder yang dievaluasi pada penelitian ini adalah kejadian yang tidak diinginkan (KTD) yang berhubungan dengan terapi.

 

Hasilnya, sejumlah 13 uji klinik yang mencakup 1.126 subjek dengan usia rerata 49,3 ┬▒ 12,6 tahun diikutsertakan dalam analisis akhir. Durasi studi berkisar antara 4-24 minggu. Diagnosis subjek antara lain sindrom lelah kronis, fibromialgia, gagal jantung tahap akhir, obesitas, kanker payudara (pasien yang menjalani kemoterapi), gagal ginjal tahap akhir, poliomielitis, dan sklerosis multipel. Individu sehat dengan gejala lelah juga dievaluasi.

 

Tiga studi mengevaluasi CoQ10 yang diberikan dalam campuran dengan zat aktif lain. Lebih spesifik lagi, CoQ10 yang diberikan bersama nicotinamide adenine dinucleotide (NADH) tereduksi dievaluasi dalam 2 dari studi tersebut, sedangkan CoQ10 yang diberikan dalam bentuk minuman bernutrisi dengan multivitamin dievaluasi pada 1 studi lainnya. Sepuluh uji klinik lainnya mengevaluasi pemberian CoQ10 tunggal. Berdasarkan analisis metodologi 46,2% studi yang dievaluasi memiliki risiko bias yang rendah, sementara 53,8% studi memiliki risiko bias menengah.

 

Berdasarkan analisis terhadap keseluruhan 13 studi, CoQ10 menunjukkan penurunan gejala lelah yang signifikan secara statistik. Analisis sensitivitas dilakukan dengan menggunakan metode one-study removal. Hasil analisis secara konsisten menunjukkan efek CoQ10 yang signifikan untuk menurunkan gejala lelah. Analisis meta-regresi dilakukan untuk menilai apakah dosis harian dan durasi terapi CoQ10 dapat mempengaruhi penurunan gejala lelah. Baik dosis harian maupun durasi berkorelasi dengan penurunan gejala lelah yang lebih besar. Di antara 602 subjek yang diterapi dengan CoQ10, hanya satu subjek yang mengeluhkan kejadian yang tidak diinginkan (masalah saluran cerna).

 

Kesimpulan

CoQ10 menunjukkan efek meringankan gejala lelah yang signifikan secara statistik dibandingkan plasebo. Efek tersebut berkorelasi dengan dosis harian dan durasi terapi.

 


Gambar: Ilustrasi

Referensi:

Tsai IC, Hsu CW, Chang CH, Tseng PT, Chang KV. Effectiveness of coenzyme Q10 supplementation for reducing fatigue: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Front Pharmacol. 2022;13:1-13.



Share this article
Related Articles